Kami dipertemukan oleh acara penyambutan mahasiswa baru, di mana kami tergabung dalam satu kepanitiaan. Lambat laun kami mengenal dan mulai ada hobi di antara kami yang sejalan. Mulai dari bernyanyi saat berkendara, saat jalan ke kampus, maupun berdendang sendirian di taman, semuanya seolah beririsan. Hingga pada akhirnya kami sering dipertemukan dan sering keluar malam bebarengan. Menyenangkan.

Tak sampai hanya di situ saja, kami pun mulai berangkat ke kampus bebarengan, seolah-olah kami sudah pacaran, padahal bukan. Kami menikmatinya, karena kami menganggap penilaian orang lain adalah sebuah kewajaran. Hingga pada suatu saat, aku pun menghilang.

Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku menghilang dengan alasan kesibukan, padahal kenyataannya pada soal percintaan dengan lain orang. Bagiku menyenangkan, baginya mungkin menyakitkan. Namun karena dia adalah wanita tangguh, dia bisa menjalani aktivitasnya dengan baik walau dalam hatinya amat menyakitkan. Selang beberapa bulan, akhirnya aku pun kembali menyapanya seolah tak membuat kesalahan menyakitkan. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, hingga dapat melakukan itu tanpa beban.

Kisah cintaku dengan lain orang tak kunjung berhasil, pertemanan kami masih berlanjut sampai perpisahan di bangku perkuliahan. Dia yang mengantarku dalam upacara wisuda, pun sudah mengenal sebagian keluargaku yang datang. Lagi, mereka mengira kami pacaran, padahal bukan. Banyak memang yang mengira kami pacaran, padahal bukan. Apa kami terlalu cocok untuk jadi pasangan? Entahlah, jodoh di tangan Tuhan. Karena pada saat itu aku menganggap bahwa pacaran suatu saat akan menimbulkan kebencian, maka dari itu aku menghindari yang namanya pacaran, apalagi sama teman seperjuangan.

Hubungan pertemanan kami teruji, saat aku memutuskan untuk menyebrang kurang lebih selama 6 bulan. Komunikasi tetap jalan, justru semakin dekat dengan yang namanya percintaan. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, bersamanya membuatku semakin nyaman. Kami berdua mulai bawa perasaan, dan anehnya sama-sama ingin lebih dari sekadar teman.

Advertisement

Setelah 6 bulan ke negeri seberang, pulanglah aku ke kampung halaman. Aku sadar aku telah membuat kesalahan karena terlanjur bawa perasaan, padahal yang ku ingin hanya sekadar teman. Dia semakin berharap lebih, tapi aku tak bisa, karena aku masih punya banyak pertimbangan. Bodohnya diriku yang lebih mementingkan kesenangan sesaat daripada hubungan pertemanan.

Perlahan kami pun mulai berjauhan. Intensitas komunikasi lambat laun semakin turun, hingga pada akhirnya kami pun mulai tutup buku pertemanan. Dia sudah mulai membuka buku barunya, aku pun sama. Namun buku lama masih tetap ku simpan, agar bisa kembali dibuka di saat-saat aku butuh senyuman.

Ku persembahkan lagu “Gagal Bersembunyi” dari The Rain ini, untuk kawanku yang tak mungkin kulupakan. Nikmati senjamu, Kawan!

Hei,

Apa kabarmu jauh di sana
Tiba tiba teringat cerita yang pernah kita upayakan
Kupikir aku berhasil melupakanmu
Berani beraninya kenangan itu datang tersenyum

Meskipun jalan kita tak bertemu
Tapi tetap indah bagiku
Semoga juga bagimu

Kau tahu aku merelakanmu
Aku cuma rindu
Aku cuma rindu

Takkan mencoba tuk merebutmu
Aku cuma rindu, itu saja

Gagal, kali ini gagal bersembunyi
Di balik kata-kata bijak
Yang selalu mampu membuat aku terlihat tangguh

Padahal hancur lebur harapan
Yang terlanjur kupercaya