Ya, aku jatuh cinta kepadamu. Tidak peduli apa kata orang.

Aku jatuh cinta kepadamu, jauh sebelum aku tahu kalau kamu, seorang anak laki-laki dari adat Batak yang sangat dianjurkan untuk menikah dengan paribanmu, atau boru (anak perempuan) dari tulangmu atau kakak laki-laki dari ibumu. Aku cari istilah itu pun di google. Bahkan aku menemukan, bahwa pernikahan dengan pariban adalah suatu berkat tersendiri bagi sebuah keluarga dari suku Batak. Ya, dan aku yang orang Jawa ini, aku sama sekali tidak mengerti mengapa harus seperti itu.

Ibumu pun menganjurkanmu menikah dengan anak tulangmu.

Kamu pun pernah bercerita, kalau sejak remaja, ibumu pun sering menyinggung tentang pariban-paribanmu. Memang beliau tidak memaksa kamu untuk menikahi paribanmu, tapi, aku membayangkan betapa ibumu akan sangat bangga jika keluargamu bisa memegang adat leluhurmu. Betapa keluargamu akan dipandang menjadi keluarga yang beruntung dan terberkati jika kamu berhasil menikahi salah seorang paribanmu.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah masih ada jalan untuk cinta kita?

Advertisement

Saat aku bercerita dan berkeluh tentang hal ini, kamu memandangku, dengan bola mata coklatmu yang dalam itu, kamu tetap merangkulku. Aku yakin, sebelum kamu memutuskan untuk jatuh cinta kepada aku, kamu pasti sudah mengetahui tentang hal ini. Tapi, kamu tetap bersamaku.

"Tidak usah khawatir, sayang. Kita bisa terus bersama. Dengan kita sedikit berusaha lebih, kita pasti bisa melalui semua proses adat, hingga kita benar-benar bisa bersama."

Senyumku pun spontan terulas. Ya, itulah yang selalu aku banggakan dari kamu, kamu selalu optimis dengan jalan hidupmu, kamu selalu percaya kalau pasti ada jalan, jika kita benar-benar berniat dan berusaha. Kamu menceritakan prosesi adat yang nanti akan kita lalui. Kamu mengatakan kalau kamu akan memintakan nama untukku dari boru nenekmu. Lalu diikuti berbagai macam prosesi adat, dan istilah yang aku pun masih belum mengerti.

"Apapun halangan yang akan kita lalui, kita akan melaluinya bersama."