Namaku Surti.

Kini aku seorang Ibu dengan tiga anak. Banyak orang bilang namaku jelek. Dan aku tidak pedulli. Apalah arti sebuah nama, kata batinku. Satu yang pasti, hingga saat ini, aku tidak pernah tahu arti namaku sendiri. Bahkan aku juga tidak tahu hubungan namaku dengan diriku sendiri.

Pernah suatu kali, seseorang bertanya, “Kenapa sih kamu diberi nama Surti?”

Aku jawab sederhana, nama Surti diberikan orang tuaku tentu dengan penuh harapan. Harapan menjadi perempuan yang baik. Perempuan biasa yang tidak tergerus oleh hingar-bingar Jakarta, kota megapolitan yang penuh kemunafikan. Tapi aku percaya, nama Surti yang disematkan pada diriku adalah bukti syukur orang tuaku yang tidak pernah berhenti atas anugerah yang Maha Kuasa.

Aku tak pernah memamerkan namaku. Biarkan orang-orang saja yang memanggilya. Tapi jauh di sudut hati kecilku, aku sangat bangga memiliki nama Surti. Nama itu sangat mewakili jati diri aku sebagai perempuan biasa.

Advertisement

Kata orang namaku jelek. Hanya Surti saja. Mereka lupa, sejak 18 tahun lalu, aku punya nama lengkap Surti Tono Prawiro. Karena aku menikah dengan Mas Tono Prawiro, suamiku. Bagiku Mas Tono adalah sosok suami yang sederhana, pekerja keras, bertanggung jawab, pintar. Dan yang terpenting, Mas Tono selalu tampil apa adanya.

Sebenarnya, aku bisa juga dipanggil Ny. Tono, seperti kebanyakan perempuan yang sudah menikah. Tapi hebatnya, orang banyak lebih senang memanggilku Surti saja. Bahkan Mas Tono, lebih senang memanggilku Bu Surti. “Terima kasih, Mas. Kamu memang selalu apa adanya”, batinku.

Namaku Surti, memang terdengar kurang enak. Aku lahir di kota Jakarta. Keturunan Jawa. Sekali lagi, aku hanya perempuan biasa. Walau aku hidup di tengah gemerlap megapolitan seperti Jakarta. Aku tidak pandai menulis. Aku jarang bercerita. Aku bicara apabila aku ditanya. Apalagi oleh suamiku tercinta, Mas Tono. Dia terlalu pintar buatku. Sampai saat ini, aku masih sulit untuk mencari jawaban bila ditanya Mas Tono.

Sekarang usiaku 38 tahun. Dulu aku seorang guru Sekolah Dasar. Lebih dari 10 tahun aku mengajar. Tapi kini, aku hanya ibu rumah tangga. Mas Tono memintaku untuk berhenti mengajar sejak anak ketigaku lahir. Farah, namanya. Profesiku sekarang, hanya ibu rumah tangga.

Kata ibuku saat aku masih gadis, “Anak perempuan harus siap menikah. Agar hidupnya terjamin. Agar memiliki anak, punya keturunan”

Aku hanya mengangguk saja. Saat itu, aku tidak tahu. Apa yang akan terjadi pada perempuan yang menikah? Bagiku pernikahan itu gelap. Tak terbayangkan. Mungkin lebih banyak sedihnya daripada senangnya.

Ketakutanku tentang pernikahan pun menjadi nyata. Dipersunting Mas Tono, hidupku tidak lebih baik dari aku hidup bersama orang tuaku. Aku menjadi keluarga yang miskin. Mas Tono memang bekerja, tapi saat aku hamil anak pertama, dia tidak bekerja. Kantornya bangkrut.

Aku masih ingat kala itu, untuk belanja hari-hari, Mas Tono terpaksa mengorek celengan miliknya. Ya, mengorek celengan di malam hari, agar aku tidak tahu. Di atas karpet, agar recehan yang jatuh tidak bunyi. Ia tak mau aku terbangun dari tidur karena sedang mengorek celengan. Rumah tanggaku miskin, tapi aku tetap bangga punya nama Surti.

Menikah, bagiku tidak seperti yang dibilang ibuku. “Hidup kamu akan terjamin” katanya dulu. Batinku menolak keras. Omong kosong. “Siapa yang mau diajak menikah dan miskin?” kataku saat itu. Jangankan mencari sinar mentari, meraih sinar bulan sabit saja sulit. Bahkan tidak ada lagi angin yang mampu mendorongku untuk melangkah ke depan. Tak ada lagi cahaya. Menikah bagiku bagaikan berjalan di atas padang pasir yang tandus. Kering. Seperti bersimbah tangan di bawah dagu.

Mas Tono menganggur. Sementara kehamilanku memasuki 7 bulan. Anak pertamaku, buah cinta aku dan Mas Tono. Di suatu pagi, “Mau ke mana Mas? Tanyaku

“Aku mau cari rezeki Bu. Untuk cari biaya lahiiran anak kita” jawab Tono.

Lagi-lagi, aku hanya bisa membayangkan pernikahan yang bahagia. Inikah kebahagiaan lembaran baru kehidupan? Belum lama menikah, sedang hamil 7 bulan, dan suami menganggur. Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Walau agak sesak. “Ya Allah, inikah takdir-Mu padaku?” batinku bertanya.

Aku makin terbuai dalam lamunan. Sementara banyak suami sulit mendapat keturunan dari istrinya. Mas Tono tidak demikian. Sebentar lagi dia akan punya anak.Tapi, mengapa aku harus meanggung pahit getir kehidupan. Berjuang keluar dari kemiskinan. Sungguh, tidak adil.

Hampir tiap malam aku menangis. Jantungku terus berdesir. Khawatir biaya lahiran anakku tidak ada. Dalam tahajudku, aku pun sering menangis tanpa suara. Aku tahu Mas Tono terus ikhtiar untuk dapat pekerjaan baru. Tapi, hingga malam ini ……. belum ada. Tidak, aku harus kuat. Aku harus mendampingi suamiku. Apapun yang terjadi. Aku telah memilih Mas Tono sebagai suamiku. Karena aku. Surti. Perempuan yang tidak tahu arti namanya sendiri.

“Bu, maafkan aku yang belum mampu membahagiakanmu. Tapi aku janji, aku akan berjuang keras untuk membawamu ke mimpi kita berdua. Mimpi yang pernah kita bicarakan bersama sebelum menikah dulu. Percayalah, ini hanya ujian kita untuk naik kelas” tekad Tono pada Surti.

Tono melangkah pelan ke runag depan rumah. Terlihat bayangnya, di bawah sinar lampu bohlam yang agak kekuningan. Ia menyulut sebatang rokok.

“Ketahuilah Bu, aku sudah dari kecil hidup dalam kemiskinan. Karenanya, aku tidak ingin miskin lagi setelah menikah. Allah pasti mendengar doa dan harapan kita, percayalah” suara Tono lirih. Matanya agak berkaca-kaca. Batinnya seperti menangis. Ia tak sudi istrinya hidup dalam kemiskinan.

Tolong catat, namaku Surti. Perempuan yang salut pada suaminya. Aku memang tak pandai menghibur. Tapi aku selalu mendampingi suamiku, Mas Tono. Penuh setia. Penuh kasih sayang.

Hingga akhirnya, segala yang dijanjikan Mas Tono terwujud. Dalam perjalan panjang aku dan Mas Tono, rumah kami terus tumbuh. Benang merah kebahagiaan itu mulai tampak. Kaekuasaan Allah muali bergerak. Aku selalu ingat kata-kata Mas Tono hingga kini. “Segalanya dapat berubah dan berbuah”

Namaku Surti, inilah hari kemenanganku. Tidak ada lagi gunjingan orang lain padaku. Aku tak peduli kata orang lain. Aku hanya fokus pada apa yang aku harus kerjakan. Tanggung jawabku sebagai istri, sebagai ibu dari anak-anakku. Aku hanya perempuan biasa, yang harus mengabdi pada suamiku. Selalu setia mendampingi Mas Tono, dalam suka atau dukanya. Mengasuh anak-anakku siang dan malam. Karena aku Surti, perempuan yang tak harus sempurna di mata suami. Tapi perempuan yang selalu mencari cara untuk memperbaiki diri.

Namaku hanya Surti. Bukan Ny. Tono Prawiro. Tapi aku adalah perempuan yang tidak berusaha mengubah suamiku walau aku memilikinya. Karena aku sadar, tidak ada yang dapat mengubah diri orang lain selain dirinya sendiri. Aku memang hidup di kota Jakarta, di megapolitan yang serba ada, penuh hingar-bingar tapi aku tetap menjadikan suamiku sebagai prioritas.

Sekali lagi, namaku Surti. Aku hanya perempuan yang mengerjakan profesi sebagai ibu rumah tangga dengan penuh senyum. Selalu ikhlas walau melelahkan. Membersihkan setiap sudut rumah adalah ibadahku. Rumah adalah kemuliaanku bersama suami dan anak-anakku. Aku yang menjadikan rumah sebagai cahaya, tempat senyum terkembang, tempat bahagia tercipta. “Rumahku, dari tempat inilah cinta dan ketulusan perempuan dapat menjadi anak tangga menuju surga-Nya” kata Surti.

Namaku Surti, perempuan yang sabar dalam meniti jalannya. Karena sejak dulu, aku bertutur dalam hidup tentang KITA, bukan AKU atau DIA. #SurtiBukanPerempuanMetropolis