Tepat hari ini, usiaku bertambah. Banyak sekali untaian doa yang ku panjatkan. Berjuta harapan ku lantunkan dan menyatu dengan langit malam ini. Entah apa yang ku rasakan saat ini, semua tercampur menjadi satu. Aku juga masih bertanya dalam hati, aku harus bahagia atau bahkan aku harus menangis?

Ya Tuhanku. Aku tahu, aku mengerti semua yang terjadi dalam hidupku selama ini adalah atas izin dan kuasa-Mu. Semua kau atur begitu indah, meskipun di dalamnya ada banyak sekali coretan dan warna yang indah bagai goresan lukisan sempurna; yang terbungkus rapi menjadi bagian kebahagiaan dan kesedihanku.

Berawal dari bulan lalu, goresan itu berubah menjadi luka yang sangat dalam. Ya, karena aku merasakan bagaimana rasanya kehilangan paling besar dalam hidupku. Aku kehilangan 1 sayapku untuk terbang, aku kehilangan satu malaikat nyata dalam hidupku. Saat itu aku berharap itu hanya mimpi dan ketika aku bangun semua masih bisa kembali lagi seperti semula. Tapi inilah kenyataan paling pahit dalam hidup yang harus ku terima. Kenyataan bahwa aku kehilangan cinta pertama dalam hidup.

***

Ayah, hari ini 22 tahun perjalanan ku menapaki kehidupan. Aku memang bukan lagi anak kecilnya ayah, tapi aku tahu aku tetap anak bungsu ayah; yang ayah perjuangkan sampai Tuhan meminta ayah untuk kembali kepangkuan-Nya.

Advertisement

4 tahun lalu sebelum pergi ke perantauan, aku masih ingat saat itu ayah masih kekar dan sehat. Tapi 40 hari yang lalu aku melihat ayah yang sudah kurus, berbaring di ICU dalam keadaan koma dan semua alat rumah sakit sudah terpasang di tubuh ayah. Aku saat itu masih yakin bahwa ayah pasti sembuh. Aku tidak pernah menyangka itu jadi pertemuan terakhir kita.

Setelah 4 tahun, kita hanya bisa berbincang lewat telepon dan ayah berjanji akan pulang ketika aku wisuda nanti. Sekarang aku sudah di setengah perjalananku, Yah. Tapi kenepa ayah pergi? Pertemuan itu begitu singkatnya, hanya beberapa menit. Setelah sekian lama kia tidak bertemu, dan bahkan sekarang aku sudah tidak bisa lagi menemuimu lagi.

Sedikit pun ayah tidak pernah menceritakan kondisi yang sebenarnya selama sakit di perantauan. Ayah sama sekali tidak pernah mengeluh tentang sakit ini. Maafkan anakmu, Yah. Maafkan anakmu ini yang belum bisa membahagiakanmu. Tapi aku masih menggegam erat semua impian ayah. Aku akan berjuang untuk mimpi itu sampai kapanpun!

Ayah, hari ini pasti ayah sudah bahagia di Surga. Aku tahu, kini hanya doa yang dapat menjangkaumu. Mulai saat ini aku harus belajar ikhlas untuk melepasmu menyatu dengan Penciptamu.

Aku juga tahu Allah jauh lebih sayang sama ayah.

We love you, Ayah!

Ini memang pelangi kehidupan, agar semua nampak indah kita harus mengabungkan semu warnanya. Aku tak mau lagi terus bersedih, aku harus melanjutkan hidupku; melanjutkan mimpiku dan mimpi ayahku.

Aku juga harus tetap terbang meskipun hanya dengan satu sayap. Aku harus tetap berjuang karena aku masih punya Surga dan 1 malaikat nyata untuk ku bahagiakan

Dia yang selama ini juga memberiku kehidupan dan kekuatan; dia adalah ibuku. Manusia tegar yang sekarang berjuang untuk mewujudkan impianku. Ibu tangguh yang selalu menunggu aku di depan rumah setiap aku pulang terlambat.

Mungkin 22 tahunku akan lengkap jika masih ada ayah. Tapi bagiku 22 tahun tetap lengkap karena ayah selalu ada di hati dan doa kami.

Tuhan, aku mohon.

Jadikanlah semua indah seperti pelangi.

Ubah semua air mata itu menjadi berkah dan kebahagiaan di sepanjang perjalanan hidup kami.

Jaga ibuku dan berikan ayah tempat terbaik di Surga-Mu, Tuhan.

Dan izinkan aku membahagiakan Surgaku.

Terima kasih untuk 22 tahun yang engkau rancang begitu sempurna untuk kehidupanku!