Siapa sangka, hatiku justru jatuh pada dirimu yang tak diduga-duga. Teman mainku sendiri. Diantara mereka yang hadir ternyata kamu justru jadi satu-satunya yang bisa membuatku lupa dengan dia yang telah memilih berlalu dari hidupku, tanpa rasa yang tersisa. Sungguh, sisimu ternyata bisa jadi tempat yang nyaman untuk aku berhenti dan beristirahat melepas penat.

Kamu orang biasa, datang dari keluarga yang biasa, dengan pekerjaan yang biasa, benar-benar tak ada yang wah. Tapi entah mengapa saat bersamamu aku selalu merasa bahagia. Saat didekatmu aku merasa diterima sepenuhnya. Dalam pelukmu ada rasa seperti penerimaan sesungguhnya. Juga tak perlu kupungkiri, mungkin cinta kita tak akan sarat dengan drama, karena selama ini kita selalu jadi apa adanya.

Andai bisa sejak awal ku mulai denganmu saja. Mungkin tak perlu kuhampiri banyak hati yang hanya berniat menyakiti, dan membuatku terluka sejadi-jadinya. Bisa kamu bayangkan? Aku sudah berjalan sejauh ini, ternyata perhentianku ada didepan mata. Kamu mengajarkan padaku bahwa bahagia sebetulnya sederhana. Tak perlu berlari sampai terlunta-lunta. Karena bila mau sedikit saja bersyukur ternyata bahagia bisa kutemukan dimana saja dengan siapa saja.

Kamu yang sebelumnya tak pernah kuperhitungkan dalam hal tentang cinta. Tak pernah ku pandang sebagai sosok yang istimewa. Atau malah aku tak pernah melihatmu sebagai pria, justru mampu membawaku pada cinta yang sebenarnya. Aku jatuh, sejatuh-jatuhnya pada hatimu tanpa satupun alasan yang bisa kuutarakan. Ada perasaan lain yang tak bisa dijelaskan sekedar dengan kata. Yang pasti. Denganmu, aku seperti sanggup menjalani berbagai macam masalah kedepannya.

Kamu bahkan bisa mengubah manis hal-hal yang pahit menurut garis takdirnya. Mengetuk hatiku perlahan tanpa pemaksaan. Disampingku diam dan mendengarkan. Tak pernah mengikat dalam berbagai tuntutan. Disampingmu ada cinta yang tetap buatku bebas terbang. Karena kamu tahu semua yang ditakdirkan bersama pasti akan pulang pada waktunya.

Advertisement

Kini aku bisa dengan yakin berucap bahwa kamulah poros jutaan rinduku. Baru kini bisa kurasa, genggaman tanganmu ternyata semacam hal yang sederhana tapi punya nilai yang sebetulnya. Saat menatap jauh kedalam matamu aku seperti diyakinkan tentang masa depan sekalipun tanpa jutaan gombalan. Dan aku bisa merasakan, kamu hadir bukan untuk mencintaiku saja tapi semua keluargaku juga tak luput dari segudang keperdulianmu.

Hai kamu, lelakiku. Kini kutitipkan hati dan cintaku padamu. Bisakah kamu kupercaya untuk menjaganya? Kuharap iya. Agar tak mesti lagi kurasakan getirnya perpisahan kemudian membuatku menangis tersedu-sedu disudut tempat tidurku sepanjang malam. Bisakah kita mulai sekarang hanya untuk saling memperjuangkan tanpa ada yang berusaha melepaskan? Sungguh, aku berharap padamu pencarianku terhenti selamanya.