Nyatanya memang begitu, hanya saja aku tidak ingin menganggap semuanya seserius itu. Ini hati dan semua akan masih sangat gampang berubah. Lagipula jika kita hanya bersama dalam ikatan tanpa peresmian. Bukankah itu hanya akan buang-buang waktu saja?

Perasaan yang kamu tanam dan akhirnya buncah di pertengahan membuatku bingung menjelaskan, pun aku pasti akan terlihat bak perempuan yang tidak peka. Meski nyatanya, aku sudah pada posisimu jauh sebeum kamu tiba di perasaan yang sama. Aku hanya menahan, memberikan waktu pada situasi, menanti kamu mengerti. Nanti, suatu hari saat semuanya ingin diakhiri dengan kebahagiaan yang pasti, bukan sekarang.

Beriring waktu kamu menjauh, pergi di sudut sepi yang bahkan tidak kumengerti. Pertanyaan ada apa menjadi kebiasaanku yang belum terjawab hingga kini. Aku terus mencari, mungkinkah kamu merasa aku hanya mempermainkan rasamu? Tapi, aku harus bagaimana jika belum bisa kuberikan separuh hatiku sekarang. Bukan karena aku tidak menyukaimu, tapi lebih kepada prinsip yang kupegang dalam hidup sebelum kehadiranmu.

Aku tidak ingin berandai kita menjadi seperti dulu; dekat dengan simpul persahabatan. Namun jika kamu kembali, aku ingin semua tetap baik-baik saja. Teruslah membuatku tertawa tanpa takut aku akan sakit dengan canda, tetaplah menjadi lelaki yang akan membuatku nyaman dengan semua pemikiran yang kutuangkan. Kita sahabat.

Pun tentang rasa di antara kita yang berbenih, kuserahkan semua kepadamu. Akankah kamu menanamnya atau mematikannya. Itu pilihan. Tapi kumohon jangan bertanya bagaimana rasaku, aku perempuan yang akan mengikuti alurnya saja. Meski aku tahu ini akan berakhir menyakitkan, jikalau akhirnya kamu akan memilih pilihan yang terakhir.