Ku mohon, berhentilah memaksaku untuk berjalan beriringan denganmu lagi. Kau tahu, semua paksaan membuatku jenuh. Kian hari dinding rasa ini mulai runtuh, pisau yang slalu kau goreskan membuat aku terbiasa dengan luka ini. Percayakah engkau, aku mampu mengobatinya dengan caraku sendiri.

Dan kini aku tersadar, aku hanya pelengkap hidupmu. Kau singgah saat kau lelah dengan terjalnya jalan hidup yang kau lalui. Namun, adakah hadirmu disaat aku membutuhkan dirimu, saat badai datang bersama hujan. Entah kemana perginya sosok dirimu saat aku butuh pundakmu untuk bersandar. Haruskah kita salahkan waktu ? Kenapa waktu tak berpihak dengan kita ? Jika kita berjanji untuk saling mengerti, waktu takkan pernah salah. Hanya saja kita yang tak mau mengalah.

Percayalah, jika Tuhan mentakdirkan kita bersama, cepat atau lambat kita akan kembali bersama. Namun jika tidak, yakinlah ada sosok di depan sana yang mampu membahagiakan kau dan sosok yang mampu memahami diri ini.

Sekarang relakan aku untuk pergi. Biarkan aku menjemput pelangi seorang diri. Biarkan aku menatap indahnya dunia tanpa keberadaanmu disampingku. Biarkan aku melangkah dengan serpihan-serpihan semangat ini. Tanpamu aku mampu berdiri tegak. Aku mampu tersenyum ikhlas tanpa canda tawamu lagi.

Terimakasih telah hadir dalam hidupku.