“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu,

Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu,

Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu,

Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal”

Sudah lebih dari jam delapan malam saat mataku masih terjaga dibawah lampu-lampu jalanan industri. Menembus kabut tebal juga dingin yang menyusup diantara jaket sisa hujan deras senja tadi. Di depan ruko yang sudah tutup terhalang pohon besar tepi jalan aku melihat Rahman. Iya, seorang anak yang akhir-akhir ini menyita perhatianku. Tetap dengan jaket lusuh warna hijaunya, pun tetap dengan gerobak hijau tempat cilok yang dia jajakan. Sesekali dia menggosokkan kedua tangannya, mungkin kedinginan. Matanya nanar melihat ke depan. Aku yakin tidak ada yang benar-benar dia lihat sekarang. Hanya otaknya yang mungkin sedang sibuk memikirkan banyak hal.

Advertisement

Dia Rahman, Anak sekecil itu yang justru membuatku belajar untuk lebih merdeka akhir-akhir ini. Lantas, apa dia sendiri sudah cukup merdeka ?

“Cilok lima ribu, belum pulang?” aku berdiri di depannya sekarang.

“Belum mbak, tinggal dikit barangkali bisa habis.” Dia tersenyum, tetap sumringah seperti biasanya.

Anak periang dan penuh semangat itu, menurutku dia masih belum merdeka. Bagaimana bisa? Anak seumuran dia sudah harus menanggung beban besar berkelahi dengan waktu. Aku yakin dia juga lupa kapan terakhir bermain leluasa dengan teman-temannya, apalagi setelah Ayahnya meninggal. Dia harus tetap bersekolah, dan tanggungan biaya menuntutnya untuk tetap berjualan cilok dari siang sampai larut malam, kemudian pagi-pagi sekali dia sudah harus siap-siap untuk kembali sekolah. Apa kabar PR sekolahnya? Kapan dia bisa belajar dengan nyaman?

Tapi apa kalian tahu definisi sederhana “Merdeka” menurut Rahman? Bisa tidur malam dengan tenang, cilok habis sebelum jam delapan malam, dan besok pagi bisa bersekolah dengan badan yang segar karena tidak tidur larut malam. Sesederhana itu.

Pernah suatu waktu aku mencercanya dengan banyak pertanyaan, dan dia menjawabnya sederhana, “kalau saya ngga jualan, saya sama ibu saya makan apa mbak? Yang penting cilok laris, besok bisa sekolah, semua harus disyukuri Mbak.” Jawaban yang berhasil membuat mataku lebih lebar menyikapi hidup. Anak itu, yang memaknai merdeka dengan cara bersyukur sebanyak-banyaknya, kemudian tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk lebih memerdekakan Hidupnya juga ibunya. Definisi merdeka dari mata anak sekecil itu mampu memberikan pelajaran berharga untuk kita, sekaligus untuk bangsa besar yang kita cintai ini.

Bagaimana dengan kita ? Apa kita masih belum merdeka? seperti apa gambaran nyata #MerdeKamu?

Tidak jarang kita masih sering membandingkan hidup kita dengan orang lain yang –menurut kita- hidupnya jauh diatas kita. Memupuk penyakit hati yang menimbulkan dampak negatif dengan lebih banyak menuntut pada Tuhan tanpa menyadari seberapa banyak nikmat yang sudah Dia berikan. Lantas apa kita sudah merdeka dari penyakit hati dan jajahan atas hidup orang lain?

“Aku merasa tidak sebahagia dia.” Hanya akan membuat kita lebih tidak merdeka lagi. Bukankah dari kecil kita sudah merdeka atas hidup kita? Bukankah ada banyak hal yang sudah membuat kita bahagia? Sederhana saja, kita bisa makan dengan layak, bisa sekolah, belajar bahkan bermain dengan nyaman. Selanjutnya mari lebih memerdekakan diri dengan lebih banyak bersyukur kepada Tuhan. Gunakan hidup orang lain sebagai pembelajaran, bukan penjajahan untuk hidup kita. Karna Merdeka bisa diartikan bebas. bebas dari tekanan di luar sana yang membuat hidup kita tertekan sehingga lupa bersyukur atas apa yang kita punya.

Merdekakan diri dengan mensyukuri apa yang sudah kita miliki, bangga dengan potensi yang dimiliki dan tetap berusaha menjadi lebih baik lagi.

Pun atas Bangsa Indonesia yang kita cintai ini, yang sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan hasil alamnya. Bukankah Indonesia memiliki tanah yang subur untuk berbagai jenis tanaman? sebagai contoh, kita memiliki biji coklat, karet, kelapa sawit, cengkeh yang menempati urutan atas dari segi produksi di dunia, juga hasil tambang dan masih banyak yang lainnya, Mengapa tidak lebih bersyukur atas itu semua? dimulai dari diri kita sendiri sebagai warga asli Indonesia, mari lebih merdeka dengan tidak dijajah oleh produk asing. kurangi membeli produk impor dan bangga akan produk sendiri. bukankah kualitas produk lokal kita pun sudah layak bersaing di pasar Internasional? Kemudian yang tidak kalah penting adalah Percayakan pengolahan hasil alam Indonesia ke tangan generasi muda asli Indonesia. Bukan malah untuk dikelola dan dikuasai Tenaga Asing. Dimulai dari bagaimana pemerintah lebih meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dan mengusahakan semua kalangan untuk berhak mendapatkan pendidikan yang layak, biaya yang murah juga akses yang mudah. bukankah generasi cerdas penerus Bangsa tidak hanya lahir dari keluarga kaya raya? Kesempatan itu juga dimiliki oleh anak pelosok desa yang orang tuanya hanya seorang kuli panggul, ataupun anak-anak yang masih punya minat tinggi untuk sekolah disamping bekerja membantu Ibunya.

Percayalah bahwa Generasi muda Indonesia mampu meningkatkan dan mengolah sebaik-baiknya hasil alam Indonesia. Banggalah dengan Indonesia -dari segi Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alamnya-. Mari lebih Merdeka dengan bersyukur dan mengoptimalkan apa yang sudah dipunya kemudian berusaha sebaik-baik nya.

Jadi, Nikmat Tuhanmu mana lagi yang masih kamu dustakan ?