Banyak orang bilang, terlalu muda untuk berkomitmen. Pacar masa kuliah hanya sekedar pemanis masa muda. Yang menemani kita disaat sulit menyusun skripsi dan begadang ngerjain tugas. Cuma jadi temen care paling bisa diandelin waktu merantau dikota orang. Setidaknya, kalau sakit ada yang ngerawat. Pas wisuda, ada PW alias Pendamping Wisuda buat jaga gengsi. Atau bahkan cuman sekedar numpang tenar.

Tapi entah kenapa, aku malah semakin penasaran. Aku merasa seperti sudah saatnya. Walau terkadang pun aku ragu. Mau dibawa kemana hubungan ini? Dengan usia semuda ini, apa mungkin kita bisa bertahan sampai akhir? Atau malah kandas ditengah jalan? Aku pun kadang meragu.

Ada satu ketika, saat aku mulai lelah dan jenuh. Dan bahkan berpikir untuk pergi.

Kadang juga berpikir, “Yasudahlah, toh masih muda, perjalanan masih panjang.” Kadang aku diam dan tak peduli. Membiarkanmu melakukan apapun yang kau mau dengan siapa pun kadang jadi pilihanku untuk lari dari rasa sakit. Mencoba realistis dan berpikir bahwa dunia kita bukan hanya kita berdua, kadang aku jadi acuh dan tak peduli.

Tapi selalu berlalu dan menjadi sebatas pikiran saja. Aku tetap tak bisa.

Advertisement

Seperti katamu selalu, sulit rasanya untuk marah terlalu lama. Mungkin karna rasa sayang yang membuat kita merasa kosong. Atau malah hanya sekedar kebutuhan karna kebiasaan? Atau malah hati kita yang memang sudah saling berpaut? Haha.

Saat marah, rasanya aku hanya perlu sendiri dan “ngedumel” dalam hati. Karna saat kita bertemu, pada akhirnya aku luluh dan kembali.

Kadang aku nekat, menyiapkan kata-kata untuk mendampratmu dan bahkan menyiapkan alasan klise untuk memutuskanmu. Tapi pada akhinya aku hanya menelan kata-kataku. Karna kau tau dan selalu mampu caranya meluluhkan hatiku.

Dengan tingkahmu yang konyol, dan kata-katamu yang terlalu canggung untuk merayu, tawamu selalu mampu menghentikan perdebatan hatiku sendiri.

Seperti katamu lagi, mustahil ada hubungan yang tidak menyakiti. Tanpa disadari, perbuatan kecil pun bisa jadi luka untuk orang lain. Dan aku setuju. Aku setuju, karna aku sering merasa sakit, padahal kau hanya diam disisiku dengan gadgetmu. Atau kau sedang bersama temanmu dan aku kebingungan harus mencari siapa. Kadang-bahkan seringkali aku melewatkan kesulitanku sendiri, sedang kau bahkan tak tau apa-apa. Tapi candaanmu yang kadang tak tau malu tetap saja membuatku kembali-dan menelan kata pergi-

Aku bukan tipe wanita posesif. Tapi kadang perlakuan sederhanamu yang kutunggu.

Kadang aku ingin protes dengan keenggananmu membagikan foto-foto moment kita di media sosialmu. Kadang rasanya seperti ‘kau punya orang lain yang membuatmu harus menjaga hatinya sampai kau tak mau memasang foto kita diinstagram atau facebook mu’. Tapi pada akhirnya juga aku diam dan memberimu ruang privacy. Tapi serius, aku selalu iri melihat pria lain memasang fotonya dengan pasangannya. Lalu kita kapan?

Manis-manisnya hubungan hanya akan dirasakan diawal. Kenapa tak kita buat sampai diakhir?

Diawal hubungan, rasanya selalu manis. Kenapa? Apa karna kadar sayangnya berkurang? Atau memang itu hanya caramu mendapatkan hatiku dulu? atau hubungan kita cuma untuk jaga gengsi dikatain gak laku? atau cuma untuk gandengan saja?

Aku mendampingimu dalam proses mendapatkan togamu. Dan aku ingin mendampingimu sampai anak-cucu-cicit kita pun dapat toga.

aku telah bersamamu dari awal. Membantu menyusun skripsi, mendengar ocehanmu tentang temanmu dan bahkan dumelanmu tentang tugas kuliah yang menumpuk. Aku yang paling tau isi otak mu dan dosen-dosenmu. aku juga tau gerak-gerik dan tingkah lakumu. Bahkan mimpi-mimpimu pun aku sangat tau. Aku telah bersamamu dalam proses awal menggapai impianmu. Aku juga telah bersamamu, mendengar mimpi konyolmu dan harapan kerasmu. Betapa kau menggilai Barcelona, menyukai Najwa Shihab dan mengidolakan pak Ahok dibanding pak Jokowi. Aku tau. Dan aku ingin terus bersamamu.

Kita masih muda, dan jalan kita masih panjang. Tapi aku tetap ingin merajut impianku bersamamu.

Aku tak tau akhirnya akan manis seperti diawal, atau malah hanya harus belajar dari hubungan kita yang sekarang. Tapi izinkan aku merajut mimpi dan menggenggam asa ku bersamamu. Karna apa yang dapat kita lakukan sekarang adalah berusaha dan berjuang. Sedang akhirnya nanti, hanya Tuhan yang tau.

Terbanglah karna kau adalah layang-layang, dan aku hanya gulungan benang yang selalu berpijak ditanah dan perlahan naik mengiringi mu terbang tinggi. Aku hanya mampu berusaha menjaga mu untuk tetap ingat bumi berpijak, jika pun kau nanti lepas, semoga kau takkan jatuh.
Karna aku hanya mampu mengiringmu dan berusaha menjadi benang berkualitas baik untuk mu.
Karna pria sukses pasti memiliki wanita baik dibelakangnya. Entah pun itu bukan aku untukmu.