Semua orang punya motivasi tapi tidak semua bisa menggapainya? Mengapa?

Sedikit nyambung sama tulisan sebelumnya, pengalaman penulis pernah menjadi marketer 'MLM'. Profesi ini erat banget kaitannya dengan yang namanya motivasisecara kami ngikuti seminar rutin dari leader-leader yang sudah sukses broh). Selain menjadi pelaku utama, penulis juga suka menjadi pengamat situasi. pengalaman pertama mengikuti seminar 'MLM' itu luar biasa mencengangkan. Para peserta dari kalangan paling bawah, menengah hingga kalangan atas benar-benar telah terbawa oleh motivasi yang disampaikan oleh pembicara.

Beberapa impian mewah dan istimewa ditawarkan untuk membakar semangat para peserta. Tetapi layaknya profesi lain, menjadi seorang marketer tidak semudah yang dibayangkan. Faktanya praktek di lapangan itu tidak gampang. Motivasi-motivasi yang disampaikan pun sepertinya tidak cukup untuk menjadi dongkrak bagi semangat-semangat yang sudah turun.

Hasilnya dari berapa ratus peserta seminar, hanya beberapa orang saja yang bisa mempertahankan motivasinya di lapangan. Kesimpulannya peserta dengan finansial yang aman hari ini tidak akan cukup terbakar hanya dengan sebuah motivasi ingin sukses. Penulis mengamati bagaimana orang-orang yang justru berasal dari kalangan bawah bisa lebih termotivasi adalah karena mereka tidak hanya sekedar memiliki motivasi sukses saja, tetapi tekanan hidup. Tekanan adalah sebuah motivasi yang alami. Bagaimana ini bekerja? mari kita simak…

Ibarat anak kos yang sedang kehabisan pakaian (maksudnya pakaiannya kotor), ya opsi satu-satunya cuma nyuci pakaian sendiri. Salah satu tekanan yang membayangi hidup kita adalah masa iya kita mau nggak pake celana, atau pakai celana bekas kemarin. Padahal habis jogging loh, bayangkan deh.. nggak lah ya.., nah inilah contoh tekanan hidup yang menimbulkan aksi nyata.

Advertisement

Dalam sebuah sirkus kita semua pasti tahu dengan cerita singa dan cambuk, kita sering meremehkan singa itu luluh karena terlatih bukan terdidik. Hal ini terjadi karena singa takut dengan yang namanya cambuk. Padahal, sebenarnya asosiasi ini juga menimpa pribadi kita lho. Kita yang seorang mahasiswa ini misalnya, identik dengan yang namanya tugas kuliah, yang banyak, yang bosenin, yang menyita waktu main. Padahal tugas kuliah adalah tekanan alami mahasiswa. kalo nggak mau punya tekanan semacam itu ya nggak usah jadi mahasiswa lah, kesimpuannya jangan cuma ego saja bermahasiswa.

Tentu adanya tekanan menjadikan kita belajar sesuatu kan. Sekarang coba kita bayangkan saat dimana mahasiswa sedang tidak dibebankan tugas-tugas kuliah yang selama ini dikeluhkan, anggap aja kuliah satu semester kosong. tenang kan, nyaman kan, bebas kan, ya iya lah… Cuma jujur saja dengan tidak adanya tugas kuliah yang jadi tekanan mahasiswa, kita tidak kemana-mana dan tidak dapat apa-apa.

Selanjutnya coba kita amati profesi dimana jam kerja normal bagi seorang karyawan adalah jam 8. jika kita saling bertanya apakah yang menjadi motivasi seorang karyawan bisa bangun pagi setiap harinya ?

a. Karena tergugah dorongan tanggung jawab sebagai profesi?

b. Karena takut kena marah bos karena terlambat?

Saya rasa sebagian besar kita sudah mengetahui jawabannya, sebagian besar opsi dua, lalu kesimpulannya apa bedanya dengan panutan singa yang selama ini kita remehkan? karena sebenarnya sama.

Wirausaha…. Emmm, jika kita amati seorang wirausaha bebas melakukan apa saja yang dia inginkan. Hello gaes, yang menjadi sorotan kita itu wirausaha yang sudah sukses, yang sudah punya nama, yang sudah punya hasil, yang pernah menjadi telur di ujung tombak karena menjadi yang terdepan dari tekanan yang datang. Yang kita lihat itu hasil, kita tidak pernah melihat proses.

Proses adalah waktu yang paling penting dimana semua tekanan sukses menjadikan motivasi seorang wirausaha. Bonusnya proses ini tidak kena sorotan media, sehingga tidak semua orang tahu.

Wirausaha adalah sikap, menjadi wirausaha bukan cuma mengandalkan ego dan kebanggaan saja karena bisa membuat lapangan usaha sendiri. Tantangan menjadi wirausaha adalah bagaimana kita bisa memberikan tekanan ke dalam diri kita sendiri dan menjadikannya motivasi. Wirausaha adalah sikap juara, karena mengerjakan tekanan dari diri sendiri itu tidak semudah mengerjakan tekanan dari orang lain. Antara terdidik dan terlatih…

Apa yang penulis pikirkan adalah bla bla ……. Semua orang suka dengan kenyamanan, semua orang bilang kita harus keluar dari zona nyaman. Tetapi tidak semua menjabarkan caranya, disini penulis mencoba untuk membagi yang sekira penulis bisa dibagi, bagaimana menjadikan musuh sebagai support, bagaimana menjadikan tekanan sebagai motivasi, yaitu dengan mengubahnya ke dalam sudut positif.

" Tekanan yang dipikirkan secara positif adalah motivasi yang sempurna "