Lebih baik seperti ini

Merasa kosong dan hampa

Sendiri menatap jalan panjang tanpa jawaban

Mengabaikan bisik-bisik luka yang sering menyapa

Advertisement

Lebih baik seperti ini

Bersamamu hanya ada tangis dan luka

Berulang kali kuteguhkan hati,

Disaat itu pula kekecewaan datang menghampiri

Lebih baik seperti ini

Hanya aku yang tahu bagaimana sakitnya

Biarlah kupasrahkan langkah ini

Aku Percaya…

Akan ada titik cahaya diujung jalan ini.

Masa depan yang pernah kita rajut bersama. Hancur berantakan, tak ada sisa. Karena aku hanya sendiri disini tanpa kamu. Kamu yang dulu selalu mengisi hari-hariku, kamu yang selalu bertanya kabar, kamu yang senang sekali bercerita, kamu yang terkadang over protective, kamu kamu kamu, semua tentangmu masih terkenang dengan jelas.

Hari, Bulan dan tahun yang telah kita lewati bersama, ternyata tak cukup untuk menimbulkan rasa percaya dihatimu. aku sering menjadi korban ketidakpercayaanmu. berulang kali kujelaskan, rasa percaya itu tetap tak pernah menyapa. Mengapa kamu sulit sekali untuk percaya padaku? Adakah sesuatu dari masa laluku yang mengusik pikiranmu? Kamu hanya diam dan berlalu pergi ketika aku menanyakan hal itu.

Pertengkaran demi pertengkaran sering mengisi dan menghantui kisah cinta kita, aku bahkan memakai istilah 1 minggu bersama dan 1 bulan bermusuhan. Terlalu banyak waktu terbuang untuk pertengkaran yang tak ada habisnya. Namun, kita selalu coba untuk bertahan dan terus bersama karena pada saat itu kita yakin Cinta Sejati hanya akan terbentuk dari perjuangan, kerja keras dan air mata. Pernikahan adalah rencana masa depan kita.

Sampai pada akhirnya kamu memberanikan diri untuk melamarku, secara langsung, hanya ada kita berdua. Sampai saat ini aku masih mengingatnya, menikmati sunset sore + dinner romantis dipinggir pantai yang ditutup dengan momen kamu mengeluarkan cincin dan melamarku. “Semua yang telah kita lalui, suka, duka, tawa, tangis, membuat aku yakin bahwa kamu memang jodohku. maukah kamu menemani, mengisi dan bersama-bersama menjalani siasa hidup denganku?”. Begitulah ucapanmu saat itu. Sejujurnya, Aku bingung harus menjawab apa dan aku meminta waktu kepadamu untuk memikirkan hal ini, aku tahu saat itu kamu kecewa dan hanya mengangguk setuju atas jawabanku.

Setelah peristiwa lamaran romantis dipinggir pantai itu, kamu terus memojokkanku untuk menjawab dan setuju untuk menjadi pendampingmu dan aku tetap bimbang. Aku terlalu takut untuk memutuskan. Apakah benar kamu memang jodohku? Apakah kamu memang imam yang dipilihkan tuhan untukku? Apakah sifat curigamu akan berkurang atau malah hilang setelah kita menikah?. Pertanyaan – pertanyaan itu terus hadir dalam pikiranku.

Dan kamu, kembali pada pada sifatmu yang lama, pikiran-pikiran negatif sering singgah dan kamu kembali menuduhku dengan hal-hal yang tidak pernah kulakukan. Membawa-bawa masa laluku dalam setiap percakapan, mengungkitnya kembali berdasarkan informasi teman-temanmu dan social media, merangkumnya menjadi satu cerita menyakitkan, masa lalu yang sudah aku kubur, masa lalu yang telah sepenuhnya kulupakan sejak aku bertemu kamu.

Akupun sampai pada keputusan terburuk yang harus aku ambil. Aku terlalu lelah untuk bertahan denganmu yang selalu penuh curiga. Aku mencintaimu dan aku sangat tahu bahwa kaupun mencintaiku. Namun sudah terlalu banyak luka yang aku terima. Sudah cukup. Aku akan berhenti disini dan melanjutkan hidup. Tanpamu.

Kuputuskan untuk berhenti disini

Menutup kisahku pada titik ini

Inilah akhir perjuanganku

Aku yang harus pergi