Apa utang saya yang paling besar pada keluarga atau orang lain?

Jujur saya akan jawab: RESPEK, sebuah sikap untuk menghargai dan menghormati.

Oleh banyak orang, kata “Respek” terlalu mudah untuk diucapkan hari ini. Tapi sulit dilakukan. Entah karena gengsi, ego, atau kesombongan. Ya, cukup manusiawi. Itulah sifat dasar manusia. Dan hanya sedikit yang mampu mengendalikannya.

Mengapa ada permusuhan? Mengapa ada saling hujat? Atau saling tidak senang satu sama lainnya? Bahkan masih banyak orang yang tidak kita pedulikan? Orang tua yang membentak anak. Kawan yang tidak mau bertegur sapa. Atau apapun namanya, kita sering kali lupa. Atau kita kurang satu hal saja, SIKAP RESPEK..

Kita kurang respek. Sikap respek inilah yang makin lama makin jauh dari masyarakat kita. Sikap menghargai atau menghormati diri sendiri atau orang lain akan jadi “barang langka”. Hari ini sikap respek jadi makin mahal. Apalagi 10 tahun, 20 tahun yang akan datang. Sungguh, kita belum optimal untuk mengupayakan sikap RESPEK.

Maka, inilah momentum kita untuk meningkatkan sikap respek. Atau setidaknya, membangun kesadaran akan perlunya siakp respek, baik buat diri sendiri atau orang lain.

Sebagai orang tua, kita ingin respek terhadap anak atau sebaliknya. Sebagai bawahan di kantor kita juga berharap mendapat respek dari atasan atau sebaliknya. Di lingkungan rumah, kita juga ingin ada “budaya respek” yang dibangun masyarakatnya. Ohh, indahnya bila kita mampu membudayakan “sikap respek” pada semua sisi kehidupan kita.

Advertisement

Emang sih gak ada orang yang “sempurna” tapi mengapa tidak jika kita bisa melakukannya. Sederhana aja kok, mulai dari membangun “sikap respek”, sikap menghargai dan menghormati. Itu saja, tidak lebih tidak kurang, hanya respek …. Only a cup of Respect !

Mengapa harus respek?

Ya karena dengan respek, kita bisa membangun hubungan yang ajeg, yang berkelanjutan. Karena di dalam respek ada ketulusan dan keikhlasan kita dalam menerima “kenyataan”. Dengan sikap respek kita bisa menjadikan orang lain merasa mereka penting di dekat kita. Jadi ingat kata Les Giblin, Anda tidak bisa membuat orang lain merasa penting di dekat Anda jika diam-diam merasa bahwa ia bukan siapa- siapa”.

Woww, mengapa bisa? Bukankah kita juga bukan siapa-siapa? Maka mari kita bangun sikap respek pada orang lain.

Uang, harta, kaya, pangkat atau jabatan, sungguh menjadi tak guna jika tidak diiringi oleh sikap respek.

Apalagi sekarang banyak orang bilang “senang” padahal “tidak senang” dan sebaliknya. Itu semua terjadi karena kita gak punya sikap respek. Setuju gak?

Setiap kita memang punya target atau keinginan, tapi bukan berarti kita harus megabaikan sikap respek. Kita sering lupa mengucapkan terima kasih untuk hal-hal yang ringan. Kita juga suka marahin anak atau orang lain karena hal yang sepele. Karena itu, hari ini kita sangat membutuhkan ‘self respect’ dan “our respect”.

Jadi ingat, teman saya yang selalu mengucapkan “terima kasih’ setiap kali bicara dengan orang lain. Sungguh, betapa kata-kata bisa berpengaruh, positif maupun negatif. Ingat, respek bisa ada karena “trust” dan “honest” baru kemudian keterbukaan dalam melihat kenyataan, nrimo.

Hari ini juga banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya, tidak menghargai dirinya sendiri. Itu karena tidak punya sikap respek. Mengeluh, suka bermusuhan, atau merasa tersiksa dalam hidup adalah gejala kurangnya sikap respek.

Seharusnya, apa yang kita alami, kita harus menerima, menghargai bahkan mengagumi karena kita hebat masih bisa seperti itu. Jadi kita memang perlu respek terhadap diri sendiri dulu, baru respek kepada orang lain. Kita harus ramah dan cinta pada diri sendiri dulu, baru ramah dan cinta kepada orang lain. Ohh, indahnya punya sikap respek. Dalam artian yang luas, respek itu “sikap menghargai, menghormati, mengakui, dan mematuhi”.

Untuk bisa respek terhadap diri sendiri atau orang lain, kita juga bisa melatih atau membentuknya.

Beberapa cara yang kita bisa lakukan untuk membangun respek, antara lain: 1) kita mau menerima diri apa adanya, 2) mau menghindari sikap dan perilaku yang merusak diri, seperti ugal-ugalan di jalan, 3) punya rasa malu, 4) berusaha jaga nama baik, 5) berperilaku tetap baik, 6) mengenali diri sendiri karena banyak orang yang hanya “jadi diri” doang, 7) ingat Tuhan, 8) mengerti bahwa kita unik, 9) berusaha memperbaiki diri, 10) berubahlah dan kembangkan terus diri kita ke arah yang baik.

Dalam hal berhubungan dengan orang lain, untuk membangun respek kita juga perlu membudayakan hal-hal yang patut jadi perhatian, mulai dari: 1) memahami karakter orang lain, 2) menciptakan spirit hidup yang positif, 3) fokus pada kekuatan bukan kelemahan orang lain, 4) berkomunikasi secara empatik, mengerti dulu baru dimengerti, 5) lakukan pujian yang tulus & teguran yang tepat, dan 6) mulailah dengan apa yang kita pikirkan.

Jadi, sekali lagi, mari kita bangun sikap respek, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Jangan biarkan masyarakat kita “kehilangan’ sikap respek sehingga menjadi “individualis”. Sikap menghargai, menghormati adalah urusan moral yang kita pedulikan, Respek is about hati nurani.

Bukankah setiap manusia pasti punya kekurangan, tapi ingat kita juga dipenuhi oleh potensi dan kemampuan untuk menjadi “lebih baik”, hari ini dan yang akan datang. Karena dengan respek, kita bisa membangun dan memelihara menjalin hubungan atau interaksi sosial yang harmoni, rukun, dan damai.

Mari kita membangun kepekaan dan kesadaran akan pentingnya sikap respek. Katakan "Saya ingin lebih Respek", Now or Never …. Respect is what we owe; love, what we give !! #BelajarDariOrangGoblok