Menjadi runner-up di Syed Modi International (Grand Prix Gold) membuat publik bulutangkis di Tanah Air heboh. Ya, adalah pemain muda non-unggulan bernama Gregoria Mariska. Ia langsung mendapat sambutan hangat dari masyarakat Indonesia.

Jelas saja masyarakat sangat mengapresiasi prestasinya; meski tidak bisa menjadi sang nomor 1. Sambutan masyarakat seperti tercermin lewat social media itu pada dasarnya adalah sebuah kerinduan akan keberhasilan. Kegagalan demi kegagalan terasa menyesakkan dada. Paceklik gelar juara itu dirasakan sudah mencekik leher.

Tentu saja membuat masyarakat cukup heboh. Maklum, pemain yang membuat berita itu bukan Tontowi Ahmad dan/atau Liliyana Natsir atau Hendra Setiawan dan/atau Mohammad Ahsan, yang merupakan juara dunia. Kali ini pengukir prestasi cemerlang adalah tunggal putri, Gregoria Mariska. Sebagai pemain yang masih berada di level junior dan tidak diunggulkan, apa yang dia catatkan sangat menggembirakan masyarakat. Bak mendapat setetes air di gurun pasir.

Apalagi sesungguhnya dia tidak diberikan target muluk. Tentu pembuktian dirinya sangatlah menakjubkan!

Apa yang dilakukan pasukan Cipayung di Lucknow itu membanggakan. Namun sebenarnya bisa dibilang hanya percikan api kecil. Belum merupakan api besar yang bisa membakar dan menghanguskan semua lawan. Tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkan momentum ini. Kalau gagal, besar kemungkinan percikan api kecil ini akan redup dan mati. Artinya bulutangkis Indonesia harus terus kesulitan meraih gelar 🙁

Advertisement

Sebaliknya, kalau api kecil yang dibuat Jorji (begitu sapaan akrab Gregoria) ini bisa dijaga, tentu hasilnya akan positif. Apalagi kalau bisa terus dikipas dan ditiup lewat pembinaan di Cipayung secara intensif dan penuh inovasi. Harapan akan kembalinya supremasi bulutangkis Indonesia sangat besar!

Kalau itu semua terjadi, jangankan pemain lapis satu, pasukan muda non-unggulan pun tidak merasa keder lagi bila bertemu Lee Chong Wei, Lin Dan, Carolina Marin atau pemain top dunia lainnya. Pasalnya salah satu kendala kegagalan kita selama ini karena pemain mengidap apa yang disebut mental barrier. Belum apa-apa, kalau bertemu pebulutangkis top, pemain kita sudah grogi dan takluk sebelum permainan dimulai.

Yuk, kita belajar bersama dari pengalaman ini. Buktikanlah bahwa diri kalian bisa melampaui batas kalian sendiri. Jangan berputus asa, coba dan taklukan tantangan hidup ini!