Sudah ketiga kalinya aku bermimpi tentangmu. Bukan tentang kamu lebih tepatnya, tetapi ada kamu di dalam mimpiku. Bisa dibilang intensitas kemunculanmu lebih sering daripada tokoh-tokoh lain yang ada di dalam mimpi. Atau mungkin hanya kamu yang benar-benar aku ingat.

Terakhir dua hari yang lalu setelah perbincangan hujan sore itu. Di waktu yang hampir sama. Kamu yang menyebabkan aku bangun di sepertiga malam atau kamu yang hadir saat ku tertidur setelah sepertiga malam.

Apakah ini sebuah jawaban?

Kamu tahu, beberapa bulan terakhir ini aku menghadirkan namamu di hampir setiap do'aku? Bersandingan dengan permintaanku agar selalu dijagakan hati untuk terus pada ketaatan dan ketulusan. Tidak lupa juga aku memintanya untukmu.

Bukan, ini bukan tentang aku berdoa untuk memintamu menjadi jodohku. Menanyakan kepada Tuhan apakah dirimu lah yang dahulu telah Dia tuliskan. Bukan. Aku hanya merasa bahwa kamu adalah orang yang perlu dikuatkan. Bukan karena kamu lemah kamu adalah salah satu lelaki cukup tangguh yang aku kenal. Tipe orang yang tak bisa menolak permintaan teman untuk mengemban suatu amanah. Kamu kuat aku tahu. Aku melihat bahwa kamu butuh untuk dikuatkan. Dikuatkan atas niat-niat baikmu. Diingatkan atas kelalaian-kelalaian yang masih sering kamu perbuat.

Advertisement

Aku ingat kamu pernah cerita tentang keinginanmu menjadi pribadi yang lebih baik. Tentang kesadaranmu akan sikap-sikapmu yang perlu untuk diperbaiki.

Aku tidak yakin. Aku takut mimpi-mimpi ini hanya penghiburku ketika beberapa bulan terakhir ini aku terpikir oleh mu. Mungkin ini dikarenakan intensitas temu kita lebih sering dari waktu-waktu sebelumnya. Mengharuskan kita untuk lebih sering bertukar pikiran, membicarakan banyak hal. Setidaknya aku jadi lebih tahu banyak seperti apa dirimu. Walau sebenarnya mungkin tidak benar-benar tahu. Aku jadi teringat kutipan dari buku yang pernah aku baca,


“Seringkali kita terburu-buru dalam memaknai rasa dalam hati. Jatuh cinta? Hahaha! Sungguh terlalu cepat jika mempersepsikannya sebelum ada janji yang pasti, dengan persaksian semesta”.


Apakah ini sebuah jawaban?

Aku tidak tahu. Yang aku tahu bahwa aku hanya meminta kepada Tuhan untuk terus menjagamu dari hal-hal yang menjauhkanmu dari niat baikmu. Menguatkan niatmu. Membimbingmu untuk mewujudkan kebaikan-kebaikan itu. Jika memang Tuhan menghendaki aku untuk menjadi salah satu perantaranya, aku siap untuk itu.