Ya, beliau nenekku. Ibu dari papaku. Seorang wanita renta, bahkan sangat renta, hingga dunia ini pun tak mampu beliau lihat lagi sejak 15 tahun yang lalu. Usia tua telah merenggut fungsi penglihatannya. Beliau hanya mampu mengandalkan kepekaan indera peraba untuk menjalani kegiatannya sehari-hari.

Panutan Anak dan Cucu Perihal Kerja Keras

"Kalu kaban nak baju alap, bantui kudai aku ngudak dodol ne."

(Kalau kamu mau baju baru, kamu harus membantu saya mengaduk dodol)

Cerita ini ku dengar langsung dari papa. Sedari kecil nenek sangat tegas perihal kerja keras. Beliau tidak pernah mengajarkan anak-anaknya bermalas-malasan dan berpangku tangan mengandalkan pemberian orang lain. Hal yang selalu ditekankan oleh nenekku kepada anak-anaknya adalah bahwa tidak ada sesuatu yang dengan gampangnya diraih tanpa ada usaha dan kerja keras. Beliau menegaskan kepada anak-anaknya "jika kamu menginginkan sesuatu, maka kamu harus bekerja keras untuk mendapatkannya." Pernah suatu ketika, Papa kecil menginginkan sepasang baju baru untuk dikenakan di Hari Lebaran. Nenek bisa saja dengan mudahnya memberikan sepasang baju baru untuk anaknya, toh hanya sekali dalam setahun. Namun nenek tak ingin anak-anaknya memiliki pemikiran bahwa keinginan bisa diraih dengan meminta-minta dari orang lain. Anak-anaknya diajarkan membayar atas apa yang mereka inginkan. Untuk itu, nenek memberikan tawaran berupa mengaduk dodol dimana papa kecil akan diberikan sepasang baju baru jika Ia bersedia mengaduk dodol.

Ah, gampang. Kedengarannya memang mudah. Namun jangan salah, mengaduk dodol dulu dan sekarang sedikit berbeda. Di jaman nenekku dulu, dodol dimasak di sebuah kuali besar di atas tungku. Api di tungku ini harus terus ditiup untuk tetap menjaga baranya. Selain itu, dodol juga harus terus diaduk selama 8-12 jam! Demi sepasang baju baru, papa kecil mau ga mau harus melakukan permintaan nenekku. Dan apa yang diperoleh papa kecil di kemudian hari? KERJA KERAS! Papa kecil belajar bahwa ada yang harus dibayar atas sesuatu yang kita inginkan. Kerja keras lah bayarannya.

Advertisement

Mengajarkan Bahwa Tidak Ada Keindahan Selain Berbagi Dengan Saudara

"Iwak sepiak sewang au, Cung. Adeng kaban lum makan…."

(Ikannya sepotong aja ya, cu. Adikmu belum makan).

Nenekku bukannya pelit. Beliau sedang membiasakan anak dan cucunya hidup hemat dan mengajarkan indahnya berbagi dengan orang lain. Nenek selalu berusaha adil. Misalnya saja ikan 2 ekor harus cukup dimakan ke 7 anaknya. Pada awalnya aku pun berpikir bahwa nenekku pelit. Hingga papa berkata lain, "Sedari dulu nenek memang seperti itu. Anak-anaknya yang banyak menjadi tantangan tersendiri untuk nenek. Beliau harus memenuhi gizi makan anak-anaknya namun tetap harus meminimalisir pengeluaran." Mungkin dalam hal ini prinsip yang dipakai nenekku adalah "yang penting gizi terpenuhi." Sampai sekarang, anak dan cucu nenekku selalu menyisihkan miliknya untuk dinikmati bersama saudara dan orang lain.

Menjadi Sosok Mandiri

Dari nenek aku belajar bahwa keterbatasan fisik tidak serta merta dijadikan alasan untuk bergantung pada orang lain. Meski di akhir hidupnya dihabiskan dengan kebutaan, nenekku tidak mau bergantung pada orang lain, sekalipun pada anak dan cucunya. Nenek selalu mencuci pakaian dan membersihkan kamarnya sendiri. Apa pun beliau lakukan dengan tangannya sendiri selagi beliau mampu. Sangat jelas tidak ingin merepotkan orang lain di sekitarnya.

Urusan Kebersihan Diri Adalah Yang Utama

"Oy, Cung. Mandilah. Kinaki kudai jam tu, lah petang sahini…"

(Cu, cepatlah mandi. Hari sudah sore)

Nenekku selalu bawel soal mandi dan kebersihan diri. Biasanya jam 4 sore pun beliau sudah memerintahkan anak dan cucunya mandi. Hebatnya lagi, nenek tak hanya sekedar memberi perintah. Tetapi beliau memberikan contoh. Nenek selalu mandi dua kali sehari bahkan lebih, tergantung panas atau tidaknya cuaca di hari itu. Bahkan di hari-hari terakhir kehidupannya, di rumah sakit, nenek selalu rutin mandi setiap harinya tak peduli bagaimanapun kondisi kesehatannya dan apakah dokter mengizinkannya atau tidak. Tak jarang, para dokter dan perawat dibuat kewalahan. Duh, Nek. Kelakuanmu yang sarat nilai moril ini sangat aku rindukan.

Gigi Ompong dan Pipi Gelambir

Tahukah kau, Nek? Hal yang paling aku suka adalah memainkan pipi gelambirmu. Pipimu yang bergelayut keriput. Meski keriput, guratan-guratan sisa kecantikanmu di masa lalu sangat jelas nampaknya. Aku sangat yakin, bahwa dulu kau begitu cantik dan primadona. Jelas saja kakek bisa kepincut denganmu. Gigi ompongmu pun tak mau kalah. Membuatmu begitu lucu ketika mengunyah makanan.

Kini, Momen Bersamamu Menjadi Kepingan Indah Kenangan

Me: "Assalamualaikum, bisa bisa bicara dengan bu Animah?"

Nenek: "Ya, dengan saya sendiri. Ini siapa?"

Me: "Saya dari Dinas Kesehatan." (sambil memainkan pipi gelambir nenek)

Nenek: "Ya Allah, Nanda. Gawe kaban ni cung ay. Kalu kualat kaban ngecaki pipi aku tu lah ni."

(Ya Allah, Nanda. Dasar kamu ya, Cu. Awas kualat kalo mainin pipi nenek terus)

Nek, Aku rindu. Aku benar-benar rindu bercanda denganmu. Aku rindu membuatmu jengkel dengan segala tingkah jahilku. Namun terkadang juga membuatmu terpingkal dengan leluconku. Membuat seluruh tubuhmu bergoyang, begitu pun dengan pipi gelambirmu yang bergerak naik turun dibuatnya. Aku rindu menyembunyikan tongkat dan sandal jepitmu dan membuatmu marah karena tidak bisa pergi kemana-mana tanpa tongkat dan sandal jepit itu. Menjahilimu dengan menuntunmu ke tempat yang salah saat kau ingin pergi ke kamarmu. Aku rindu itu semua, Nek. Dan yang paling aku rindukan darimu adalah hangatnya tetes air mata di pipi kala kau mencumbuku sesaat setelah kau tau cucumu ini kembali dari Kota Kembang. Aku merindukan tatkala aku tak pernah lupa mencium tangan lemahmu untuk berpamitan dan memohon doa restu kembali menuntut ilmu di negeri seberang. Kau melepasku pergi dengan serentetan petuah khas orang tua sepertimu…

"Jaga pergaulan. Bergaul boleh. Tapi jangan sampai terbawa arus. Harus ingat siapa kita…"

"Jaga kesehatan. Nenek tidak mau kamu pulang dalam keadaan kurus…."

"Jangan lupakan shalat. Berdoa, minta sama Allah supaya disukseskan dan menjadi kebanggaan keluarga…."

Sampai akhirnya kata terakhirmu sebelum aku berangkat yang terlambat kusadari…

"Cium nenek dulu. Siapa tau nanti kalau nenek meninggal kamu tidak ada disini dan tidak bisa melihat nenek…."

Dan benar adanya. Aku tak bisa menemani hari-hari terakhirmu di bumi, Nek. Bahkan untuk sekedar melihat jasadmu, aku tak bisa. Maafkan aku yang tak bisa menemani dan mengantarmu dalam perjalanan panjangmu menuju Jannah-Nya. Bahkan setelah empat bulan kepergianmu, sekalipun belum sempat aku singgah mengunjungi rumah peristirahatan terakhirmu. Tapi tenang saja, Nek. Kujanjikan aku akan segera datang untuk nyekar segera setelah aku memakai toga dan kembali dari tanah rantau. Seperti katamu dulu, bahwa aku harus sukses, dan membayar semua yang telah dilakukan Papa dan Mama.

Selamat malam, Nek Ibuk.

Selamat tidur, dengan tenang.