Suatu pagi terdengar nada handphone berdering, tepatnya di bulan Desember 2016. Aku tergerak untuk melihat nomornya, ternyata belum terdaftar dalam phonebook-ku. Takut ada hal penting, aku lekas menjawab.

"Hallo. Dengan mas Gun, ya? Bisa saya appointment untuk sesi konseling?" Tanya seorang wanita yang suaranya terdengar berusia sekitar 40 tahun lebih.

"Ooh tentu bisa, untuk tempat dan waktu bisa sesuai kesepakatan." Jawabku sambil memikirkan, sepertinya klien kali ini adalah orang berpendidikan.

Singkat cerita, akhirnya kami bertemu pagi-pagi sekali. Benar dugaanku, beliau adalah seorang dokter yang saat ini sedang menjalani pendidikan spesialis di salah satu Universitas terbaik di Yogyakarta. Beliau juga seorang ibu dengan 3 anak yang sudah remaja, memiliki suami yang baik, religius, tampan & mapan. Sungguh terlihat seperti hidup idaman.

"Lha, terus apa masalahnya?" Pertanyaan yang berkecambuk dalam otakku saat itu.

Advertisement

Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan satu teknik andalan yang sering aku gunakan jika terjebak dalam situasi konseling bersama emak-emak, namanya teknik PDC (pancing dikit curhat). Yes!! Teknik tersebut berhasil. Ia bercerita panjang lebar mengenai masalahnya.

Ternyata, masalah yang dialami cukup serius tapi menghibur.

Pelan-pelan Ibu dokter itu becerita. Akhir-akhir ini dia terpikir mengenai mantan kekasihnya dulu. Anehnya, tiba-tiba mantan kekasihnya itu menghubunginya setelah sempat terpikirkan.

"Oh ya? Terus gimana?" Jawabku sambil tersenyum kecil ala konselor profesional.

Beliau akhirnya becerita panjang lebar mengenai kisah cintanya saat muda. Kisahnya kandas karena beliau memutuskan untuk memilih pria yang diinginkan orangtuanya. Memang benar, jika dibandingkan antara dua pria tersebut, pria pilihan orangtuanya jauh lebih baik (menurut versi budaya Indonesia).

Pria pilihan orangtuanya benar-benar pria yang sopan, religius, ramah, halus dan tentu mapan karena profesinya sebagai dokter ahli bedah. Menurut Ibu dokter tersebut pun demikian, ia berkata "Seharusnya saya juga bahagia, rumah tangga saya sangat harmonis, itu adalah impian setiap rumah tangga dalam kehidupan".

"Tapi entahlah, mungkin seperti orang yang suka makan bakso. Se-favorite apapun kalau makannya tiap hari ya bosen juga, begitu juga hidup, bahagia terus juga bosen ya?" Tambahnya.

"Lalu apa yang sebenarnya Anda inginkan dalam hal ini?" tanyaku pada Ibu dokter cantik tersebut.

"Saya bingung apa yang harus saya lakukan, saya ingin stop berkomunikasi tapi saya pikir saya tidak salah karena dia juga sudah beristri. Mas mungkin akan merasakan hal yang sama saat sudah menikah lama seperti saya." Tegasnya.

Karena Si Ibu dokter tersebut tidak menjawab pertanyaan yang saya maksudkan, akhirnya saya putuskan untuk menanyakan kembali pertanyaan yang sama.

"Saya ingin sekali bertemu dengannya dan bersama dengannya, tapi itu sudah tidak mungkin dengan keadaan saat ini." Jawabnya.

"Jika demikian keadaannya, berarti apa yang bisa Anda lakukan?" Pertanyaan demi pertanyaan kembali ku lontarkan dengan harapan, beliau mengubah cara berpikirnya.

(Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijelaskan di sini, karena ini menyangkut teknik-teknik linguistik yang digunakan dalam sesi terapi psikologis)

Tidak sia-sia, sesi berakhir dengan beliau menerima keadaannya saat ini. Sesi tersebut berakhir dan ditutup dengan kalimat yang cukup bagus dari si Ibu dokter.

"Mungkin benar yang banyak orang bilang bahwa move on itu bukan soal waktu, 8 tahun saya menikah tapi tetap dengan bayangan yang sama. Saat ini saya hanya perlu menerima kenyataan bahwa apa yang terjadi tidak pernah 100% sama dengan apa yang kita harapkan, saya hanya tidak bersyukur saja. Sudah saatnya saya menjalani hidup saya lagi."