1.

Hari ini sembari bercerita tentang hati dan mimpi, ada seorang teman yang sedang lelah dilanda rindu (red. LDR). Selain itu, ternyata ia juga sedang terserang penyakit lelah yang lain. Lelah yang disebabkan oleh coretan-coretan beraneka ragam nan indah yang membersamai tulisannya.

“Yie, aku punya dua kasus LDR”, katanya padaku.

Aku mengernyitkan dahi membaca pesannya yang belum tuntas. Tak lama kemudian sampailah pesan berikutnya.

“Lelah Disiksa Rindu dan Lelah Disiksa Revisi”.

Advertisement

Aku membaca pesan itu dengan tertawa tertahan. Kali ini aku mengerti, selain kasus rindu, ternyata LDR dengan skripsi lebih menyeramkan bagi mahasiswa tingkat akhir. Aku memahami itu. Karena akupun tidak jauh beda. Lelah, kantuk dan juga lapar kami abaikan demi revisi nan indah itu.

Kalau sudah begini, maka kami akan saling memberi semangat. Karena bagi kami mengeluh tetap tak ada guna. Hanya akan menambah beban yang tak berkesudahan. Sebelum ku akhiri pesan singkat itu, ku balas pesannya dengan sedikit mamadu kata.

“Semangat Lil… semoga rindu membuat hati semakin bersahaja dan semoga revisi membuat kita semakin cendikia”, balasku.

Aku kembali tersenyum. Karena pun sebenarnya pesan itu adalah untuk diriku sendiri. Apa salahnya membagi semangat jika darinya kita juga mendapatkan do’a yang di-Aminkan.

“Aamiin..”, balasnya. ^-^

2.

Masih tentang pernak-pernik skripsi. Kali ini datang dari teman yang lain. Sebut saja ia Na. Ia sudah hampir berputus asa karena banyaknya prosedur penelitian yang harus dikerjakan. Semuanya harus terencana dan segera terlaksana karena mengejar deadline.

Satu hal yang kuingat dari pesan singkatnya, ia lengkapi pesan itu dengan emoticon berkaca-kaca.

“Rasanya aku mau mati mikir skripsi ini mbak”, tulisnya. Sepertinya ia memang sedang benar-benar bingung hendak mulai dari mana.

Aku tersenyum geli sekaligus iba. Pikirku, kenapa sampai bisa seperti itu. Padahal skripsi hanya perlu pikiran untuk bertindak dan tindakan untuk menuntaskan.

“Oh iya Na… Memang benar, memang benar kalau skripsi itu bikin orang mau mati saja. Tapi itu khusus untuk orang yang berpikir terus menerus tanpa sedikitpun bertindak. Skripsi itu harus dipikir dan dikerjakan. Sekarang mulai kerjakan.”, balasku. Kala itu aku tak sempat berpikir bagaimana perasaannya menerima pesanku. Tapi jauh di dalam hatiku berharap semoga semangatnya kembali seperti sebelumnya.

Aku lanjut menulis sambil menunggu pesannya. Dua menit kemudian ponselku kembali berdering dengan nada khasnya.

“Aku ini sambil ngerjakan mbak, tapi entahlah… aku puyeng sendiri”, balasnya. Aku menghela nafas. Aku paham betul situasinya. Aku pun sama. Memang tugas akhir ini sedikit menguras otak, tapi harus dituntaskan demi mimpi yang sudah terajut satu per satu. Lagi pula tugas ini tidak akan selesai dengan sendirinya jika kita pikirkan saja.

Maka di saat seperti ini, saling memberi dukungan adalah berguna. Kubalas pesannya dengan kata-kata yang sebenarnya hendak kusampaikan pada diriku sendiri. Tapi jika aku bisa mendapatkannya dengan cara memberikannya pada orang lain kenapa harus ragu.

“Kerjakan saja… ayo sekarang fokus dan jangan kirim pesan dulu”, tulisku yang kemudian ku kirim dengan menyentuh simbol send.

Pesan itu masih berlanjut dengan saling bertanya tentang apa-apa saja yang harus dipersiapkan dan dikerjakan. Aku yang tahu diri bahwa tak bisa membantu banyak, maka jika dengan berbagi semangat bisa sedikit mengusir keputus asaannya, aku tetap akan lakukan. Karena kami adalah teman. ^-^

3.

Suka duka skripsi dan revisi sudah menjadi hal yang wajar dialami oleh mahasiswa tingkat akhir. Mulai dari baper dengan wejangan para dosen, sampai baper dengan kalimat atau kata-kata yang tersematkan di antara lautan abjad yang sudah kami susun.

“Coretan-coretan Bu dosen bikin aku baper mbak”, tulis seorang temanku di pesan singkat. “Selain jarak dan waktu, ya ini yang bikin baper berkepanjangan”, lanjutnya.

Lagi-lagi aku tersenyum geli. Oh skripsi, kau sungguh membuat kami merasakan sesuatu yang entahlah. Selain menguras otak kau juga menguji hati kami. Cepat-cepat ku balas pesannya.

“Tetap semangat Nur… bukankah semangat dari yang terkasih cukup mengobati”, balasku sambil menggodanya. Pikirku rasa humor perlu dibubuhkan untuk sedikit mengurangi penat.

“Hehe… Iya mba, semangat dari si abang memang cukup membantu”, tulisnya. Semangat dari orang-orang terkasih memang terkadang sangat mujarab bagi kami yang katanya tengah menjadi “Pejuang Skripsi”.

Aku tersenyum membaca pesannya. Lalu membalasnya tak mau kalah. “Kalau kamu dapat dari abang, maka aku dapat semangat dari si biru”, tulisku. Belum sempat ia membalas, ku tambahkan lagi pesanku. “Biru sama dengan Langit, keren kan.. aku dapat semangat dari langit. Aku sedang berbagi semangat dari langit nih, kamu mau?”.

Kutulis sembarang demi mengusir kata baper dari benaknya kali ini. Kuhubungkan biru dengan langit yang kemudian menjelma menjadi semangat yang ku bilang keren itu. Tak apalah sedikit konyol. Asal revisi tak lagi jadi beban baginya pun bagiku.

“Mau… tapi kalau semangatnya kebawa angin gimana?”, ungkapnya lewat pesan. Aku terdiam dan kembali mencari-cari kalimat yang pas untuk membalas pesannya.

“Ya bagus dong kebawa angin, berarti sampai ke kamu”, tulisku. Tidak relevan memang, tapi biarlah asal semangat tetap ada di diri kita.

Dari pesan singkat yang kukirim waktu itu sebenarnya adalah pengisi ulang semangat-semangatku yang sempat raib. Jika aku bisa mengatakannya maka aku harus bisa melakukannya. Tanpa mereka sadari, aku juga memperoleh semangat hanya dari saling berkirim pesan.

Pesan malam itu diakhiri dengan menuliskan kalimat “semangat dari langit yang disampaikan lewat angin” oleh Nur. Baper yang sempat mampir karena revisi seketika hilang dari benak kami. Malam itu pertarungan kembali dimulai.