Dia kakek ku namanya M.Simanjuntak.

Aku bahkan tak tau kapan ulang tahun kakek. Tak tau tepat berapa usianya kala itu. Dan aku jenis wanita cuek dan sedikit "tomboy". Lantas apa semua itu adalah patokan untuk menunjukkan kedekatanmu dengan kakek mu? Dia Ayah dari Ibuku.

Dia juga kakekku namanya C.Sianipar

Sama seperti kakekku yang lain. Aku juga tak begitu peduli dengan ulang tahun atau umur nya. Dia Ayah dari Ayahku.

C.SIANIPAR

Advertisement

Berbeda dengan kakek M.Simanjuntak. Kalau kakek yang satu ini humoris, konyol dan kocak. Kakekku satu ini lebih cepat pergi meninggalkan aku karna sakit. Berbeda dengan Oppung M.Simanjuntak (si Kumis) yang serius dan filosofis itu. Kakek yang ini seperti taman bermain kecilku. Andai dia masih hidup, aku adalah cucu kesayangannya. Dia pernah mengatakannya waktu kami di dalam angkutan umum dan lalu kakek berbisik "Tapi jangan bilang siapa-siapa ya? Nanti cemburu abang-abangmu yang lain" kata kakek sambil menyelipkan uang Rp 5,000 di sakuku. Aku tersenyum lebar. Selalu menggendong ku di pundaknya. Mengajakku bermain hujan… Dan memarahi Ayah juga Ibu jika mereka memarahiku. Kakek ku ini konyol. Dia membiarkan kami menyebut namanya tanpa sebutan kakek. Kedengaran tidak sopan.

Tapi kakek punya tabiat buruk yaitu berjudi. Jika berjudi akan susah memanggilnya pulang. Mudah untuk nenekku menyuruhnya pulang jika aku ada. Ibu akan mengantarkanku ke tempat kakek berjudi dan lalu meninggalkanku. Aku akan naik ke meja judi kakek ku dan duduk di atas kartu yang di mainkan kakek. Dan aku akan mulai tersenyum. Tanpa menghiraukan temannya, kakek akan segera membuang kartu dan menggendongku pulang dengan wajah bersalah sambil bertanya "Mau jajan apa kau pung (cucu)? Tapi jangan beli es ya. Nanti batuk, dimarahi Mama kau nanti," Dan aku akan mulai menunjuk semua makanan di warung. Tak ada larangan. Apa saja yang kuambil di bolehkan. Sayang sekali dengan kakekku yang satu ini. Begitulah ketika berkumpul, kakek menghilang ke kedai judi… Nenek dan yang lain akan mulai menggunakan ku sebagai senjata menyuruh kakek pulang. Ada banyak kenangan kecilku bersama kakek yang ini yang membuatku rindu.

Di akhir hayatnya dia berkata "Cucuku yang ini harus disekolahkan sampai jadi detektif. Karna itu cita-citanya,"

Aku menangis terisak kala itu kakek sudah sekarat. Lalu dia berkata lagi. "Pahoppu (cucu) paling cantik kau nak, kawinnya harus sama orang Belanda ya?". Dan aku pun tertawa

M.SIMANJUNTAK

Kakek yang dijuluki si "Kumis" di kampung kelahiran Ibuku. Handal dengan keahlian membangun rumah dan bercocok tanam. Sekolah yang di bangun oleh kakek pada masih zaman pasca kemerdekaan juga masih berdiri kokoh. Pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah itu semua terasa asing, karna aku lahir dan besar di sebuah negara yang jauh dari kakek. Bahasa juga lain. Kakek selalu mengerutkan dahinya ketika aku berbicara. Kakek ku yang satu inilah yang mengajarkan aku bahasa suku Batak. Sampai aku selancar ini sekarang. Dia mengajarkanku bagaimana menjadi sosok wanita yang tangguh tanpa harus menjadi kejam. Dia juga memujiku saat aku dengan girangnya bermain lumpur di sawah.

"Mama harus ke kota sebentar untuk membeli perlengkapan dapur. Kamu jangan ikut-ikutan sepupu kamu ke sawah! Kulit kamu tidak setahn mereka! Ingat itu ya…," kata Ibuku seraya menghidupkan mesin mobil. Aku mengangguk saja dengan muka memelas. Begitu Ibu pergi, senyumku merekah dan melirik kakek ku. "Oppung… (Kakek) heheheh," rayuku.

"Aduh, gak berani lah oppung ya hasian (sayang) nanti mamakmu marah pulak sama oppung. Kulitmu pun halus kali untuk dicipratkan lumpur" kata kakekku sambil menghisap rokok yang di balut dengan kulit kayu. Rokok traditional katanya.

"Ayolah Oppung, mama kalau belanja kan suka lama. Percaya deh dia pasti pulangnya juga nanti malam." pujukku seraya merengek. Sepupu-sepupuku yang lain sudah bersiap-siap untuk menanam bibit padi dengan cagkul dan sebagainya. Aku mulai panik. Mereka mulai mengejekku dan menyuruhku membeli tiket pesawat untuk pulang. Kakek menyuruh mereka diam "SSSHHHHH," katanya

"Tapi kalau oppung dimarahi bagaimana?" katanya lagi

"Nanti aku belain. Aku marah balik Mama. Aku bilang nanti kalau melawan Oppung itu dosa. Kan yang sekolahin mama itu, Oppung"

Kakek tersenyum seraya menyerahkan sepeda ontel tua kepadaku. Maksud kakek agar aku tak berjalan kaki karna jarak yang cukup jauh. Jalan ke sawah itu kecil. Dan benar saja. Belum sampai ke sawah aku sudah terjatuh ke lumpur. Sepupu-sepupuku tertawa terpingkal-pingkal. Sambil menuntunku di sepeda, Kakek memegang setirnya sambil bercerita.

"Mamamu dulu adalah anak Oppung paling manja. Tapi kamu beda ya dari mama mu. Bagus itu…jangan manja ya pung (cucu)" kata oppung. Aku terus saja mendengar sambil menatap wajah rentanya, dan cerita berlanjut.

"Dulu sekali, sebelum aku ke kampung ini, aku harus naik turun bukit untuk berkebun. Dan oppung dulu masih ikut bertempur kala Indonesia belum merdeka di Aceh sana. Nenekmu setiap malam menangis menunggu kedatangan kakek. Sekarang kita sudah merdeka. Lega rasanya. Dulu sekali cuma bisa makan ubi dan sayur. Hidup susah listrik juga gak ada. Semuanya serba jalan kaki. Nasi harus di bagi-bagi sedikit karna anak oppung ada 9 termasuk mama mu. Hidup itu harus mandiri. Tau rumah oppung sekarang? Oppung sendiri yang gambar dan membangunnya. Dengan dibantu 2-3 orang tukang. Kuat itu bukan harus laki-laki, perempuan juga bisa."

Dan banyak hal yang di ajarkan kakek. Tapi setelah besar beberapa kali aku cekcok dengannya hingga 3 hari sebelum dia meninggal, dia minta kusuapkan nasi. Lalu datang ke mimpiku untuk mencari mamaku. Aku masih sering memimpikannya ketika hatiku sedang sakit. Dan aku selalu tertawa simpul jika mengingat bagaimana kakek berjaga di teras rumah jika ada pemuda datang berkunjung saat kami semua pulang kampung. Kakekku terkenal memiliki cucu-cu perempuan yang cantik. Pernah sekali di kegagalan pertunanganku disaat itu aku menangis hingga terlelap. Kakek hadir di mimpiku… Dengan senyum keriput itu dia mengajakku ke sawah. Mengajakku menjemur padinya. Menyuruhku membuatkan kopinya. banyak hal yang disuruhnya. Hingga aku lupa sedihku dan bangun di pagi hari dengan semangat baru.

Lama sudah aku tak mengunjungi makamnya… Tapi aku tak pernah merasa jauh sedikitpun darinya karna kakek selalu hidup di sanubariku. Setiap semangatku hilang kalimat ini akan hidup di benakku.

Kuat itu bukan harus laki-laki. Dan kuat itu bukan tentang mengangkat beban. Tapi kuat itu bagaimana kau menjalani hidup dengan beban dan tetap semangat tanpa lelah. Kuat itu seperti makan. Kalau berhenti makan, lapar lalu mati. Jadi…kuatlah!