Mimpi Butiran Debu

Malam ini aku memimpikan kamu lagi, tak tahu apa muasalnya namun saya merasakan getaran yang begitu dahsyat, ah entahlah, mungkin itu hanya praduga yang terlalu percaya diri dariku. Apakah memang sebegitu besarnya apa yang aku rasakan tentangmu sehingga mimpiku pun ikut serta mendeskripsikan yang kamu rasakan juga kepadaku, ataukah ini hanya dari satu sisi ? dariku saja, yang terlalu ambisi mendapatkan sambutan cinta darimu? Entahlah, aku hanya bisa membaca kedalaman mimpi ini hanya sebatas sisi dhohirNya, entah apa arti sebenarnya dari mimpi itu sendiri, hanya satu yang aku harap dari mimpi ini, ini bisa bersambut hingga kita benar-benar di takdirkan menjadi jodoh.

Dalam mimpi ini, kita berada di dalam satu ruangan yang sama di temani oleh tiga orang yang saling memperhatikanmu, aku berada dengan dua orang tersebut di bilik yang sama, sedangkan kamu berada di bilik yang berbeda bersamaan dengan teman wanitamu yang lain, saat itu kami bertiga dengan seksama memperhatikanmu, namun setelah aku mengetahui kami saling memandangmu akupun mencoba untuk tidak ikut kembali memandangmu, akupun mencoba untuk berdiri dan mencari suasana lain di luar bilik.

Sedangkan kedua teman yang bersama saya masih di dalam bilik tersebut, dan salah satunya adalah orang yang ada di dunia nyata ini mengaku mencintaimu. Kamu pasti mengetahuinya. Selang bererapa saat, salah satu dari kedua orang tersebut menghentikan pandangannya kepadamu, dan masih sisa satu yang masih dengan khidmat memandangmu. Orang yang mengaku mencintaimu, Dia memandangmu dengan muka yang begitu licik, seolah seperti macan yang segera menerkam mangsanya, aku mengawasinya dari luar bilik, dan pada saat itu kamu sedang mengenakan mukena putih sembari menengadahkan tangan ke atas sebagai tanda kamu sedang berdoa, kamu berdoa dengan khusyuk seakan kamu bicara secara langsung kepada tuhanmu bak seorang jelata bercengkrama dengan rajanya, begitu khidmat dan suasana yang hening indah sekali.

Aku mencoba memperhatikan terus satu orang ini, entah apa yang ingin dia lakukan kepadamu, saya coba untuk terus mengawasinya, aku tak mau ketinggalan sedikitpun kelakuan satu orang ini, mencurigakan, membahayakan, ah entahlah, atau itu hanya prasangka burukku saja, namun dari mimik wajah dan gerak-geriknya menunjukkan aorang ini wajib diawasi, tatapannya tetap sama masih kepadamu, lambat laun semakin menjadi-jadi dan akhirnya pun ia beranjak dari persinggahannya dan mencoba untuk mnghampirimu, dia hampir sampai ke bilikmu dan kamu masih begitu khusyuk dengan munajatmu tanpa memperdulikan apapun di sekitarmu.

Di dalam heningnya perhatianku kepada satu orang ini, entah ada angin apa yang membuat saya tersontak, hati saya bergejolak seolah tidak menerima orang ini menghampirimu, aku tidak rela dia mendekatimu, dan tiba tiba raga ini serasa bergerak sendiri mengikuti orang ini, mencoba untuk menghentikanya. Aku tidak rela kekhusyukkanmu di ganggu oleh orang berwajah licik nakal ini, setidaknya jika saya di perkenankan saya tetap ingin melihat kamu khusyuk bermunajat.

Pada akhirnya dapat kupeganglah pundak orang itu, dan aku bicara padanya, “tulong, ojo di rusuhi, mesakne jek dungo,” dengan keras kepala orang ini mencoba menyingkirkan tangan saya dari pundaknya, akupun tetap berusaha menghadangnya sekuat tenaga dan pada akhirnya di bersedia untuk mundur, dan pergi begitu saja. Lantas aku tidak menghampirimu, aku tidak ingin kamu tahu apa yang sedang terjadi, aku biarkan kau khusyuk berdoa, teruskanlah, biarlah apa yang terjadi menjadi butiran debu seperti apa yang pernah kau tulis dalam sajakmu itu.

Lebur tanpa menyisakan bekas kotor. Aku tak tega memberitahumu, kau masih khusyuk berdoa, entah lah, selagi kamu masih berkeinginan berdoa, akupun rela tidak mengganggumu, biarlah entah sampai kapan aku menunggu kesempatan. memberitahumu. Biar sisa hidup ini ikut menentukan kapan kita di pertemukan.

Selepas memandangmu sejenak, akupun kembali ke bilikku, aku merasa lega tidak ada lagi yang mengusik . Dari mimpi ini aku mengutip sajak milik Bang Darwis Tereliye untukmu :

Apalah arti memiliki,

Ketika diri kami bukanlah milik kami ?

Apalah arti kehilangan,

Ketika sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan

Dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan

Apalah arti cinta,

Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah ?

Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun ?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan ?

dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu ?

hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis helaian benang saja

Nizam Fahmi Selasa, 17 Mei 2016