Kamu pasti mengerti bahwa hari-hari kamu sesantai apapun diisi oleh hal-hal yang bermanfaat. Kamu ingin bergegas, being mobile dan agile. Beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Di usia 30-an tahun, agaknya tidak membuat saya malu bertanya tentang apa yang bisa dinikmati selagi di usia pengujung muda sebelum saya menjalani next term of live.

Kuliah pascasarjana. Bergegas di pagi hari before office hour, saya menyempatkan diri ke kedai kopi, memilih moccacino. Tak lama kemudian, saya bersiap untuk menerima morning brief dari superior, mengangguk ketika memahami, meski sulit untuk menyanggupi. Sales campaign concept sudah figured out. Agaknya hari itu, saya tidak akan "megap-megap" bertemu client.

Generator inspirasi saya tengah menyala. Menikmati kopi pagi itu terlatih dari kalut hilangnya rasa percaya, menghadiahkan segala yang saya perlukan saat itu. Sepertinya saya jatuh bebas. Saya sendirian, tapi sepi tidak melanda saya.

Sore, sepulang kerja, saya berada di kedai kopi yang berbeda, dengan view yang sama. Pelataran parkir dan tanah berumput hijau. Beberapa perihal melantun teriring lirik "… you say it's best when you said nothing at all …"-nya Ronan Keating. Bagian yang hilang, terluka, turun-naik emosi, ingatan terpotong, memilih hal yang sama di rentang waktu yang panjang dan isyarat kebimbangan. Tak ada gagasan tentang ketidaksengajaan atau segalanya ter desain.

Saya baru saja mencoba varian kopi yang cukup baru untuk saya. Irish Coffee. Rasanya seperti blended dengan beberapa tumpuk wafer. Manis. Saya berjalan keluar dari kedai kopi dengan segelas Irish Coffee. Saya bergegas melangkah. Ada perihal yang tak bisa begitu saja membuat saya menunggu. Kebimbangan ini. Saya harus melewatinya. Setiap sesap kopi berarti beda. Manis pada langkah-langkah yang terbuat, tak peduli bagaimana ambience kedai kopi. Sedikit pahit untuk hard/tough matters, tak menjanjikan tawa terbawa peta langit jingga. Esok tak akan lama lagi untuk menjelang dan menjalaninya.