Diawali dengan pertanyaan aneh

Apa kau ingat pertama kali kita berkenalan? Bukankah tak ada yang spesial? Aku malah merasa aneh atas segala jawabanmu atas pertanyaanku. Sebaliknya aku merasa kau menanyakan hal-hal yang tidak penting dan konyol. Yang paling aku ingat ialah saat kau menanyakan "Apa makanan favoritmu?", kau bahkan tak menanyakan siapa namaku di awal perkenalan kita.

Kau meminta pin BBMku

Kau tidak langsung memintanya padaku. Tapi kau memintanya lewat pesan di facebookku. Entah apa yang kurasakan saat itu, hanya merasa buat apa? Bahkan kita baru bertemu 2 kali sejak pertemuan pertama kita. Bertemu saja hanya beberapa patah kata yang kau ucapkan. Saat yang paling menyebalkan adalah ketika kau tak langsung mengirimiku pesan setelah kau memiliki kontak BBM ku.

Semakin hari kau sering memberiku kabar, padahal aku tak pernah bertanya

Advertisement

Kau selalu memberiku kabar, menanyakan keadaanku, menanyakan bagaimana sekolahku, bagaimana hariku. Tak pernah lebih dari 3 hari kau tidak mengirimiku pesan. Di situlah aku mulai terrbiasa akan hadirmu…

Ini sudah lebih dari 3 hari

Sudah 5 hari kau tidak memberiku kabar, aku menyadari betul bahwa hadirmu selalu kunantikan. Aku mulai menyimpan rasa terhadapmu. Aku suka segala hal tentangmu. Aku suka dengan sifat pedulimu, walau aku tak tau apa kau juga "selalu" peduli dengan setiap wanita. Aku suka dengan keramahanmu. Walau aku tak tau berapa banyak keramahan yang kau miliki terhadap semua orang. Kamu di mana sekarang? Aku menagih kabar yang selalu kau berikan yang biasanya tak pernah kuminta.

Kamu sibuk, dan aku mencoba mengerti

Kau bilang beberapa hari ini kamu sibuk, dan aku mencoba mengerti. Kita berteman, iya kan? Tak seharusnya aku membuatmu tak nyaman dengan segala kekhawatiranku terhadapmu. Setelah hari itu kita selalu bertemu. Kau tidak pernah membuatku khawatir lagi, tapi inilah saat-saat paling membahayakan. Bahwa

aku tak bisa lagi berada di dekatmu

Kau tak akan pernah mengerti apa yang kualami saat ini. Bahwa setelah ini kita jangan pernah bertemu lagi. Aku tak bisa menyembunyikan perasaanku lagi. Aku takut kau mencurigaiku. Tapi ternyata kau tak juga mengerti. Kau masih saja menghubungiku, bahkan mengajakku untuk bertemu setelah beberapa kali kutolak. "Aku sibuk" begitulah jawabanku. Pesanmu pun selalu kujawab dengan ketus akhir-akhir ini. Apa kau tau, menyimpan perasaan bukanlah hal yang mudah. Terkadang aku ingin marah padamu, karna kau tak juga mengerti bahwa aku ingin kamu menjauh saja. Alasanku tak pernah marah adalah bukan karna aku tak mau marah, hanya saja aku tak bisa marah denganmu.

Aku mohon mengertilah

Aku tak pernah menyalahkan apa yang telah dititipkan padaku. Kau tau kan, rasa ini bukan sepenuhnya milikku. Pernah sesekali aku menyesalinya, tapi ternyata tak ada gunanya.

Aku pergi

Bukan pergi sebenarnya, hanya menjauh. Aku akan selalu mengawasimu. Aku tak pernah lupa berbincang tentangmu dengan Robbku. Selalu meminta-Nya untuk menyampaikan salam rinduku untukmu. Apa kau pernah mendengarnya? Akan selalu kudoakan kesehatanmu. Baik-baik teman, aku akan kembali menjadi temanmu setelah aku sudah siap menghadapimu.