Mencitai adalah sebuah rasa yang Tuhan anugerahkan, seperti itulah kira-kira yang aku rasakan. Mencintaimu adalah sebuah anugerah untukku, sosokmu yang aku kagumi sampai hari ini meskipun kita tak ditakdirkan bersama. Sampai saat ini aku masih menunggu, menunggu sebuah keajaiban aku dan kamu akan menjadi kita.

Entah apa yang membuatku begitu kukuh menjadikanmu yang terakhir di hidupku. Entah apa yang salah dari jalan pikiranku ini, padahal sudah jelas-jelas kamu dan aku tak akan pernah menjadi kita. Aku terlalu lemah di hadapmu, aku telalu bodoh di depanmu. Aku wanita yang tak bisa menahan egoku untuk tidak mencintaimu, tidak memilikimu.

Sudah dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menjauh, berusaha tak menghubungimu di social media, meskipun aku begitu merindu setengah mati. Aku berusaha menyibukkan diri agar tak dibayangi wajahmu yang selalu menghantui.

Oh Tuhan… Ini sungguh menyiksa. Aku tersiksa tanpa ada kehadiranya berhari-hari di hidupku. Sedih bukan kepalang kamu tak berusaha menghubungiku, akhirnya aku menyerah… Di minggu ketiga aku menghubungimu lagi dengan segenap keberanianku dan akhirnya ada balasan darimu, sungguh ini melegakan.

Handphoneku berdering nada Line message masuk, tak lama aku buka ternyata itu dari kamu, aku senang dan rasanya degup jantung ini seperti degup yang aku rasakan saat bertemu denganmu pertama kali tapi seketika saja pesanmu membuatku kaget

Advertisement

"Ta, aku dapet penempatan di Palu nih, jauh banget. Tiba-tiba aku dapet email dari HRD kalo aku penempatan di sana"

Oh Tuhan, ini apalagi, kejutan macam apalagi buatku? Rasanya aku masih tak percaya, tak percaya kamu ditempatkan di tempat sejauh itu. Kamupun sempat bercerita, bahwa ibumu sampai menangisi kamu, karena berat ditinggalkan anak lelaki kesayangannya. Akupun begitu, andai kamu tahu…

Tapi bukankah ini yang kamu inginkan? Ditempatkan di tempat yang jauh agar aku dapat melupakanmu dan mencari penggantimu? Tuhan kabulkan doamu. Hingga akhirnya 21 Desember ini kamu berangkat meningglkan pulau Jawa untuk bekerja di Palu, aku tak diberikan kesempatan untuk mengantarkanmu untuk bertatap denganmu terakhir kalinya, Tuhan tidak mengizinkanku.

Ah, aku masih mengingat untuk terkahir kalinya kita bertemu. Aku masih meminta waktumu untuk bertemu denganku sebelum kamu pergi dan kamu mengiyakkan bahkan kamu rela terkena macet dan waktu kita hanya lima belas menit berbincang, sempat kamu mengucap maaf untuk pertemuan yang singkat ini.

Tak apa, aku tak marah. Aku hanya sedih karena aku tak bisa bertemu lebih lama dan parahnya lagi kamu akan pergi untuk waktu lama. Wajahmu, senyummu, tingkahmu akan aku rindukan, akan selalu teringat bagian kecil dari kebersamaan kita dan itu akan secara otomatis direkam oleh otakku dan terus melekat di hati. Aku hanya sempat mengucapkan salam perpisahan melalui pesan singkat, aku tak kuat menahan air mata apabila mengucap salam perpisahan denganmu saat kita bertemu.

Di dalam hati ini aku masih berharap padamu, berharap begitu besar. Meskipun aku tahu kamu tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang begitu menginginkanmu. Meskipun aku tahu ini menyakitkan tapi hatiku selalu menguatkan.

Teruntukmu yang sudah berada di Palu, aku masih di sini dengan rasa yang sama, dan aku menunggumu pulang…