Bukan kehendakku jika ada suatu kebahagiaan yang hadir, bukan kehendakku keadaan lemah tak menjadi penghalang untuk melakukan aktifitas bersamamu, hanya karena aku senang merasakan kehadiranmu. Itu saja, sebenarnya tak muluk yang ku minta, kau hadir saja dan mencoba membuka suara untuk mengurusiku adalah hal yang sebenarnya ku nanti, kata-kata pedas yang kau ucapkan bukanlah belati yang menancap di ulu hati, melainkan makanan bergizi di sanubari.

Ya, sepertinya aku menemukan kebahagiaan tersendiri, menikmati permainan dunia yang menghadirkan sosoknya, menanti hari esok mengenai kabar angin tentangmu, harap-harap cemas yang ku rasa, bagai lelucon yang ingin ku tertawakan, lucu, menyedihkan, mungkin seperti seseorang yang tertawa seraya menangis. Namun, ku coba ikhlas jika kau memang akan berlalu bersama orang yang kau pilih. Maaf, aku hanya merasa pernah menangkap simpati yang kau utarakan melalui kejernihan mata yang tampak disana, atau mungkin aku terlalu GR saja.

Andai saja kau tahu, ketidak pedulianmu pada dunia adalah senjata mematikan untukku, karena kau bisa saja merenggut organ ini dengan satu langkah, mungkin kau tak pernah menyadari atau pura-pura tak menyadari. Kekuatan itu bersemayam, mudah menarikku dengan hanya satu hentakan, tapi jika kau memang bukan yang terpilih untukku lebih baik jangan mendekat walau itu selangkah, karena ku tak ingin salah memahami, karena ku tak ingin merasakan sayatan luka dari belatimu yang tajam.