Bersama keponakannya, Limbuk, Om Semar berjalan menuju sebuah swalayan. Dalam perjalanan yang lumayan panjang tersebut Limbuk sedikit mengobrol mengenai situasi yang sedang terjadi di negeri Nuswantara.

“Om orang-orang sekarang ini pada aneh ya.” ucap Limbuk mengungkapkan kekesalannya pada pamannya.

“Kenapa to, Nduk?” jawab Semar pada keponakannya yang ngedumel padanya.

“Ini lho om, masa ada ijin pembakaran hutan?” jawab Limbuk bingung.

“Apa iya nduk?” jawab Semar bingung dengan kondisi yang disampaikan Limbuk.

Advertisement

“Iya om, makanya sekarang banyak berita mengenai bencana asap di pulau Andalas dan Borneo om. Gimana to om, nggak pernah baca koran apa?” ucap Limbuk menggoda Semar.

“Ya gimana lagi Nduk, om itu baca koran ya cuma kalau ada yang mbeliin. Mau nonton berita di televisi ya kalah sama drama Turki yang ditonton bulikmu. Maklumlah, kalau om kamu ini agak “KUDET” alias kurang update.” jawab Semar mengelak dari ejekan keponakannya.

“Ya kalau menurut om sih emang wajar nduk wong Nuswantara ini nggak cuma hidup orang baik saja. Masih banyak juga orang yang punya pikiran jahat bercokol di negeri ini. Kalau om yang jadi raja di negeri ini sih bakal paman tumpas orang seperti itu, tapi apa mau di kata, om-mu ini hanya wong cilik yang hanya mampu berkomentar dan berharap ada perubahan melalui tindakan-tindakan kita sebagai rakyat kecil.” jawab Semar mengutarakan pemikirannya.

“Tapi om, kalau begitu kan jadi nyusahin orang banyak.” jawab limbuk kesal.

“Memang benar Nduk perkataanmu itu, yang bisa kita lakukan hanya sekedar melaporkan apa yang tidak sesuai dengan hukum Nuswantara ini kepada pihak keamanan negeri ini dan biarlah hukum yang bertindak. Setelah itu tinggal kita doakan supaya hukumnya tidak dijadikan jual-beli.” jawab Semar dengan tersenyum.

“Sama KPK ya om, Komisi Pembela Kebenaran!” ucap Limbuk sambil tertawa.

“Iya Nduk, karena pepatah bilang takkan lari gunung dibakar….,” belum selesai berbicara perkataan Semar langsung dipotong keponakannya.

“Dikejar om” ucap Limbuk berusaha membenarkan ucapan pamannya.

“Sebentar dulu to, om kan belum selesai berbicara. Maksud om itu, tak akan lari gunung dibakar oleh karena gunung nggak bisa lari saat dibakar maka gunung nggak bisa bertindak apa-apa selain memberi limpahan asap sebagai wujud protesnya. Berharap setiap orang yang tahu akan asap ini bertindak dan membuat perubahan. bayangkan coba kalau gunung itu bisa lari, sudah barang tentu gunung itu akan lari ke laut. Untung saja nggak jadi seperti itu tentunya makin banyak korbannya” kelakar Semar kepada Limbuk

Setelah itu mereka terdiam dan tertawa terbahak-bahak oleh ucapan Semar dan sampailah mereka di swalayan yang mereka tuju.