OLAHRAGA AEROBIK UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT KARDIOVASKULER

Oleh :

Nooraida Setya Fajar Sabrilla

PGSD FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Sistem kardiovaskuler merupakan organ sirkulsi darah yang terdiri dari jantung, komponen darah dan pembuluh darah yang berfungsi memberikan dan mengalirkan suplai oksigen dan nutrisi keseluruh jaringan tubuh yang di perlukan dalam proses metabolisme tubuh. Sistem kardivaskuler memerlukan banyak mekanisme yang bervariasi agar fungsi regulasinya dapat merespons aktivitas tubuh, salah satunya adalah meningkatkan aktivitas suplai darah agar aktivitas jaringan dapat terpenuhi.

Advertisement

Penyakit kardiovaskular atau cardiovascular disease (CVD) adalah penyakit gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Penyakit kardiovaskular sangat berbahaya bagi kesehatan dan merupakan salah satu penyebab utama angka kematian di dunia, karena sistem kardiovaskular sangat vital bagi manusia. Penyakit kardiovaskular saat ini masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Data World Health Organization (WHO) pada tahun 1990 menunjukkan bahwa sekitar 12 juta jiwa/tahun meninggal karena penyakit ini. Penyakit kardiovaskuler merupakan sekumpulan penyakit yang terdapat pada jantung dan pembuluh darah dengan manifestasi terbesar berupa penyakit jantung koroner (PJK) atau coronary heart disease (CHD). Gambaran klinis penyakit kardiovaskuler termasuk iskemia tanpa gejala, angina pektoris stabil, angina tidak stabil, infark miokard, gagal jantung, dan kematian mendadak. Terdapat beberapa faktor risiko penyakit kardiovaskuler yang tidak dapat dimodifikasi, yaitu usia, jenis kelamin, dan genetik; sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi antara lain merokok, obesitas, dislipidemia, hipertensi, dan diabetes mellitus. Melalui pola hidup yang sehat dan olahraga yang teratur, resiko penyakit-penyakit tersebut tentu dapat diminimalkan karena kedua faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap baik buruknya sistem kardiovaskuler. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, timbul pemikiran untuk mengetahui lebih lanjut tentang olahraga aerobik untuk mencegah penyakit-penyakit kardiovaskuler atau cardiovascular disease (CVD).

Olahraga aerobik adalah olahraga yang dilakukan secara terusmenerus dimana kebutuhan oksigen masih bisa dipenuhi tubuh. Sebagai contoh olahraga aerobik adalah gerak jalan cepat, renang, senam, dan bersepeda. Olahraga aerobik merupakan latihan intensif yang menggerakan kedua tangan dan kedua kaki.

Kaitan olahraga dengan sistem kardiovaskuler (jantung, darah, dan pembuluh darah) dapat dipahami karena jantung merupakan organ vital yang memasok kebutuhan darah di seluruh tubuh. Dengan meningkatnya aktivitas fisik seseorang maka kebutuhan darah yang mengandung oksigen akan semakin besar. Kebutuhan ini akan dipenuhi oleh jantung dengan meningkatkan aliran darahnya. Hal ini juga direspon pembuluh darah dengan melebarkan diameter pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga akan berdampak pada tekanan darah individu tersebut.

Latihan olahraga merupakan suatu aktivitas aerobik, yang terutama bermanfaat untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dan daya tahan jantung, paru, peredaran darah, otot-otot, dan sendi-sendi. Menurut Bompa, Tudor O (1994:23) suatu latihan olahraga yang dilakukan secara teratur akan memberikan pengaruh yang besar terhadap tubuh kita.

Menurut Cerika (2008:48) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara olahraga dengan penurunan resiko hipertensi. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan tekanan darah sebesar 5 mmHg akan menyebabkan penurunan stroke sebanyak 40% dan penurunan infark miokard sebanyak 15% pada subjek penderita hipertensi yang telah mengalami penurunan tekanan darah.

Latihan fisik akan memberikan pengaruh yang baik terhadap berbagai macam sistem yang bekerja di dalam tubuh, salah satunya adalah sistem kardiovaskuler, di mana dengan latihan fisik yang benar dan teratur akan terjadi efisiensi kerja jantung. Efisiensi kerja jantung ataupun kemampuan jantung akan meningkat sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Hal tersebut dapat berupa perubahan pada frekuensi jantung, isi sekuncup, dan curah jantung.

Saat melakukan aktivitas aerobik, tekanan darah akan naik cukup banyak. Misalnya, selama melakukan latihan-latihan aerobik yang keras, tekanan darah sistolik dapat naik menjadi 150-200 mmHg dari tekanan sistolik ketika istirahat sebesar 110-120 mmHg. Sebaliknya, segera setelah latihan aerobik selesai, tekanan darah akan turun sampai di bawah normal dan berlangsung selama 30-120 menit. Kalau olahraga aerobik dilakukan berulang-ulang, lama-kelamaan penurunan tekanan darah tadi berlangsung lebih lama. Itulah sebabnya latihan olahraga secara teratur akan dapat menurunkan tekanan darah. Jenis olahraga yang efektif menurunkan tekanan darah adalah olahraga aerobik dengan intensitas sedang. Frekuensi latihannya 3-5 kali seminggu, dengan lama latihan 20-60 menit sekali latihan.

Pengaruh latihan terprogram terhadap pembuluh darah adalah pembuluh darah akan melebar (vasodilatasi), saraf simpatis dan parasimpatis pembuluh darah akan didekatnya, panas tubuh akan melebarkan pembuluh darah, dan elasitisitas dinding pembuluh darah yang baik (khususnya pada olahraga yang bersifat aerob) terjadi pada tubuh. Dalam hal ini, olahraga dapat mengurangi tahanan perifer. Penurunan tekanan darah juga dapat terjadi akibat aktivitas memompa jantung berkurang. Otot jantung pada orang yang rutin berolahraga sangat kuat, maka otot jantung pada individu tersebut berkontraksi lebih sedikit daripada otot jantung individu yang jarang berolahraga, untuk memompakan volume darah yang sama (Hoffman dan Mirkin, 1978: 20-21).

Olahraga dapat menyebabkan penurunan denyut jantung, maka olahraga akan menurunkan cardiac output, yang pada akhirnya menyebabkan penurunan tekanan darah. Peningkatan efisiensi kerja jantung dicerminkan dengan penurunan tekanan sistolik, sedangkan penurunan tahanan perifer dicerminkan dengan penurunan tekanan diastolik. Denyut jantung waktu istirahat pada olahragawan yang terlatih menjadi lebih lambat dibanding yang tidak terlatih. Meningkatnya efisiensi jantung, mengakibatkan aliran darah yang mencapai otot menjadi lebih banyak, dengan adanya persediaan makanan dan O2 yang memadai, memungkinkan seseorang mencapai hasil yang lebih tinggi. Sebagai tambahan dari perubahan-perubahan fungsional tersebut diatas, latihan juga menimbulkan perubahan strukural dari jantung. Jadi dengan olahraga aerobik yang teratur serta terprogram akan menurunkan resiko penykit kardiovaskuler seperti hipertensi, aterosklerosis, bahkan penyakit jantung koroner (PJK).