Aku pernah jatuh cinta, bahkan sangat mencinta tapi kini aku paham bahwa sebelum aku mencintai dia aku harus mencintai dulu Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Pemilik Hati.

Menurut ku dia duniaku

Yah, itu yang sering aku katakan bahwa dia adalah Dunia ku, karena apa? Karena tidak pernah terlewatkan satu hari pun tentangnya dari pikiranku, walau cinta kami terpaut jarak beribu kilometer tapi aku sangat mencintainya dan aku selalu merasakan getaran cinta di hatiku ketika mengingatnya, mendengar suaranya, ketika melihat gambarnya di layar ponselku saat kami video call-an, bahkan ketika kami mengungkapkan perasaan satu sama lain.

Tidak pernah satu hari pun hilang komunikasi. Yah,,, kami menjalaninya dengan sangat baik dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi dan aku tidak bisa tidur tanpa mendengar suranya, tanpa telepon darinya. Lebay memang, tapi itu aku dan itu nyata. Aku bahkan sudah sangat mengenal baik keluarganya. Sampai pada akhirnya ada wanita lain yang datang dalam kehidupan dia dan dalam hubungan kami.

Aku putuskan untuk mengakhiri semua

Saat aku tau bahwa ternyata ada wanita lain yang datang dalam kehidupannya aku mencoba untuk tegar sambil mendengar penjelasan dari dia, dan aku sempat mencoba mencari tahu tentang wanita itu. Ternyata wanita itu adalah satu-satunya anak dari seorang ibu yang lumpuh akibat stroke dan ayahnya meninggalkan mereka pada saat wanita itu masih berumur 1 tahun, bahkan ibunya sempat bilang pada lelakiku agar dia bisa membantu menjaga anak wanitanya.

Seketika itu aku menangis terharu mendengar ceritanya bahkan aku langsung berpikir alangkah teganya aku jika aku memarahi wanita itu karena terbakar rasa cemburu, dan aku putuskan aku yang harus mundur.

Advertisement

Aku sempat melakukan shalat istikharah sebelum mengambil keputusan itu, aku benar-benar bingung apakah keputusan aku itu tepat atau tidak?

Dan akhirnya aku sudah mantap dengan keputusanku.

Aku mundur tepat 6 hari setelah hari ulang tahunku. Seminggu setelah aku tahu bahwa ada wanita lain dalam hubungan kami, tepatnya setelah 3 tahun 6 hari perjalanan cintaku dengan lelakiku.

Pedih, iya !

Perih, iya !

Hancur,, iya ! (bahkan hingga berkeping-keping)

Mau mati rasanya menahan sesak di dalam dada

Semua rasa itu bukan tanpa alasan, tapi rasa itu karena aku sangat mencintainya, bahkan dia adalah orang yang paling aku cintai setelah orang tua dan adik-adikku.

Aku adalah penyemangat diriku sendiri

Setelah keputusan itu aku ambil lalu bingung harus mulai dari mana untuk menata hariku, menata hidupku dan menata hatiku. Aku seperti orang yang melayang tanpa arah dan tujuan. Yah, aku kehilangan arah, tanpa ada semangat hidup aku terus menangis, entah menangis karena rasa menyesal akan keputusanku atau menangis karena rasa cinta yang masih teramat besar. Aku sendiri tidak mengerti seberapa dalam namanya terukir dalam hatiku.

Tapi seketika aku berpikir, mau sampai kapan aku begini terus aku butuh tempat bersandar dan aku sadar aku terlalu jauh dari Tuhanku, dari Sang Maha Pencipta, dari Yang Maha Memiliki Hati.

Yah aku harus bangkit meski cintaku tidak ada lagi untukku tapi Allah SWT punya cinta yang lebih besar melebihi apapun untuk hambanya yang taat. Mungkin saat itu Tuhan cemburu karena aku lebih mencintai hambanya daripada Penciptanya, aku bahkan hampir lupa pada Sang Maha Kuasa, Sang Maha Cinta.

Dan akhirnya Tuhan lebih memilih melihat aku patah hati berkeping-keping daripada melihatku berada pada cara mencintai yang salah.

Pantaskan dirimu untuk jodohmu kelak

Kini aku tau aku harus apa. Yang harus aku lakukan adalah memperbaiki diriku menjadi lebih baik, #memantaskandiri untuk calon Jodohku kelak. Mendekatkan diriku pada Sang Maha Kuasa dan hanya meminta pada Sang Maha Pemilik Hati karena Dia Yang Maha Membolak-balikkan hati dan yang dapat merubah takdir adalah do'a yang tulus, ikhlas.

Sekarang aku baru terpikir, ternyata bohong semua itu yang katanya:

Mungkin aku bisa mati tanpa cinta

Hei, buktinya aku masih bisa hidup sampai sekarang tanpa duniaku itu, meski butuh proses untuk bisa berdiri tegar seperti ini bahkan waktu satu tahun pun tidak cukup untuk berdamai dengan rasa itu, dan kini rasa cinta terhadap Tuhan ku lebih besar dan melebihi apapun yang aku punya di dunia ini, bahkan diriku sendiri.

Jadi semangat memantaskan diri dihadapan Tuhan karena Dia sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik untuk kita, dan mintalah pada yang Menciptakannya (mencintai dalam diam). Mudah-mudahan do'a mu terkabul. Amin.