Aku sudah tidak lagi menyalahkan waktu, tidak lagi menyalahkan keadaan, dan bahkan aku tidak lagi menyalahkan pertemuan kita. Mungkin ini bagian dari rangkaian cerita yang sudah Tuhan gariskan, di mana aku masih diuji untuk menjadi wanita yang kuat kala diterpa badai.

Masih terngiang di ingatanku saat kamu menjemputku dan kita menghabiskan waktu bersama pada hari itu dan kemudian berlanjut menjadi komunikasi yang tidak ada putusnya. Semakin hari aku merasakan kenyamanan, nyaman bersamamu. Rasanya aku mulai bangkit lagi untuk merasakan jatuh cinta dengan sebelumnya patah hati yang begitu mendalam, namun semua berubah setelah kamu datang.

Siang hingga petang tidak pernah cukup untuk selalu bertukar kabar, menanyakan kegiatan, message gurauanmu dan video call yang rutin kita lakukan. Perasaan yang berbeda, lebih dari sekedar teman tumbuh dengan sendirinya, kamu pun merasakan hal yang sama. Merasa nyaman antara aku dan kamu, datanglah sebuah harapan bahwa aku menginginkanmu untuk bersamaku untuk mengukir cerita indah setia harinya.

Namun, semua itu sirna ketika kamu hanya menganggapku sebagai sahabat…

Bak disambar petir di siang hari, rasanya hancur. Banyak pertanyaan yang muncul di kepala, kenapa semua seperti ini, lantas kenapa kamu begitu baik, begitu perhatian yang aku rasa lebih dari sekedar sahabat? Apa semua yang aku rasakan ini tidak pernah kamu rasakan atau kamu pura-pura tidak tahu? Oh Tuhan, rasanya ini sakit.

Advertisement

Aku disakiti lagi oleh orang yang aku harapkan, orang yang aku pikir pantas untuk membahagiakan aku, orang yang bisa merubah hariku lebih indah, orang yang mampu membuatku bangkit dan percaya bahwa aku bisa jatuh cinta lagi.

Sayang beribu sayang, usaha yang aku lakukan untuk meluluhkan hatimu tidak berhasil, kamu tidak bisa aku miliki dan bahkan kamu menginginkan aku untuk tidak mengharapkanmu, sudah cukup jelas aku kira.

Aku harus tegas pada perasaanku dan bertindak dengan logika. Cara Tuhan menjadikan aku wanita kuat melalui kamu itu sungguh luar biasa, kini aku belajar melepas dan mengikhlaskan kamu dengan wanita pilihanmu. Aku terlalu berharap padamu, sedangkan kamu mengharap cinta dari wanita lain. Meskipun sungguh kalut, waktu akan membantuku bangkit kembali.