Bersamamu adalah yang pertama bagiku. Kau orang pertama yang membuka hatiku. Meskipun saat aku sangat nyaman denganmu ternyata kau harus meninggalkanku.

Bersamamu dalam waktu yang bukan hanya sekedar sehari dua hari membuatku tidak mudah untuk hanya melepasmu. harus ku akui butuh waktu lama untukku sembuh dari semua luka ku. Harus berani ku akui bahwa ditinggalkan olehmu sempat membuat ku menjadi terpuruk. Tak hanya sekali dua kali aku menangis. Entah menangis karena merindukanmu, entah menangis karena menyesali berakhirnya hubungan kita, entah menangis karena aku tak tau harus berbuat apa.

Saat kau tinggalkan begitu sulit bagiku untuk mengumpulkan semangat yang dulu pernah ada karena kurasa hatiku tidak dalam keadaan baik waktu itu. Banyak cara yang aku lakukan untuk dapat kembali padamu mulai dari menghubungimu hingga menemuimu tapi semua itu gagal hingga akhirnya aku sadar bahwa hubungan kita memang tak dapat lagi untuk dipertahankan.

Berbeda denganku, tak butuh waktu lama untukmu menemukan penggantiku. Ya, hanya hitungan hari kau telah menemukannya. Aku tak tau perasaanku waktu itu. Aku merasa marah dan benci padamu karena aku berpikir bahwa aku tak ada artinya untukmu setelah 2 tahun bersama. Tapi terkadang dalam hatiku aku ikut bahagia karena setidaknya aku tahu bahwa keadaan mu baik baik saja. Dan aku selalu berharap wanita itu adalah wanita yang baik yang kamu tak akan mengulang kesalahan yang sama ketika bersamanya.

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. Seperti itu aku menjalani hidupku. Menyibukkan diri dengan aktivitas kuliah. Bercengkrama dengan teman, sahabat, dan keluarga. Hingga akhirnya luka itu, nama mu, dan kisah kita berdua berangsur-angsur bisa aku terima dengan hati terbuka.

Advertisement

mecintai dan dicintai itu perkara mudah. menutup luka dan bangkit lagi itu perkara sulit. hanya memilih menunggu yang diciptakanNya untukku

Lama rasanya tidak berhungan dengan mu. hingga akhirnya saat itu datang. saat dimana kau menyapaku kembali. saat dimana kau sering menanyakan kabar ku dan terkadang kita bisa bercanda seolah tak ada kejadian yang lalu. Hingga sampai waktu itu aku merasa bahwa aku berhasil menjalin hubungan baik denganmu meskipun tidak sebagai kekasih tapi sebagai teman dan melupaakan status “mantan” yang membuat banyak orang terkadang tak ingin bersua kembali dengan satu orang yang disebut dengan mantan.

awalnya semua baik baik saja hingga pada akhirnya ada hal yang membuatku tidak nyaman dengan semuanya. tidak nyaman dengan sikapmu yang sering marah dan sering berubah sikap, tidak nyaman degan rasa ingin tahu mu, tidak nyaman dengan kekasihmu yang kurasa selalu penasaran dengan ku. Ya mungkin aku terlalu berlebihan tapi apa penting kontak ku buat kekasihmu?sekali lagi, aku tidak mengenalnya dan tidak ada alasan untuk ku mengenalnya.

Apakah kamu pernah dengar bahwa ada yang bilang seperti ini “dua orang yang membencimu tanpa sebab yaitu mantannya pacar dan pacarnya mantan” aku menuliskan kutipan itu bukan karena aku membenci kekasihmu tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa dua orang tadi bakal memiliki tingkat emosional yang berlebih dibandingkan dengan yang lain. Bukan karena sombong, bukan apa apa. Aku tak ingin mengenalnya karena aku tak ingin punya masalah dengannya.

Waktu berlalu dan aku merasa hidup ku selalu ada bayangan kalian berdua. Rasa ingin tahu kalian tentang kondisi ku saat ini hingga terkadang sikap kalian membuat emosi ku meluap. Aku tak berniat untuk meluapkan rasa ini kepada kalian. Aku hanya diam dan mencoba merenung dengan apa yang terjadi. Timbul banyak pertanyaan dalam benakku. Apakah saat kita bersama aku terlalu banyak salah padamu? Apakah aku terlalu menyakitimu? Apakah aku tidak bisa dimaafkan? Apakah sulit untuk melupakan sakit yang aku beri? Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Mengomentari kelakuanku, meneriaki kesalahanku. Dan selalu membuat diriku pada posisi yang salah. Apa aku mengganggumu? Apa kau pantas melakukan hal itu?

Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk benar benar tidak berhubungan dengan kalian, kamu dan kekasihmu. Aku berusaha agar kalian tak punya kontakku lagi. Aku berharap kalian tak lagi muncul di kehidupan ku lagi. Aku berharap kalian tak ingin tahu apapun lagi tentangku. Dan aku berharap kalian bahagia dengan kehidupan kalian.

Aku pergi bukan berarti aku tak bisa melupakanmu. Aku pergi bukan karena aku cemburu. Aku pergi bukan karena aku iri. Aku pergi bukan karena aku tak menghargaimu.

Tak ada niat untuk memulai pertikaian, tak ada niat untuk memutuskan silaturahmi. Tapi aku hanya berpikir bahwa inilah cara terbaik agar aku tetap mengingatmu sebagai orang yang baik yang pernah hadir dalam hidupku. Aku tak ingin apa yang telah kau berikan pada ku tak ku hargai hanya karena sikapmu padaku saat ini. Mau tak mau harus kuakui kamu memberikan kontribusi besar untuk hidupku yang sekarang.

Tidak, aku tidak membencimu karna lukaku. Aku tidak membencimu karna kau meninggalkan ku. Dan tak ada dendam sekecil apapun dihatiku. Perasaan yang tersisa saat ini hanyalah rasa terimakasih atas semua yang kau beri.

Hai kamu, apakah kamu masih bertanya dalam benakmu “apakah dia mengharapkan aku kembali???sudah cukup lama, ya 3 tahun bukan waktu yang singkat, tapi kenapa dia masih sendiri?”

Meskipun semua luka itu telah pergi tapi kenapa diri ini belum ada pengganti?salah jika kau mengira aku masih berharap kau kembali. Aku masih sendiri bukan karna menunggu mu untuk kembali. Tapi hatiku belum siap untuk sakit hati lagi. Hatiku belum siap jika aku harus menangis lagi.

Saat aku kau tinggalkan aku belajar banyak hal. Banyak hal yang belum pernah aku dapatkan selama ini. Aku mulai tahu bagaimana rasanya mencintai orang lain. Aku tahu bagaimana menyayangi orang lain. Aku tahu bagaimana merindukan orang lain. Aku tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan dan aku tahu bagaimana sulitnya melupakan dan mengubur kenangan indah bersama dengan orang yang kita sayang.

Saat kau tinggalkan aku tahu bahwa waktu bukanlah ukuran untuk jaminan kita bisa bersama untuk selamanya.

Kenapa aku memilih untuk tetap sendiri? Karena aku tak ingin menghabiskan waktuku untuk menangis, untuk melupakan, untuk merindukan, untuk tersakiti, dan untuk bangkit bila aku ditinggalkan lagi oleh yang lain.

Tuhan telah menciptakan jodohnya masing masing bukan? Daripada aku harus menghabiskan waktu dan hatiku untuk orang yang belum tentu jodohku. Lebih baik saat ini aku hanya belajar untuk memantaskan diri bukan??Kenapa aku masih sendiri?karena hatiku hanya ingin bersiap menyambut hadirnya satu sosok yang akan aku cintai hingga nanti. Satu sosok yang tak akan meninggalkanku lagi. Yah, hatiku hanya menunggu jodoh yang diciptakanNya untukku.