Rasa cinta kepada seorang manusia mengalir deras bagaikan peredaran darah dalam tubuh, namun, orang tuanya tidak percaya aku bisa membahagiakan putrinya. Adakah hal yang tidak beres dalam diriku?. Memantaskan diri adalah perjuangan cintaku saat ini.

Aku Jatuh Cinta Kepada Gadis Manis Berkerudung Merah Marun

Panggil aku Dika, seorang yang tidak mudah untuk mengungkapkan cinta, namun aku percaya, rasa cinta yang besar mampu melenyapkan sikapku itu dalam satu malam. Suatu hari aku pernah jatuh cinta kepada seorang gadis bermata indah.

Kemarin dulu, tidak ada hal yang istimewa dalam mimpi-mimpiku, bahkan aku kira hidupku pun seperti itu, tidak banyak alasan kenapa aku tersenyum saat mentari terbit. Menurutku, hidupku biasa saja, lebih biasa daripada Srigala yang punya jadwal melonglong setiap malam. Hingga suatu hari,

Sebuah pertemuan istimewa yang tak terduga. Temanku, Ikbal, datang ke rumah untuk mengajakku mendaki gunung Manglayang, Bandung. Kami memang sering mendaki bersama. Bulan depan adalah waktu yang kami sepakati untuk pergi mendaki.

Advertisement

Akhirnya, waktu yang telah disepakati pun tiba, kami sudah siap, dan berangkatlah menggunakan motor, mengingat jarak antara rumah kami menuju gunung Manglayang tidak terlalu jauh. Tapi ternyata,

Pendakian ini tidak hanya berdua. Tanpa sepengetahuanku, Ikbal mengajak 3 teman wanita lain dalam pendakian ini, menurut penjelasan Ikbal, dia hanya mengajak satu orang saja, yakni Sarah. Namun Sarah sengaja mengajak 2 teman kuliahnya karena dia tidak mau menjadi satu-satunya perempuan dalam tim pendakian menuju puncak Manglayang ini. Aku sih tidak masalah.

Alhasil, rombongan pendakian ini berisikan 5 orang, aku tidak banyak bercanda kali ini karena tidak enak rasanya mengingat 3 teman lain belum terlalu kenal. Masa iya, kesan pertamaku sebagai seorang lawak di hadapan cewek-cewek ini. Sebaliknya, aku harus terkesan cool dan strong dalam pendakian ini. Tidak tahu kenapa, sikapku seperti ini berbeda sekali dengan pendakian yang lainnya.

Sarah yang pake kerudung hijau, Windi yang menggunakan kerudung merah marun dan Novi yang tidak berkerudung. Demikian adalah patokanku dalam mengingat nama mereka, tapi entah mengapa, Windilah yang paling aku ingat, mungkin karena dia yang paling sering ngobrol denganku dan tidak jarang juga kami saling membantu saat melewati track yang tidak mudah dilewati.

Pendakian pun berakhir, sampai puncak, berkemah satu malam, menuruni gunung bersama dan kami pulang ke rumah masing-masing. Namun setelah sampai di rumah, ada perasaan hebat yang menyentuh hatiku, dari pendakian itu, aku menyimpulkan bahwa Windi adalah wanita yang supel dan mandiri, dia istimewa dibanding perempuan lain. Sepertinya aku jatuh cinta kepada gadis manis berkerudung merah marun itu.

Rasa yang kata orang mampu mengubah tahi menjadi coklat sekarang sedang aku rasakan, bahkan sebuah mimpi mampu menjadi alasanku untuk tersenyum saat mentari terbit, hidupku menjadi penuh motivasi, mungkin longlongan Srigala tidak lebih keras jika dibandingkan dengan triakan hatiku tentang rasa cinta.

Hidup adalah tragedi dan cinta hadir sebagai solusi, pikirku saat itu. Perjuangan pun dimulai, stalking sebuah akun di Instagram dengan nama Windi Febrianti adalah hobiku saat ini, tidak lupa juga aku sentuh dua kali untuk setiap foto-fotonya. Dengan perjuangan keras, akhirnya aku mendapatkan pin BBM-nya.

Bagiku, pesan BBM darinya adalah bisikan malaikat yang menyampaikan betapa indahnya surga. Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu berbalas pesan BBM dengannya. Semakin besar pula kekagumanku kepadanya, dia bercerita bahwa tujuannya kuliah adalah untuk menepati janjinya kepada Alamarhumah ibunya yang menginginkan dia menjadi sarjana dan menjadi orang pintar yang berguna.

Kami pun bersepakat untuk bertemu dan setelah bercerita kepada Ikbal, aku berniat menembaknya dalam pertemuan itu.

Guncangan Itu Membuatku Patah Hati dan Memberitahuku Bahwa Perjuangan Ini Akan Terasa Berat

Sabtu sore, aku bersiap pergi ke Jatos, Jatinangor, Bandung, tempat kita berjanji untuk bertemu. Tempat makan Gokana di lantai utama jadi tujuan utamaku saat itu. Tidak percaya, bidadari mungilku sudah duduk menikmati senja kala itu. Jantung terasa berisik, ingin sekali rasanya lari dari tempat itu, menjauh dari manusia yang membuatku jatuh cinta.

Hey, maaf kalau saya membuatmu menunggu

Tidak, tidak apa-apa, apa kabar Dika?

Alhamdulillah saya sehat, kamu Win?

"Tunggu-tunggu, apakah aku tidak berlebihan menyapanya dengan sebutan "Win", apakah aku sok akrab dengannya." Bisikku dalam hati.

Alhamdulillah aku sehat Ka

"Syukurlah." hatiku terasa lega sekali

Obrolan pembukaan yang sangat menyenangkan bagiku, satu jam kami makan sambil berbincang-bincang, perbincangan itu membuat kenangan-kenangan di gunung Manglayang datang kembali, pendakian yang membuatku jatuh cinta kepada wanita yang sedang berbincang denganku saat ini. Karena memang, pendakian gunung Manglayang adalah tema yang paling asik untuk dibahas kala itu.

Tersenyum, bercanda, berbincang, mengenang dengannya membuat waktu satu jam itu menjadi waktu yang paling berharga dalam hidupku. Makan pun selesai, kami berpisah di parkiran. Sial, sepertinya ada yang aku lupakan.

Dalam perjalanan pulang, aku ingat tentang niatku yang hendak mengungkapkan cinta. Faktanya, aku bukan lupa, namun sifat pengecut dalam dirikulah yang menghalangiku untuk mengungkapkan cinta kepada Windi, gadis manis berkerudung merah marun itu.

"Konsultasikan hal ini kepada Ikbal". "aku pun seperti menemukan solusi atas kepengecutanku itu", obrolan dengan diriku sendiri sambil mengendarai motor menuju rumah saat itu.

Keesokan pagi, aku pergi ke rumah Ikbal dengan maksud memintainya pendapat tentang sikap yang harus aku lakukan dalam rangka melawan kepengecutanku, supaya aku berani mengungkapkan rasa hebat ini kepada si gadis manis yang bermata indah. Hasil dari diskusiku bersama Ikbal adalah,

Jika tidak berani menembaknya secara langsung, lebih baik tembak dia lewat BBM, meskipun cara ini ternilai tidak jantan, namun poin terpentingnya adalah mengungkapkan.

Baiklah, aku bukan Romeo, bukan juga Jack dalam Titanic. Terpaksa aku pakai cara itu untuk memberitahu Julietku tentang hatiku lewat BBM. Resah, gundah dan penasaran adalah perasaanku kala itu, hanphone-ku tidak juga berbunyi untuk menandakan bahwa adanya balasan.

YEEAAH. Seperti tahanan yang baru keluar dari penjara, pesan BBM itu membuat hatiku tertawa.

Terimakasih sudah mau mencintaiku, aku pun seperti itu, namun aku tidak ingin punya pasangan yang malas berjuang, datanglah esok ke rumahku untuk bertemu bapakku.

Berani atau tidak, mau atau tidak, malu atau tidak. Keesokan harinya aku harus pergi ke rumah Windi untuk menemui ayahnya. Ini adalah salah satu perwujudan cintaku kepadanya. Kesan pertama adalah hal terpenting dari pertemuan ini, sebisa mungkin aku bersikap santun saat itu.

Setelah ayahnya, Pak Herman, puas mengintrogasiku, Beliau bertanya tentang alamatku, pekerjaanku, hobiku, bahkan tidak lupa bertanya untuk apa aku mendaki. Aku pun pulang dengan harapan aku masuk dalam kriteria laki-laki yang pantas mendampingi putrinya, seorang gadis yang berhasil merubah pandanganku tentang definisi hidup.

Satu minggu berjalan, aku masih berhubungan dengan Julietku, hingga satu pesan BBM darinya mampu mengguncang perasaanku, bahkan mampu merubah raut wajahku menjadi beberapa tahun lebih tua.

Sayang, betapa pun aku mencintaimu, namun aku tak berani melawan ucapan bapakku, seolah ia tidak merestui hubungan ini, dia melarangku untuk berpacaran denganmu.

Pesan itu seolah pisau tajam yang mengiris setiap anggota tubuhku, halilintar di siang bolong. Ingin rasanya menghabisi nyawa Pak Herman, apakah ada yang salah dengan diriku?, kekurangan apa yang aku punya sehingga dia tidak menyukaiku.

Setelah membujuk Julietku, aku pun mengetahui kenapa Pak Herman tidak mengizinkanku untuk berhubungan dengan anaknya, ini masalah peekerjaan, profesiku sebagai blogger yang membahas tentang pendakian memang belum bisa menghasilkan banyak rupiah. Pak Herman kejam, Pak Herman menjadikan uang sebagai patokan.

Memantaskan Diri Adalah Perjuangan Cinta Terakhirku Saat Ini

Guncangan itu tidak hanya membuatku patah hati, namun membuatku kosong, seolah warna pelangi itu berubah menjadi abu-abu, hidupku tidak ada bedanya dengan kucing yang baru diusir dari sebuah rumah karena ketahuan mencuri ikan milik tuan rumah.

Namun, sebuah artikel dari Hipwee yang kubaca merubah pandanganku tentang perjuangan cinta, dalam artikel itu disebutkan bahwa perjuangan cinta sejati adalah memantaskan diri. Dan aku sangat setuju dengan setatement itu. Yup, kini, hal yang bisa kulakukan untuk Julietku adalah memantaskan diri.

Sekarang, aku sedang berjuang, ternyata aku belum selesai dengan diriku sendiri, ada impian yang harus kubuat menjadi nyata, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Hingga suatu hari tiba, sesudah aku berhasil mencapai puncak kesuksesanku, aku akan datang kembali untukmu wahai manisku. Akan kubuat Pak Herman menyesal.

Dear Windi, gadis manisku.

Oh manisku, aku sangat ingat akan kenangan-kenangan indah yang pernah kita lewati, tentang suara angin gunung yang mendesir rambutmu, tentang senyummu yang sangat merona.

Oh manisku, betapa rindunya aku kepada setiap hal yang berhubungan denganmu, aku sangat iri kepada orang-orang yang setiap hari bisa dengan mudah berdekatan denganmu.

Oh manisku, doakan aku yang sedang berjuang memantaskan diri dan sampai bertemu di masa depan.