Kita mungkin tidak seperti pasangan lainnya, tapi aku tau saat ini kita sedang sama-sama berjuang untuk hubungan kita yang lebih serius. Aku tak peduli bagaimana penilaian mereka yang menganggap aku menyia-nyiakan waktu berlama-lama dengan aplikasi sosmed: BBM, Chatting, SMS, dan via telp.

Sejauh ini kita yang telah menjalin hubungan cukup lama, terkadang bisa salah paham. Seperti saat ini aku harus bersahabat dengan situasi baru karena awal Januari kamu memasuki dunia kerja, pastinya itu yang banyak menyita perhatian dan pikiranmu. Penulisan pesan yg singkat saja bisa menimbulkan tanya, terlebih sinyal yang terkadang menimbulkan teka-teki. Namun, aku sangat menikmati saat-saat dimana kamu mulai bercerita tentang dunia kerjamu, yang awalnya kamu sulit beradaptasi hingga akhirnya bisa dekat dengan siapa saja.

Sayang, tidakkah kamu tau diantara banyak hal yang kamu ceritakan, ada yang menyedot perhatianku. Kamu yang dicomblangi dengan salah satu rekan di tempatmu bekerja. Mendadak aku takut bilamana kalian akan terbiasa menghabiskan waktu bersama dan akan menimbulkan rasa nyaman. Memang kamu menenangkan perasaanku, bahwasanya akulah yg menjadi calon istrimu hingga tanggapanku tetap kedengaran santai di telingamu. Meski kamu tak tau kan seberapa besar aku berjuang melawan kecemburuanku ini? Tapi aku tak mau merusak suasana hatimu yang menceritakan semuanya, aku lebih memilih untuk menjagamu di dalam setiap doa yang kupanjatkan.

Mereka yang tidak menjalani LDR tidak akan memahami kita. Kita hanya bisa bertemu seminggu dalam setahun. Sejujurnya, kita pun ingin seperti mereka, di saat kapan saja ada rindu, bisa segera bertemu. Di saat ada yang ingin diperbincangkan, bisa berhadapan langsung. Bukankah membicarakan sesuatu yang serius face to face lebih cepat mendapat solusinya? Misalnya seperti pembicaraan kita semalam.

ingat sayang, 3 tahun lagi kita menikah” katamu mengawali pembicaraan.

Advertisement

“itu terlalu lama, tidak bisakah lebih cepat lagi? aku tidak mau menunggu selama itu. Nanti kalau aku memilih untuk menunggu, aku sudah mulai keriput dan kamu mulai berubah pikiran. Kamu pikir enak di aku? Pokoknya aku tak peduli, aku tidak ingin berlama-lama. Kalau tahun ini bagaimana?
ucapku dengan nada sedikit merengek (aku sendiri gak habis pikir kenapa bisa mengeluarkan kata-kata sperti itu).

Lalu kamu dengan nada yang lembut kembali menenangkan aku “aku sedang berusaha sayang, kita akan selalu bersama. Tapi maaf jika keinginanmu untuk menikah tahun ini, aku tak bisa sayang. Karena janjiku untuk kita menikah bukan tahun ini”.

Aku tersadar dengan egoku yang luar biasa. Bukankah harusnya aku tidak menekanmu, bukankah saat-saat ini harusnya aku memahami dan memberi dukungan padamu yang baru mengawali karirmu, yang sedang bekerja keras untuk mempersiapkan biaya-biaya yang cukup besar untuk rencana pernikahan kita kelak.

“aku paham, maaf untuk egoku barusan sayang”
ku tak ingin menekannya dengan keinginanku yang tak berperasaan.

“tidak apa, itu menjadi pemacu agar aku lebih giat lagi mengumpulkan biaya agar bisa melamarmu segera, kita hidup bersama, doakan ya calonku” ucapmu.

Sungguh aku tersentuh setiap tutur katamu yang tetap merangkulku, aku bisa merasakan bagian terpenting saat ini adalah memantaskan diri untuk menjadi pasangan yang ideal yang saling mendukung, saling percaya, melakukan kegiatan dan mengisi pikiran dengan hal-hal yang positif, agar kelak kita mampu bertahan dalam berbagai situasi .

Terimakasih telah mengajarkanku arti kesabaran. Denganmu, aku semakin ingin menjaga hubungan ini di dalam doa-doaku. Semoga kita saling berusaha menjaga hati dan diri, memberi yang terbaik hingga waktunya tiba. Doa itu akan terjawab apakah kita menjadi pasangan atau kita dipasangkan dengan pribadi lain yang memang Tuhan tetapkan dalam rencana-Nya.