Sekarang aku sadar mungkin dia di ciptain Tuhan untuk sekedar menyiram kebahagiaan dihatiku lalu pergi, aku sadar semua yang ku harapkan selama ini cuman sebatas hayalan yang terlalu tinggi, dan akhirnya aku pun jatuh dari "ketinggian" itu. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan tak terasa sudah 4 tahun aku bersamamu, berbagi suka duka bersama, tertawa bersama, melewati masa-masa yang sulit bersama. Kemana pun aku pergi biasanya kamu selalu setia menemani ku, selalu memberiku semangat, memberiku nasihat, terkadang kau pun memarahi ku karna mungkin kecerobohan yang ku lakukan. Semakin hari kita semakin dekat, sering memberi kabar sudah menjadi hal rutin dimana pun kita berada dan aktivitas kita setiap saat. Seakan tak lengkap rasanya 1 hari tanpa memberikan kabar satu sama lain. Seiring waktu berjalan hubungan kita semakin rumit, kesalahpahaman seringkali membuat kita bertengkar, kata putus sering terlontar begitu saja dari mulut kita berdua. Tak terasa petengkaran itupun terjadi hampir setiap hari dan disetiap komunikasi kita. Terkadang kamu sering menangis karena kesalahan yang ku lakukan atau karena ucapan dan tindakan ku yang salah. Mungkin aku sadar kebahagiaan yang ku berikan tidak pernah sebanding dengan apa yang sudah kamu berikan. Aku akui aku tidak selalu bisa mengajak mu makan malam, mengajak mu nonton bioskop setiap malam minggu, membelikan mu boneka lucu yang kamu mau, memberikan mu kalung indah nuntuk menghiasi leher mu. Aku memang bukan tipe romantis seperti yang kamu mau, yang selalu mengumbar kata-kata manis untuk meluluhkan hati mu, yang selalu memberikan mu bunga ketika kamu marah, dan membangunkan mu dengan puisi indah dipagi hari. Aku sering bertanya pada diriku sendiri, "Apa alasan dia bertahan dengan ku?" Pertanyaan konyol itu pun sering ku tanyakan padamu, kamu pun terkadang menjawab dengan celotehan mu yang terkadang memancing pertengkaran lagi. Terlintas dipikiran ku mungkin hubungan kita sudah mendekati titik jenuh. Titik dimana rasa atau perasaaan sudah benar -benar jenuh dengan keadaan yang sama dan sudah tidak ada jalan keluar lagi. Kata maaf pun rasanya enggan terlontar dari mulut kita berdua. Saat itu pun tiba, kau akhirnya memutuskan untuk pergi dan disaat itu juga hubungan kita harus berakhir. Kini semua harus ku jalani sendiri, mencoba bangkit dari rasa sakit yang sulit untuk ku sembunyikan. Mungkin semua salahku, yang dulu membiarkan mu memilihku, membiarkan rasa ini tumbuh begitu saja, tanpa tahu akan apa dan bagaimana nantinya. Aku disini mencoba ikhlas dengan semua yang terjadi. Sekarang entah rasa itu masih ada atau mungkin sudah waktunya cinta itu pergi. Terima kasih sudah mecintaiku selama ini.