Aku lupa sudah beberapa aku jatuh bersama angin yang kuat, bahkan hingga petir menyambar.

Kadang kala aku merasa lelah harus membasahi pipiku dengan tetes pilu. Aku merasa tiada terik di hariku. Semua bagai musim hujan yang diisi beberapa detik sinar mentari. Hujan, mungkin bagi kalian adalah sebuah anugerah dan itu juga bagiku. Namun ini berbeda, ini adalah hujan yang merajam setiap semangatku dan membuat ku selalu terlihat lemah. Aku bukan tak suka dengan Hujan, namun aku tak suka dengan alasan mengapa Ia jatuh.

Aku ingin bercerita, bahwa aku pernah kehilangan lelaki yang aku pertahankan hingga setahun lamanya. Aku juga pernah kehilangan satu nyawa seorang lelaki yang menjadi teman terbaikku. Bahkan aku kehilangan lelaki yang telah aku agung-agungkan layaknya dewa. Dan apa itu tidak cukup?

Apakah aku harus jatuh beribu-ribu kali seperti hujan hingga menjadi kebahagiaan tersendiri untuk orang lain?

Kini serasa mendung di hidupku, aku hampir kehilangan seseorang yang menjadi pawang hujanku. Dia hampir pergi, dan mungkin memang harus pergi. Aku bukan sosok egois yang mengharuskan dia tetap tinggal. Aku hanya takut, bakal ada keperihan dibalik hujan karena kehilangan-hatinya. Aku tau Tuhan punya rencana yang lebih indah.

Advertisement

Namun setahuku, rencana indah itu hanya datang seperti sejam terik yang kemudian tertutup awan hitam.

Apa mungkin aku diciptakan sendiri? Kenapa Tuhan menghapus sedikit demi sedikit sesorang yang sangat berarti bagiku? Kenapa Tuhan tak menghilangkan rasaku saja, rasa yang selalu orang anggap manis namun ternyata pahit, rasa cinta.