Tubuh ini seakan tak ingin beranjak dari empuknya kasur di kamar indekosku, perlahan ku gerakan satu per satu anggota tubuhku dan bangkit menyambut mentari pagi yang indah di Pulau Seribu Pura. Di pulau ini aku menyandang status sebagai pekerja (walau hanya training school), 4 bulan ke depan bukanlah waktu yang singkat dan Kuta adalah daerah di mana letak indekosku dan tempat kerjaku berada. Pantai, keramaian, dan hiburan itu akan menjadi teman akrabku :). Aku rasa kalian akan iri padaku.

Aku sangat menikmati keberadaanku di sini. Tak sedikit pun aku menyisakan sedih di hati karena jauh dari orang tua. Karena sebelum aku menyingsingkan langkah kakiku meninggalkan Kota Karang (Kupang, NTT), ayah berkata, "Ketika seorang ayah melepas anak putrinya pergi jauh, itu artinya ia telah memberi kepercayaan yang penuh. Jangan sisakan pedih karena ketika ayah melepasmu pergi, ayah percaya kamu akan baik-baik saja. Jadi percayalah nak, kita di sini akan baik-baik saja".

Sungguh, aku tak percaya ketika rejeki dari Allah yang dititipkan kepada orang tuaku mampu mengantarkanku ke pulau dengan julukan surga dunia ini.

Bisa dibilang, keluargaku bukanlah keluarga yang berkelebihan, tapi kita selalu berkecukupan. Sehingga ketika ayah memberiku hadiah berupa bukti pembayaran keuangan prakering dan tiket untuk bisa merasakan bagaimana sensasi berada di atas ketinggian (naik pesawat), karena ini pengalaman pertamaku mungkin kalian bisa membayangkan bagaimana ekspresiku saat itu.

Oh yah aku hampir lupa, kalian juga harus tahu bagaimana keadaan di tempat kerjaku itu. Ibarat kamar tidur super luas yang fasilitasnya sangat lengkap (ada TV, DVD, AC, lemari es) betapa nyamannya coba? Kalau aku sih sangat nyaman karena kamar tidurku berbanding terbalik dengan itu. Di tempat ini aku serasa tak ingin pulang, tapi sayangnya kewajibanku di bangku SMK masih setahun lagi.

Advertisement

Hari-hari ku di bawah langit Pulau Bali penuh dengan keceriaan. Aku menemukan suasana baru, teman baru, pengalaman baru, dan banyak hal baru yang aku dapatkan.

Hingga suatu ketika, tak sengaja aku berkenalan dengan seseorang via BBM, dia teman se-kotaku. Dia juga kakak kelasku waktu di MTs dulu, tapi kita tak saling kenal sebelumnya. Ketika perkenalan semakin eksklusif, pertemuan pun menjadi keputusan akhir. Kebetulan waktu itu dia juga bekerja di salah satu vila di Bali.

Pantai Kuta, lokasi yang kita setujui berdua sebagai tempat pertemuan. Sengaja ku sarankan tempat itu agar dekat dengan indekosku (itung-itung ngirit ongkos). Jeng…jeng jantung seperti 'berdemo'. Dia sepertinya tipe lelaki disiplin karena dia sangat on time, ketika aku tiba ternyata dia sudah lebih dulu. Kita tak perlu bersusah payah untuk mencocokkan wajah pada foto dan masing-masing dari kita, karena sebetulnya kita sering berpapasan dulu waktu se-kota.

Sejak pertemuan itu kedekatan terjalin semakin akrab, ada rasa yang aneh mulai menguasai seisi hatiku.

Mungkin aku mulai menyukainya, karena aku tipe orang yang mudah jatuh cinta (alasan pertama) dan jujur waktu MTs dulu dia adalah incaran cewek-cewek cantik seisi sekolahan itu. Awalnya aku agak pesimis dan otakku bertentangan dengan hatiku, aku berpikiran mana mungkin si tampan memiliki rasa yang sama dengan si kumal yang bepergian selalu dengan gaya yang ambu-radul.

Ternyata oh ternyata, pemikiranku kalah dengan isi hatiku. Entah karena cerewetku, kumalku atau ambu-radulku ini sehingga membuat ia juga menyukaiku. Sejak saat aku mengenalinya, aplikasi BBM yang semakin mendekatkan kita, pertemuan jarang terjadi karena jarak tempat tinggalnya yang jauh dari tempat tinggalku. Kedekatan kita terjalin semakin lama hingga masa trainingku hampir selesai.

Tepat 2 minggu sebelum kepulanganku ke Kota Karang, tak ku sangka dia menyatakan perasaannya padaku. Lorong indekosku menjadi saksi dan rintik hujan menjadi bukti keseriusannya (so sweet) karena aku berpikir jika dia tak betul-betul serius, mungkin via BBM dia bisa menyatakan perasaan itu, tidak memberanikan diri menemuiku dalam keadaan langit sedang menangis.

Sengaja ku berlaga sebagai cewek cantik, tak langsung ku terima cintanya. Aku meminta untuk diberi waktu berpikir (itu hanya omong kosongku) padahal diterima adalah jawabanku. Seminggu lebih waktu berlalu dan 2 hari sebelum kepulanganku, aku memberikan jawaban atas cintanya. Terlihat sepertinya dia bahagia, semoga saja dia tak mempermainkanku.

Setelah ku terima, lalu ku lantik dia sebagai pacarku, aku berpikir kalau keputusanku ini mungkin salah karena aku akan menjalankan hubungan jarak jauh dengannya. Kumantapkan lagi pemikiranku dengan kekuatan hatiku agar aku percaya hubungan ini akan bertahan lama.

Tiba saatnya di mana aku akan merasakan sensasi di atas ketinggian untuk kedua kalinya (pulang), bahagia? Iya karena akan bertemu orang tua dan kembali sekolah, sedih? Apalagi karena pasangan LDR ku akan ku tinggal :'(. Dia mengantarkan kepergianku sampai ke Bandara Ngurah Rai.

Seperti tak ingin ku tatap dia, karena itu tadi aku terlalu mudah jatuh cinta hingga dia menjadi isi penting dalam hati dan pikiranku. Ku tinggalkan dia dengan rasa percaya seperti ayah ku melepas keberangkatanku.

Inilah awal yang sebenarnya aku harus siap dengan apa yang akan terjadi ke depannya, karena bukan hanya lautan yang menjadi pemisah tapi ada juga gunung-gunung yang menjadi benteng belum lagi terpaan angin (syukur-syukur bukan badai ya Allah) dengan Bismillah ku awali hubungan kita dan aku yakin Allah beserta selalu.

Tetap jadi partner, soulmate, tapi jangan lama-lama jadi pasangan LDR-ku. Cepatlah menyusul ke Kota Karang agar kita bisa hidup bersama 🙂