Jatuh cinta, dua kata yang sudah tak asing lagi di telinga kita. Sering juga dituliskan sebagai status di berbagai media sosial. Tapi apa itu jatuh cinta? Apa jatuh cinta itu sesederhana persepsi orang pada umumnya, kalau jatuh cinta bisa terjadi di saat jumpa pertama? Saya setuju jika dikatakan perihal hati siapa yang bisa menduga. Tapi saya tidak setuju jika jatuh cinta itu pada jumpa pertama.

Saya merasakan perasaan itu setelah berkomunikasi banyak dengan dia. Karena memang saya bukan tipikal perempuan yang gampang baper. Komunikasi itu tidak terbatasi berapa lamanya, jika komunikasi dilakukan 24 jam dalam sehari maka dalam waktu satu minggu perasaan itu ada. Tapi sejauh ini berhubungan dengan seseorang, saya baru memiliki perasaan suka sekali dan benar-benar sayang setelah berkomunikasi selama 3 bulan. Jika komunikasi kurang dari itu maka yang ada hanya rasa tertarik.

Sternberg seorang ahli psikologi mengutarakan bahwa cinta adalah sebuah kisah,  kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Cerita tentang sebuah hubungan, saya telah melewati banyak hubungan dengan seseorang. Pertama kali saya berkomitmen serius sejak duduk di kelas 2 SMA. Hubungan yang terjalin selama dua tahun harus kandas karena orangtuanya tidak suka dengan saya setelah mengetahui asal daerah dari ibu saya.


Saat itu lah saya menemukan patah hati, Jika hati jatuh tidak tepat, saat waktunya habis maka ia akan patah.


Patah hati itu membuat saya merasa tidak ingin lagi memiliki hubungan yang jauh. Takut bila harus patah lagi. Namun siapa yang bisa menahan hati, jika perasaan itu datang dan tak terkendali. Seperti lagunya Titi DJ "walaupun jiwaku pernah terluka. Hingga nyaris bunuh diri. Wanita mana yang sanggup hidup sendiri. Di dunia ini". Setelah satu tahun saya kembali mencoba berhubungan serius lagi dengan seseorang. Namun, Tuhan mengambilnya dengan kepergian abadi. Hingga menemukan saya pada patah hati terdalam. Satu tahun lebih untuk saya bisa kembali memulai sebuah hubungan.

Advertisement

Tahun 2014, saya mencoba kembali, tapi kali ini tanpa ada pernyataan terikat dengan status, setelah berjalan 3 bulan. Namun hasilnya nihil, hubungan itu juga tidak berlanjut. Setelah hari itu saya memahami bahwa tidak ada hubungan yang bisa dipertahankan, sebesar apapun kita menginginkannya jika Tuhan tidak mengatakan "iya" maka apapun itu pasti akan berakhir.

Berkali-kali menemukan luka membuat saya sampai berpikir, yang saya cari hanya bisa hidup bahagia. Tidak pun memiliki pasangan saya bisa mencari kebahagian dengan cara lain. Tahun 2014 saya menjadi perempuan yang merasa tidak butuh laki-laki. Jika Tuhan memang tidak menemukan saya pada pemilik tulang rusuk di dalam tubuh ini, saya siap menjalani hidup tampa seorang laki-laki. Karena hidup tidak hanya sebatas itu. Sejak itu saya hanya menjalani apa yang saya suka. Saya berkomunikasi dengan siapa saja selama ia membuat saya nyaman dan menyenangkan. Saya tidak ingin menikah, jika akhirnya saya juga dibuat patah.

Pemikiran seperti itu membuat saya dimarahi oleh teman-teman saya. Tapi saya tidak peduli. Sampai akhirnya saya berdebat hal itu dengan ke dua orangtua saya. Mereka mengatakan "Kkmu bisa hidup sendiri, tapi coba pikirkan bagaimana kamu melewati hidup sendiri di saat kondisi kamu telah tak mampu lagi sendiri, kamu memerlukan seseorang untuk membantu. Kami hanya orang tua yang kemungkinan besar akan lebih dulu berpulang". Perkataan mereka membuat saya termenung.

Hari itu di Maret tahun 2015. Saya sudah berada di lintasan, bahwa saya akan menikah dengan seseorang yang membawa saya lebih dekat dengan Tuhan, pemilik dari segala bentuk harapan, dan keyakinan terbesar saya tempatkan pada-Nya bukan lagi pada hati manusia yang senang terbawa tiupan angin. Saya hanya akan menjalin hubungan dengan seseorang itu.

Tanpa terduga pada Mei di tahun yang sama saya bertemu dengan seseorang. Ucapannya, tindakannya membuka mata saya bahwa perempuan memiliki hati yang lembut, ia diciptakan untuk mencintai. Perempuan akan menjadi perempuan seutuhnya ketika ia menjadi istri dan ibu. Laki-laki ini mengajarkan bahwa apapun yang kita miliki adalah kepunyaan Tuhan. Saya mengira dia adalah seseorang yang dikirimkan Tuhan untuk menemani saya di kehidupan ini. Saya senang sekali karena apa yang ditunggu telah datang. Apalagi saya pernah ibadah berjamaah dengannya, dia menjadi imam. Itu menjadi point tambahan yang menguatkan saya.

Dia menemani saya melewati masa-masa kritis tapi tiba-tiba di suatu pagi dia menelepon saya dan mengatakan ia tidak ingin berhubungan dengan saya, karena ia tidak mau dituntut apapun oleh saya. Apalagi saya sudah sarjana, dia bilang saya bisa mendapatkan laki-laki yang bisa membahagiakan saya jauh lebih baik darinya.

Setelah satu tahun berjalan yang terjadi tetaplah sama. Semuanya pupus juga, ia mengkhianati komitmen yang sudah kami sepakati dengan mengkambing hitamkan jarak. Atas semua pertemuan yang terjadi satu hal yang saya pahami bahwa saya masih diberikan kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang hidup ini. Saya juga telah menemukan tempat terbaik untuk menaruh harapan. Saya percaya bahwa syair yang saya sampaikan setiap usai bersujud pasti terjawab. Keyakinan saya pada Tuhan akan memberikan kekuatan dalam menunggu.