Dinginnya malam tak mampu bekukan rasa di hatiku.
Hati ini, masih terus menguak ada rasa yang tertinggal. Yang meski tlah terkubur lama, dia tetap tersimpan.
Hati ini mengatur sedemikian rupa hingga aku terus berpikir tentangnya.

Gelisah, gundah, merana? Tak tahu aku harus namainya apa.
Yang kutahu, ada ruang kosong didalam hati yang benar benar kurasakan. Ada sesak yang ingin mencuat keluar dari rongga jantungku. Mendorong, memaksa untuk bisa terhempas lepas. Dan jika beruntung, kuberharap ditangkap oleh sang pujaan.

Namun itu hanya harap, dimana yang kutahu ku takkan pernah memilikimu. Entah dengan cara apapun itu. Entah dengan sekuat apapun kucintaimu.

Mata ini, pada akhirnya mengeluarkan air rasa tuk turun. Mengairi sanubari yang telah lama memendam rindu. Menjatuhi pipi dengan segenap kekuatan yang akhirnya rapuh. Karnamu.

Aku tidak meminta tuk kau jadi milikku. Aku tidak sehebat itu tuk memintamu ada. Kamu tahu, aku ada. Kamu tahu dalam setiap detik jam dindingmu dan setiap hembusan nafasmu aku sedang memikirkanmu. Meski sejujurnya pada saat itu kucoba menepis kamu tuk melintasi pikiranku, namun sekuat apapun ku menepisnya, sekuat itu juga aku selalu merasa rindu padamu.

Advertisement

Ya, saat ini kamu takkan pernah tahu, takkan pernah merasa jika aku memiliki rasa yang menyiksa. Entah cintaku tak pernah dihargai atau hanya kamu yang merasa jika kita tak pantas bersatu tapi ya, kusadari semua itu. Aku sadar semua.

Tapi maafkanlah aku, aku telah mencoba lupakanmu. Dengan segala caraku. Dengan cara halus, dengan cara kejam seperti aku coba melupakan orang lain. Tapi tetap tak bisa, kau berbeda. Setiap inci dari lembutmu, setiap khas dari tawamu, setiap simpul dari senyummu, setiap hembusan udara dari nafas dan wangimu. Ku ingat semuanya. Maaf, ku tak bisa melupa. Terlalu manis tuk kuhilangkan dari diri ini karena bagiku dirimu satu yang terspesial dalam balutan yang menarik tuk ku miliki.

Selalu kuteriakan dalam diri ini, ku 'kan dapatkan yang lebih baik. Namun kemudian kusadari, dan kuberikan tanya retoris pada diriku sendiri, "Bagaimana kau bisa dapatkan yang lebih baik, jika dialah yang terbaik untukmu?"

Karena logikaku, takkan pernah bisa menghapus rasa cinta. Entah ini tulus atau bodoh, yang jelas kurindumu. Kucintaimu dengan segala ketulusan, dan segala kebodohan tuk dosa termanisku.

Dan sekarang, selamat malam sayang, jika ku bisa memanggilmu demikian.

Dimanapun kamu berada, dengan siapa kamu bersama, apapun yang kamu lakukan.

Berbahagialah.

Karena bahagiamu, itulah yang membuat ku bisa (dan tetap) cintaimu.