Terhitung lebih dari seribu hari sejak sinar mentari menyinari kita di tanah lapang kala itu. Asik bercengkrama dari dua pasang mata. Bukan lagi tempat gincu yang menjadi aktor utama. Tawa ku tak sekeras sekarang, tapi jelas – jelas ada tatap yang lebih dari tawa. Tak ada lagi kebisuan antara kita. Dunia memutar 180 derajat. Jauh menyenangkan dari biasanya.

Sampai suatu masa, yang tidak berpihak kepada ragamu, juga ragaku. Mengoyak habis kepercayaan yang selama ini kau pegang erat.

Detik itu Aku terlalu melemahkanmu dengan egoku. Memuaskan diri dengan menjadi pemenang. Menang yang kemudian membawa hal yang paling kubenci, kehilangan.

Kosong.

Kosong setelah Aku menang. Egoku menang. Hatiku kalah. Hanya bercak noda kotor tertinggal hina, penyesalan. Terperangkap bersama rindu yang kian terpejam.