Semarang, siapa sih yang tidak kenal dengan Semarang? Ibu kota Jawa Tengah ini memilik banyak macam kuliner yang enak, yang rasanya kalau belum berkunjung atau nyobain rasanya "nyemarang"-nya belum terasa. Di sini aku akan bercerita mengenai pengalamanku ke Semarang. Aku mungkin memang bukan seorang traveler, tapi semoga pengalamanku "nyemarang" di Semarang bisa menjadi inspirasi atau rekomendasi buat kamu yang mau berkunjung ke Semarang. Supaya terasa "nyemarang"-nya.

Semarang itu udah menjadi salah satu kota yang masuk list wajib dikunjungi setiap tahunnya, sebelum Solo dan Yogyakarta. Semarang juga merupakan kampung halaman kedua orangtuaku, makannya setiap tahun terutama pas mudik, aku dan keluarga selalu berkunjung ke Semarang.

Untuk menuju kota Semarang memerlukan waktu kurang lebih 10 jam dari kota Bekasi (karena aku dan keluarga tinggal di Bekasi) dan perjalanan menuju Semarang itu merupakan perjalanan paling seru dan asyik, karena melewati beberapa kota seperti Cirebon, Tegal, Brebes,Pekalongan, Wleri, sebelum akhirnya masuk kota Semarang.

List kuliner pertama yang wajib banget dikunjungin kalau lagi di kota Semarang adalah nyobain Lumpianya. Pasti udah nggak asing dong sama makanan khas Semarang yang isinya rebung bercampur daging ayam (yang kadang bau rebungnya itu bikin orang nggak suka, karena baunya yang….you must try this).

Tapi, nggak semua Lumpia di Semarang itu enak loh (menurutku). Aku dan keluargaku biasanya kalau makan lumpia yang menurutku enak ada namanya Loempia Mba Lien. Harganya Rp. 12.000 untuk satuannya. Lumpia menjadi makanan favoritku banget. Saking fanatiknya sama lumpia, kadang aku bisa menghabiskan sampai 4 buah lumpia goreng besar, karena sejujurnya nikmatnya “nyemarang” itu terletak pada lumpia bersama saus dari sagunya yang manis.

Advertisement

Kulinerku bersama keluargaku nggak sebatas makan lumpia aja. Ada lagi list kuliner kedua yang khasnya dari Semarang biar makin “nyemarang” banget, yaitu soto mangkok semarang dengan sate kerangnya. Kalau ini nikmatnya “nyemarang” yang kedua. Pokoknya kalau lagi di Semarang, soto mangkok semarang ini nggak boleh terlewatkan.

List kuliner ketiga selanjutnya adalah nikmatin kuliner olahan kambing rekomendasi papahku, yaitu di sate dan gule kambing 29, yang terletak di daerah kota tuanya Semarang, tepatnya bersebrangan sama Gereja Blendug.

Apakah kulinerku berhenti sampai situ saja? Tidak, karena kita masih lanjut ke list kuliner yang ke empat, yaitu nyobain ayam penyet di dapoer penyet. Kalau ini atas rekomendasi tanteku yang kebetulan orang Semarang. Setiap kali aku dan keluargaku berkunjung ke Semarang, Alhamdullillah bisa di ajak kulineran sama keluarga tanteku.

Setelah si ayam penyet, berlanjut lagi ke daerah Simpang Lima buat nikmatin berbagai macam kuliner enak nan murah, ada tahu gimbal, nasi liwet, leker, pecel, dan berlanjut ke kuliner list ke sekian yaitu jagung bakar. Emang paling nikmat banget makan jagung bakar malam-malam dipinggir jalan taman KB. Sambil nikmatin live music dari musisi jalanan. Aku paling suka jagung bakar rasa pedas manis, sedangkan keluargaku yang lain mereka lebih suka jagung bakar yang diserut. Pokoknya gimanapun cara makan si jagung bakar, tetep nikmat dari Tuhan yang tidak dapat didustakan.

Selesai kulineran muterin kota Semarang. Aku dan keluargaku kembali ke penginapan dan sampai di penginapan pun kita masih lanjut makan bakmie jowo sebelah penginapan. Emang deh kalau di Semarang itu kulineran tanpa henti dan cocok banget buat naikkin berat badan, ha ha ha

Sekian cerita dan pengalaman kuliner “nyemarang”-ku di Semarang. Sejujurnya aku kalau udah di Semarang paling males, paling sedih buat pulang, tapi aku juga nggak mau nanggung resiko akan kenaikan berat badanku yang dari ke hari makin memuncak, karena nggak bisa nahan buat nggak nyoabai kuliner di kota Semarang yang enak dan harganya murah. Ya memang kenyataan, biasanya sepulangnya aku dari Semarang beratku bisa naik 4 kg.