Sebagai anak Sastra Jepang apa sih yang paling diinginkan selama kuliah? Pasti pergi ke Jepang dong. Mulai dari student exchange, summer school, internship juga udah semua kita coba namun tidak semua berhasil pergi kan? Ada juga yang dengan biaya sendiri. Seperti yang terjadi pada saya dan teman saya secara tiba-tiba. Bukan tiba-tiba juga sih, selesai KKN dan hanya punya waktu dua minggu untuk menyiapkan visa dan segalanya bagi saya itu sangat dadakan.

Hambatan yang kita lalui untu berangkat sangat banyak. Waktu yang sangat sedikit untuk menyiapkan itinerary dan visa. Saya dan teman saya, Disa. Sampai begadang hanya untuk menyiapkan itinerary. Sudah termasuk trial and error pastinya. Lima hari sudah termasuk perjalanan di pesawat dan perjalanan mengguna kan bis malam dari Tokyo ke Kyoto. Kami berdua saja tanpa tour guide, kami saling bekerja sama. Saya yang menanyakan jalan, dan Disa yang mencari jalannya. Sebagai orang yang tidak bisa ingat arah, tentu saya akan hilang apabila sendiri. Kita saling bekerja sama dan ketika kita bisa menemukan arahnya, di situlah kita merasa pintar. Bukan berarti kita tanpa nyasar lho.

Saya sempat dibingungkan oleh masalah koper. Mau bawa koper dengan ukuran paling besar atau sedang? Saya sudah bela-belain beli koper ukuran besar yang baru, tapi tidak jadi dipakai. Karena untuk mengangkatnya saja saya tak sanggup. Koper ukuran sedang terlihat sempit dan tidak akan muat. Ketika Bapak saya yang merapihkan, saya masih melihat banyak ruang bahkan untuk oleh-oleh. Bapak saya memang hebat, kawan.

Saya memutuskan untuk membawa koper ukuran sedang dan cukup membuat kesal setelah melihat teman saya hanya membawa koper ukuran kecil. Bulan Februari adalah saat Jepang sedang musim dingin. Jangan lupa winter coat, sarung tangan dan baju hangat lainnya. Tidak usah bawa banyak-banyak baju ganti karena tidak akan keringetan kalian pun akan enggan untuk mandi. Setidaknya cukup satu kali sehari saja mandinya.

Ketika kalian pertama menginjakkan kaki di bandara dan tidak terasa dingin, jangan sombong dahulu karena bukannya tidak terasa dingin, tapi belum. Seperti yang saya alami, saya hanya memakai baju satu lapis karena sebelumnya Indonesia panas dan menenteng satu autumn coat karena saya tidak punya winter coat. Dan apa yang terjadi ketika saya keluar bandara? Angin kencang yang begitu dingin menusuk hingga ke tulang dan asap terlihat setiap saya membuka mulut. Jadi ingat, apapun yang kamu pikir, kenakanlah baju berlapis-lapis ketika musim dingin.

Advertisement

Rencana pertama adalah ke Odaiba, tahu kan di Odaiba ada apa? Yup, Gundam raksasa. Angin di Odaiba sangat dingin, dan sarung tangan berbulu saya bolong tepat di jari telunjuk, lain kali ingat-ingat untuk periksa semua barang sebelum pergi. Odaiba sangat luas dan sangat dingin. dan pada saat itu saya mendapat kabar penting, kita di Jepang berubah jadi sepuluh hari. Kita negosiasi dengan teman tempat kita menginap, izin dengan dosen yang strict dengan absensi. Dan ternyata kita mendapat kelonggaran masalah absensi karena kita ke Jepang. Kita sempat lama berpindah-pindah kursi mencari kehangatan, maksud saya mencari matahari. Karena kita sedang duduk dan tidak banyak bergerak, sehingga tangan pun mati rasa. Perjuangan tidak hanya di situ karena Saitama tempat kami menginap sangat jauh dari perkotaan. Berkali-kali ganti kereta, masih mencari-cari jalan dengan jalur kereta yang sangat rumit dan membawa koper dan ransel yang berat. Sangat menyusahkan tapi menyenangkan.

Di jepang sangat menyenangkan, selain jalan-jalan di negara impian, kita juga bisa mempraktikkan langsung apa yang sudah kita pelajari selama tiga tahun. Dan bertemu dengan kawan-kawan yang sedang menimba ilmu di sana tentunya. Jepang sangat rapi dan bersih. Kereta yang penuh sesak di saat rush hour, keapatisan para penumpang, dan perbedaan kereta pagi dan malam yang sangat signifikan. Kalian bisa melihat penumpang wanita yang bersolek dengan hebatnya di dalam kereta, kalian juga bisa melihat salaryman yang bertampang kaku dan serius. Kereta malam adalah tempat di mana para salaryman tersebut tertidur karena kelelahan dan mabuk. Jika kau beruntung, seorang pria tampan akan tertidur dan bersandar di bahumu.

Hal yang diperhatikan sebagai seorang muslim di luar negeri adalah makanan. Dan kami, pernah tidak sengaja makan sesuatu yang haram. Di dekat Tokyo Tower ada sebuah restoran Care Rice. Betapa ingin kami makan nasi kare khas Jepang yang sangat terkenal dimana-mana itu. Tentu kami waspada dengan makanan tidak halal. Tapi kami melihat di bawah menu-menu di restoran itu selalu disertakan dengan tulisan Arab dan kita langsung berpikir bahwa restoran tersebut pasti aman. Karena sudah malam, kami merencanakan esok hari akan kembali ke sini lagi. Keesokan harinya, kami masuk ke restoran yang cukup kecil bila dibandingan dengan restoran-restoran di Indonesia. Mungkin lebih tepat disebut kedai ketimbang restoran. Kami memilah-milah menu yang tentu saja menghindari daging babi. Satu porsi cukup besar dan rasanya sangat enak tentu saja. Ketika bill datang, kami terdiam melihat tulisan yang tertera di dalam bill “pooku kare”. Kami yang sudah tiga tahun belajar bahasa Jepang seketika merasa bodoh dan terus bertanya-tanya. “Dis, pooku kare itu babi kan?”.

Makanan yang sebelumnya terasa enak tiba-tiba terasa hambar. Kita semua sempat terdiam sebelum melontarkan tawa dan ejekan-ejekan pada diri sendiri. Akhirnya kita meninggalkan kedai itu setelah membayar dan tidak mengabiskan nasi karenya. Perlu diingat bahwa kedai dengan menu tulisan arab belum tentu terhindar dari makanan tidak halal. Kita bisa belajar dari semua hal ketika di luar negeri, #iniplesirku yang penuh pembelajaran.