Nilai A Sebagai Kado di Hari Ibu

Ibu merupakan malaikat yang benar-benar nyata. Pengorbanan seorang ibu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ibu yang dapat menjadi seorang sahabat, pendengar yang baik bahkan dapat menerima kita apa adanya. Melalui seorang ibu kita mendapatkan arti sebuah kasih sayang dan ketulusan yang begitu besar.

Tanggal 22 Desember 2015 yang bertepatan dengan hari ibu, saya belum pernah memberikan kado yang spesial untuk ibu saya. Setiap orang berbeda-beda dalam memperingati hari ibu yang identik dengan pemberian kado berwujud barang. Tetapi berbeda dengan saya, latar belakang saya yang masih sebagai mahasiswi sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, apalagi saya kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yaitu di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) dengan prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Berkaitan dengan hari ibu, kado yang dapat saya berikan hanyalah berwujud nilai. Karena berhubungan dengan tugas Keterampilan Bahasa Indonesia Tulis (KBIT), jika artikel yang saya buat dapat termuat maka jaminan nilai A dapat saya peroleh. Tetapi tidak semudah yang dibayangkan, saya pernah membuat sebuah artikel namun belum termuat di salah satu media cetak. Hal tersebut lantas tidak membuat saya berkecil hati, walaupun banyak dari beberapa teman saya sudah termuat. Tetapi hal itu tidak akan mematahkan semangat saya untuk mendapatkan nilai A dengan termuatnya artikel saya. Bagi saya kegagalan menjadi motivasi saya untuk selalu mencoba karena kesempatan tidak hanya datang dua kali. Itulah sebabnya saya harus berusaha untuk mendapatkan nilai tersebut. Dengan demikian kado yang akan saya persembahkan untuk ibu saya yaitu dengan memperoleh nilai A. Begitu aneh bukan? Betapa penting nilai A menjadi sebuah kado di hari ibu.

Sleman, tepatnya di desa Saragan, Pandowoharjo merupakan tempat tinggal saya. Saya dilahirkan dari keluarga sederhana. Ibu saya bernama Sukini, yang berusia 43 tahun. Beliau hanya sebagai ibu rumah tangga. Kesederhana itu yang membuat saya selalu mementingkan hal sekecil apapun bahkan yang berkaitan dengan kuliah. Karena saya menyadari betapa besar dan sulitnya perjuangan seorang ibu mulai dari kandungan hingga saya menjadi anak yang berpendidikan lebih tinggi darinya. Disamping itu ayah saya bernama Mariyono yang bekerja keras untuk menafkahi keluarga dan biaya kuliah saya. Sehingga kedua orangtua saya berharap apa yang mereka korbankan sebanding dengan apa yang saya lakukan. Banyak orang yang meremehkan keluarga saya, dengan alasan orangtua saya yang tidak berpendidikan tinggi. Karena bagi saya belum tentu orang yang meremehkan saya itu dapat beranggapan bahwa dari hal yang sederhana seperti sebuah nilai dapat membahagiakan kedua orangtua.

Kita sebagai mahasiswa yang masih menikmati fasilitas dari orangtua harus menyadari bahwa sekecil apapun pengorbanan orangtua dapat berpengaruh besar pada kebahagiaan kita. Sehingga salah satu cara kita berbakti kepada orangtua tidak harus dengan cara mewah tetapi sederhana dan berkesan.