Diponegoro yang dikenal sebagai sang pangeran yang gagah nan berani membela rakyat tuk menumpas kedzaliman penjajah yang kisahnya banyak membuat decak kagum ketika membaca kisah beliau. Cobaan yang begitu berat menjadi obat pembelajaran hidup yang tak ternilai dan tak pernah terlupa hingga raga menyatu alam fana. Beliau-lah sang Khalifah yang telah tertulis di Lauful Mahfuds dan teristimewa bagi Sang Sultan pertama penguasa Yogyakarta. Firasat nan kian nyata saat kisah hidup yang suci seperti kisah Kanjeng Nabi.

Nama muda yang mungkin terlupa karena pamor yang tak begitu masyur dibanding Sultan Ageng Hamengku Buwono I yang tak lain adalah buyut Mustahar. Kepolosan anak kecil itu tak urung membuat Sang Sultan surut dalam waspada gembira menyakini takdir pengusa adil yang disematkan pada Mustahar.

Terasing dikala kecil berlindung dari kemaksiatan kaum kafir yang melunturkan syariat Islam. Dibuai kasih sayang oleh wanita tua nan shalih perkasa membentuk kepribadian sang Pangeran kecil suci dan rendah hati, tak lain adalah Ratu Ageng permaisuri Sultan HB 1. Jiwa santri yang sengaja ditanam berakar amat sangat kuat merasuk jiwa dan raga hingga bercongkol bak akar gunung yang tertancap pada bumi Ratu Penguasa Jagad.

Mustahar rendah hati bergaul membaur dengan kaum jelata yang biasa menyebut diri kawula tak risih dilakukan. Membuka kedua mata fisik dan hati menaruh iba seta bibit kegeraman sangat saat kesengsaraan melanda rakyat lantaran memuaskan Sang Sultan pengganti Sultan Ageng yang telah berpulang yang bergelar Sultan Hamengku Buwono II. Sang Sultan Perkasa dalam bertatap dengan kafir Penjajah Belanda atau yang kerap mereka sebut kaum walanda (londo) namun berlunak hati dihadapan para pendamping wanita yang bertahta permaisuri maupun selir tak sedikit jumlahnya dan tak sedikit pula pengharapan duniawinya.

Ilmu menjadi kewajiban yang harus Mustahar cari melalui Pesantren tempat tuk menimba. Merasa haus akan ilmu membuat anak ini tekun menyelami ilmu luas seluas laut Jawa bahkan lebih luas samudera hindia dan mungkin berpuluh kali lipat dari luas tanah bumi pijakan para makhluk Allah terutama ilmu Islam Agung. Melalui bimbingan sang Kiai nan bijak veteran perang sahabat Kanjeng Sultan Ageng kala menancapkan Kasultanan Yogyakarta. Kiai Kholik nama sahabat Sultan Ageng yang telah menua namun gelora dakwah yang tak surut dari hatinya atau malah berapi-api demi mengajak dalam syariat Islam. Perlakuan adil terhadap sosok cicit Pembesar Sultan, membuat Mustahar malah senang karena hati yang mendamba akan layaknya menjadi rakyat biasa yang bebas, amat berbeda umumnya bangsawan Keraton. Memiliki sahabat sejati menemani kemanapun sang pangeran membuat diri Mustahar luput dari kata sepi teman. Tak membeda membaur dan rendah hati merupakan kunci sejati membuat decak kagum para rakyat dan teman santri bagaikan cahaya nan terang menyinari jiwa suci bersih Mustahar. Sangat luar biasa Maha Suci Allah tanda-tanda kebesaran telah tertanam sejak usia seumur jagung ini.

Advertisement

Ibunda Mangkarwati sang selir dan sang Buyut Ratu Ageng sangat menyayangi Pangeran kecil ini dan Pangeran pun sebaliknya tak kurang rasanya kasih sayang yang tercurahkan kepada Mustahar meskipun tampa kasih dari sosok perkasa, pemimpin rumah tangga, sosok yang sangat sinis bila dibahasnya namun kelak penyesalan ketika dewasa lantaran mengetahui kasih sebenarnya dari sang Calon Sultan Ayahanda Mustahar.

Mustahar yang terasing di sebuah tempat bernama Tegalrejo bertempat di puri yang amat cantik nyaman dan tentram kehidupan rakyat sekitar. Peran dari Sang janda Sultan Ageng membuat kenyamanan dan ketentraman Tegalrejo sangat dielukan rakyat sekitar. Pesat perkembangan dari pertanian maupun keamanan membuat rakyat dari seberang berduyun masuk di tanah sejahtera ini. Sang Pangeran tak hanya menimba ilmu dari para Kiai dan guru di Pesantren namun juga diberi ilmu dari para pengikut Ratu Ageng yang setia berwawasan luas, ilmu keraton dan aksara jawa kawi menjadi tambahan bekal Mustahar.

Sang Pangeran semakin lengkap terasa dengan hadirnya kedua paman yang berada disisi sebagai guru menunggang kuda dan olah kanuragan. Gelar yang tersumat dalam kedua paman berselisih usia tak begitu jauh dari Mustahar membuat tak hanya selayaknya hubungan saudara paman keponakan namun juga kakak adik, yaitu Sang Mangkubumi dan Hangbehi. Ratu Ageng tulus hatinya amat menyayangi kedua paman Mustahar yang tak lain adalah cucunya, ini membuat paman dan keponakan ini menjadi teramat istimewa bagi Sang Ratu Ageng. Kedua paman memang tak tinggal dalam puri Tegalrejo tempat Sang Nenek dan keponakan kesayangannya, karena istana-lah yang menjadi tempat tinggal bersama permaisuri mereka. Dilain sisi Mangkubumi dan Hangbehi bertindak menjadi pemberi kabar situasi terkini istana kepada Ratu Ageng terkasih. Permaisuri Sultan Hamengku Buwono I tak lain Ratu Ageng buyut Pangeran yang kelak sebagai herucakra sebutan bak gelar yang diagungkan Sang Ratu Adil.

END 1st Season