“Mas, monggo mau pesan apa ?”, seorang Mbak-mbak cantik menyapaku, tidak lama setelah Aku duduk di gazebo dengan wajah kumal penuh asap knalpot.

“Kopi yang enak disini yang mana mbak? “ tanyaku sambil melempar senyuman,

“Banaran Spesial Mas “ sahut mbak-nya

“Oh, ya aku pesan itu aja ya mbak” jawabku

“Di tunggu ya, Mas” Kata mbaknya.

Kemudian si mbak-mbak pelayanan tadi melempar senyuman terakhir sebelum masuk ke tempat penyajian. Sambil menunggu pesananku datang. Aku melempar pandangan ke seluruh area tempat ini. Banyak pohon-pohon rindang nan besar seakan mengayomi bangunan bergaya Belanda. Klasik kesan yang ditimbulkan, Banaran 9 namanya, tempat ini terletak di antara jalan raya Semarang-Magelang km 50, dekat dengan kediaman Syech yang dahulu kala pernah tenar karena isu pernikahan.

Jikalau kamu meluncur dari arah Magelang, tempat ini berada di kiri jalan, jikalau kamu dari arah Semarang maka sebaliknya. Dari pinggir jalan raya tersebut kita akan dengan dengan mudah mengenali tempat ini. Di sekujur halaman dihiasi dengan aksesoris payung yang berwarna warni mengelantung diantara pohon-pohon rindang nan besar.

Tidak terlalu lama, pesananku datang. Di bawa oleh mbak-mbak tadi. Setelah diletakan di meja aroma kopi hitam begitu kuat menusuk hidungku, Akhirnya Banaran Spesial tersaji di depan mataku. Kopi hitam. Kesan pertama aku melihatnya. Dalam ritus sejarah minum kopiku, Memang lebih banyak bersentuhan dengan kopi hitam, Entah kenapa aku jarang “keplak ilat” selain dengan kopi hitam.

Kopi hitam memang candu, bikin ketagihan, bikin gak mau jauh-jauh, Hal itu terbukti ketika sruputan pertama si “Banaran Spesial” mendarat di lidah, Rasa robusta benar-benar dominan dan mendominasi. Pahit dengan sedikit asam bersatu padu dengan balutan air hangat. Nyaman sekali bagi lidah, membuat kecanduan. Seakan tak ingin berhenti menikmati seruputan dan tegukan kopi ini.

Advertisement

Sekali lagi aku tegaskan bahwa ini benar-benar candu. Oh iya, kopi Banaran Spesial ini dibanderol dengan harga Rp 8.500,-. Benar-benar murah untuk harga sebuah candu.

Aku memilih tempat ini untuk istirahat ketika menyusuri rimba jalan raya dari Yogyakarta ke Semarang. Tempatnya aku rasa tepat berada ditengah-tengah antara Semarang dan Yogyakarta. Kau rasa. Lho. Jadi ya kalau tidak tepat-tepat banget ya engga apa-apa.

Emm begini, Jikalau kamu sedang dalam perjalanan dari Jogja ke Semarang atau sebaliknya, sebagai seorang yang suka menyeduh kopi, maka mampirlah. Tempatnya ayem sependek pengamatanku sebagai orang jawa. Cocok buat ngaso jikalau terhimpit lelah dan macet jalan lintas provinsi yang dijejali truk tronton yang bermeter-meter panjangnya.

Cobalah ngaso. Ngaso sembari nyeruput kopi. Niscaya lelahmu akan lumayan terobati. Kenapa aku yakin begitu? Karena aku sendiri pernah mencobanya. Dan hasilnya cess pleng. Lelah dijalan sedikit terobati oleh seruputan-seruputan dibibir cangkir kopi. Kadar iman untuk pulang yang awalnya tergerogoti oleh ganasnya jalan raya, sedikit demi sedikit menebal kembali dan kekuatan untuk ritus pulang menguat kembali. Maka dari itoe tjobalah.