Sejak awal kita sudah tahu hari itu akan datang bukan? Hari dimana tidak ada lagi yang bisa kita usahakan. Hari dimana kita harus menyerah kalah pada keadaan. Sungguh sayang, bukan perpisahan yang aku ingikan. Aku mencintaimu! Perempuan mana yang ingin berpisah dari orang yang benar-benar dicintainya? Tapi kita ini bisa apa? Jika kita terus bersama, akan ada lebih banyak luka yang menanti di depan sana. Bagaimana pun juga kita tidak bisa tutup mata, kita menjalani semua dengan fondasi yang berbeda. Kita tidak bisa lagi memaksakan diri untuk terus menjalani walau kita benar-benar cinta.

Percayalah sayang, hatiku pun sama nyerinya, sama terlukanya. Tapi mau bagaimana? Ada dinding terlalu tinggi yang berdiri kokoh di antara kita. Aku bukan tidak mau berjuang lagi, trek seterjal apapun sanggup aku lewati asal kita bisa bersama, tapi tidak untuk yang satu ini. Tidak tentang Dia yang kita sebut dengan cara berbeda. Kita sudah dewasa, tentu kita tahu bahwa hidup bukan hanya tentang kebahagiaan diri sendiri saja. Ada banyak yang harus kita pikirkan perasaannya. Jangan lagi kita menggores hati ayah, bunda, dan keluarga kita.

Sungguh, aku pun sudah berusaha meyakinkan mereka semua bahwa kita bisa menjalani ini walau nanti akan berdoa dengan cara yang berbeda. Tuhan hanya satu bukan? Kita saja yang memujiNya dengan cara yang tak sama. Aku pun sempat merasa apa yang ditulis oleh Dia benar-benar tidak adil untuk kita. Jika akhirnya tidak bisa bersama, mengapa Dia harus mempertemukan kita? Jika kita harus berpisah juga mengapa Dia harus menanamkan cinta? Tapi kita ini manusia, yang kita lakukan hanyalah harus percaya. Dia selalu punya rencana, dan semua pasti adalah yang terbaik untuk makhlukNya, hingga kita sangat-sangat tidak layak jika terus menyalahkanNya. Karena itu sayang, marilah kita beranikan diri untuk mengakhiri ini semua, yakinlah, pasti ada rencana yang lebih baik untuk kita.

Aku tahu setelah ini hidup kita akan limbung sementara, bahkan mungkin merasa dunia melambat perputarannya. Aku pun tahu pasti hari-hariku nanti tidak akan sama seperti dulu lagi. Akan ada masa dimana aku menangis sepanjang malam karena rindu pada pelukmu yang begitu nyaman. Akan ada waktu dimana aku merasa sangat kesepian sekalipun aku sedang berada di tengah keramaian.Tapi mau tidak mau kita memang harus menghadapinya bukan? Yang kita perlukan hanyalah harus membiasa tanpa perlu lagi menyalahkan garis Tuhan. Yakinlah, jika kita mencintaiNya, rasa sakit ini hanya akan menyiksa sementara.

Ayah dan ibuku tidak pernah membencimu, sebagai seorang pria, aku tahu sosok sepertimu lah yang mereka inginkan untuk mendampingi putrinya. Tapi kita hidup dengan norma, kita juga tidak bisa melanggar aturanNya. Kamu pun tahu berapa kali ibumu menangis dalam doanya, berharap Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk kita. Lalu apa kita harus terus memaksa, hingga mereka semua terluka lebih lama? Sudah sayang, kita ikhlaskan saja, mungkin memang tidak untuk selamanya kita bersama.

Advertisement

Berpisah seperti ini jelas membuat hatiku terbelah. Tapi kita tidak bisa menunggu hingga nanti hubungan kita menciptakan payah. Jangan, aku tidak ingin karena rasa benci kita harus berpisah. Bagiku, kamu adalah sederet perjalanan dengan detil cerita yang selalu indah.

Meskipun kita tidak bisa lagi bersama, ketahuilah, aku benar-benar cinta. Kenangan tentangmu akan selalu tersimpan rapi di kepala. Canda, tawa, dan semua yang pernah kita lalui akan menjadi cerita yang tak pernah bosan aku baca. Sekali lagi, kita hanya perlu membiasa tanpanya, hingga nanti kita tidak lagi merindukan kehadirannya. Teruslah percaya, jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, semesta pasti memberikan jalannya. Namun jika ternyata Tuhan mempunyai cerita lain untuk kita, percayalah, akan tetap ada kamu dalam lipatan hatiku yang lainnya. Entah dengan rasa yang sama, atau dengan cinta yang sudah berubah bentuknya. Tapi kamu, akan tetap ada di sana.

Selamanya, kamu akan ada.