Hari ini saya tidak memiliki ide menulis seperti biasanya. Mungkin karena sedang beradaptasi kembali setelah satu minggu mengikuti pelatihan di Thailand. Yap…adaptasi, setelah satu minggu yang menyenangkan dan produktif memang sulit untuk kembali lagi ke rutinitas yang biasa dilakukan di Jakarta. Bukan karena malas, tetapi mungkin karena saya agak susah move on hahahaha….

Bicara soal move on, ada sesuatu yang mengganjal sejak sebelum libur Lebaran kemarin. Buku yang sedang saya tulis (sebuah novel) macet di akhir jalan. Bukan di tengah jalan. Kalau macet di awal atau di tengah mungkin masih tidak terlalu masalah. Yang satu ini macet tepat pada halaman 95 (microsoft word, spasi satu, sekitar tiga puluh enam ribu kata lebih sudah terketik).

Memang terasa agak menyesakkan hati. Tetapi saya tidak bisa memaksa diri untuk melanjutkannya tanpa arah dan bentuk yang jelas. Saya masih mencari ide serta feel untuk melanjutkannya. Bila memang pada akhirnya mentok, mau tidak mau harus move on….dan mulai lagi dari halaman pertama (tidak masalah karena sebelum naskah yang ini, sudah ada dua naskah yang macet di tengah jalan).

Anggap saja memang belum jodoh hahahah….

Kehidupan pun harus terus move on alias berjalan. Tidak mungkin saya menetap di Thailand terus, karena ada hal-hal lain yang harus saya kerjakan di Jakarta. Begitu juga dengan rekan-rekan saya dari negara lain, mereka harus kembali ke negaranya untuk bekerja.

Advertisement

Ketidakmampuan dan ketidakinginan untuk move on lama kelamaan bisa menjadi racun. Bayangkan bila artikel Hipwee yang dipajang itu-itu terus…pasti akan membosankan bagi pengunjung. Meskipun mungkin sebelumnya artikel tersebut booming dan viral. Lama kelamaan akan basi dan terkesan web ini tidak kreatif.

Tren unik yang ada di website ini juga akan berganti dengan tren lainnya (yang saya maksud adalah penulisan judul artikel yang sangat panjang seperti – untukmu sopir bajaj yang kemarin mengantarku pulang ke rumah orangtuaku – atau – aku tetap mencintaimu walaupun kamu lebih sering mentraktir mantan pacarmu dan jalan-jalan dengan hewan peliharaanmu – atau 10 alasan mengapa pemasang iklan sedot WC di pohon bisa dijadikan pasangan ideal – ….ini hanya beberapa contoh, bukan judul artikel nyata )

Masih ingat juga kan dengan media sosial bernama Friendster? Sempat menikmati kesuksesan cukup lama sebelum kehadiran Facebook. Friendster tampak terlalu yakin dengan komunitas yang berhasil mereka rangkul dan tetap tampil begitu-begitu saja. Akhirnya web ini punah.

Dalam dunia teknologi, masalah per move on an terlihat jelas. Mereka yang berinovasi akan terus maju. Nokia sempat tergusur oleh keberadaan BlackBerry, dimana kemudian BlackBerry dihantam oleh brand lain yang mengusung teknologi Android. Sebuah produk tidak bisa berlama-lama menikmati kejayaan. Mereka harus move on dan mulai membentuk sesuatu yang baru untuk menjaring pasar.

Bisa disimpulkan move on bukan sekadar bergerak dari situasi yang tidak menyenangkan. Move on juga berlaku pada situasi yang menyenangkan. Juara Liga Inggris tidak bisa terus menerus berkutat dalam pesta. Musim yang baru akan dimulai, persiapan dan latihan harus dilakukan. Lulus kuliah juga bisa menjadi hal yang menyenangkan, namun ada saatnya kita bergerak dari rasa senang itu untuk mulai ke proses hidup yang baru.

Dalam bahasa pelatihan biasa disebut sebagai keluar dari zona nyaman

Ketika kita bergerak ke arah yang baru, bisa jadi ada sesuatu yang spesial sudah menanti kita disana, yang tidak akan kita temukan bila hanya berdiam diri. Hal ini dapat diterapkan dalam berbagai bidang. Misalnya dalam percintaan, mulai membuka diri bisa jadi akan mendatangkan pasangan yang lebih baik daripada si mantan.

Begitu juga dengan karir di bidang pekerjaan. Kita mempunyai pilihan untuk memiilih pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, atau terus menerus berkubang dalam pekerjaan yang arah karirnya tidak jelas, atau bahkan tidak kita sukai tetapi terpaksa dilakukan.

Saya pernah melakukannya (berkubang dalam pekerjaan yang karirnya tidak jelas), meskipun secara finansial bisa dibilang bagus, tetapi bila dikerjakan dengan terpaksa, kehidupan seperti tidak ada artinya. Tidak ada peningkatan kualitas, membuang-buang waktu, lama kelamaan pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan dengan mudah malah menjadi sulit (karena sudah tidak ada niat).

Hmm…tentunya saya sedang tidak menulis mengenai lari dari tanggungjawab. Itu sesuatu yang berbeda. Move on itu bergerak ke arah yang positif, lari dari tanggungjawab, dari istilahnya saja sudah terkesan negatif.

Move on perlu dilakukan ketika kita sadar kita hanya berputar-putar atau mengenang suatu kondisi yang sama atau begitu-begitu saja. Waktu terus bergerak dan tidak menunggu kita untuk sadar. Berlama-lama menyesali diri atau merendahkan diri sendiri tidak akan ada hasilnya.

Mungkin bila saya berhenti memikirkan mengapa terjadi kemacetan pada naskah yang saya buat (saya selalu merasa agak depresif ketika memikirkannya), saya bisa memulai dengan ide naskah yang lebih baik. Dengan harapan bisa dicetak menjadi sebuah buku.

Let's move on!