Jatuh cinta terbaikku, kamulah tokoh utamanya.

Perkenalan kita begitu klasik, sangat sederhana ala remaja sekolah menengah. Kamu menyapa, suka, dan menyatakannya. Ya, hanya begitu saja. Hanya begitu saja, sampai akhirnya ada perasaan yang lain sedang singgah dan berdiam cukup lama.

Cintakah?

Lalu jika ini cinta, bisakah kamu jelaskan pada bagian mana kamu mampu membuatku begitu jatuh kemudian menjadi sangat cinta?

Kemudian kamu menjadi semakin manis. Lelaki polos yang tidak pernah pacaran itu, pada akhirnya merubah dirinya menjadi lelaki paling menawan bagiku. Kamu, lelaki paling menawan yang menyulap segala rasa serba sederhana ini menjadi begitu dalam dan merekah indah. Kamu memperlakukanku demikian baiknya, mencintaiku dengan demikian cintanya, menatapku dengan demikian dalamnya, hingga aku tidak menemukan celah untuk membencimu satu detik pun. Tidak sekalipun.

Advertisement

Kamu tidak mengumbar foto-foto kebersamaan kita di media sosial. Kamu bilang, mengapa orang lain harus tahu kalau kita sedang membangun sebuah kisah bernama cinta? Lantas, kamu mengatakan padaku bahwa mencintaiku tidak harus dengan mengumumkan pada banyak orang. Cukup aku yang tahu, kamu sudah merasa sangat tenang. Dan aku, tenggelam dalam segala hal tentangmu. Ah, mengapa kamu begitu? Mengapa kamu bisa demikian manisnya bersamaku?

Tentang bagaimana aku pernah marah padamu dengan alasan yang tidak bisa kudefinisikan, kamu hanya diam menatapku. Menjelaskan dengan sabarnya mengapa kamu begitu. Aku marah, tak mendengarkanmu. Tak bisa kukendalikan bagaimana meledaknya emosi ini karenamu. Tapi kamu dengan sepenuh tenang mendengarkanku, meski dengan rahang mengeras karena gemas mengapa aku tidak bisa mempercayaimu.

"Maafkan aku, ya? Seharusnya aku tidak melakukannya. Jadi, bisakah kita berbaikan sekarang? Aku merindukanmu. Tersenyumlah, aku rindu senyum itu", katamu saat itu.

Dengan wajahmu yang teduh, kamu memaksakan seulas senyum itu. Hatimu hancur, aku mungkin tahu. Kemudian aku meleleh. Aku tahu, kamu tertekan karenaku. Padahal, caramu mencintaiku nyaris tanpa cela. Kamu lebih dari definisi baik, lebih dari definisi apapun untuk menggambarkan bagaimana lembutnya sikapmu memperlakukan perempuan. Aku menangis, menyadari satu hal yang salah. Seharusnya aku tidak marah dan melontarkan emosi yang meledak-ledak itu pada lelaki sepertimu.

Kupandang wajahmu yang masih lekat menatapku. Kamu tersenyum, aku juga. Kemudian kita saling melempar senyum, kamu mengusap air mataku dan tersenyum menenangkanku. Kita saling mengatakan maaf, kemudian tertawa bersama. Melupakan amarah-amarah yang meronta dan berjalan bersisian di dalam pelukan senja sambil bergandengan tangan. Waktu itu, tahukah kamu? Cintaku perlahan-lahan tumbuh. Lagi, dan terus tumbuh lagi. Cintaku merumpun, membentuk satu inisial namamu. Ya, aku dibuat jatuh cinta olehmu. Sekali lagi, dan berulang kali.

Kupikir karena kita begitu cinta pada satu sama lain, hubungan ini akan tetap seperti biasa. Baik-baik saja tanpa masalah. Kemudian suatu hari, aku tahu. Kita harus berpisah, dengan alasan yang tak pernah kita duga.

Ya, pada akhirnya kita berpisah. Kamu yang tiap harinya tak pernah lupa mengirim pesan singkat, tiba-tiba hilang. Tidak ada lagi pesan-pesan manis tentang bagaimana kamu mencintaiku, apakah aku merindukanmu, atau kapan kita akan keluar bersama menikmati seporsi senja dengan rangkaian canda. Kamu menghilang dan memutuskan semua hubungan. Tak lagi menyapaku, tak lagi menanyakan kabarku, tak lagi menggenggam tanganku, tak lagi menggodaku dan mengatakan bahwa kamu mencintaiku.

Alasannya jelas. Keluarga kita tidak menerima hubungan ini.

Aku patah dalam sebenar-benarnya patah. Kulangitkan tangisan putus asa berhari-hari, menyesali mengapa kamu yang sempat kucintai dengan sedalam-dalamnya rasa. Kamu telah singgah dalam waktu yang lama sepanjang sejarah percintaanku selama ini. Kamu yang paling punya makna, lebih dari istimewa. Betapa kecewa dan terlukanya aku, mungkin kamu merasakannya juga. Kita pernah saling cinta, kemudian saling jatuh dan meninggalkan masing-masing kita, bagian mananya yang kurang jelas?

Kamu mencintaiku dan aku mencintaimu. Tapi kita tahu, tidak ada kuasa atas keluarga yang bisa kita lakukan. Kita hanya sepasang remaja sekolah menengah. Tahu apa tentang cinta dan yang terbaik untuk masa depan kita?

Waktu berlalu. Dan itu terasa lama ketika kamu tidak lagi bersamaku. Jarak semakin membawamu pergi, membawaku larut dalam kepatahhatian yang tak menemukan ujung. Dunia perkuliahan memisahkan kita, membuat garis tak kasat mata bahwa kamu dan aku sudah berbeda. Sudah tidak ada lagi pesan singkat meski hanya sekadar bertukar kabar. Jarak membuat waktu menjadi kejam, atas dasar apa kita tidak lagi saling bertemu meski hanya sekadar berbagi sapa?

Lalu pada suatu hari, aku berhenti.

Berhenti mengharapkan barangkali kamu lelah kemudian kembali. Berhenti mengharapkan apakah suatu hari kamu akan pulang ke rumah yang pernah kamu sebut itu aku. Aku berhenti dalam ketidakrelaan. Menyerah terhadapmu, bukanlah hal yang kupikir bisa semudah itu. Karena kenyataan tentang aku mencintaimu, masih menjadi alasan mengapa sampai saat ini aku tidak berpikir bisa menemukan lelaki sepertimu.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menyibukkan diri untuk sekadar #MemantaskanDiri. Kuikuti segala kajian keagamaan, barangkali kutemukan motivasi untuk melangkah pergi dari bayangan bernama engkau. Kurajinkan ibadahku, barangkali Tuhan sedang rindu akan sujudku, air mataku, dan rengekan-rengekan tentang patah hatiku padamu. Kusibukkan diriku dalam kegiatan apapun dalam studiku, kuikuti organisasi mahasiswa paling sibuk, mungkin saja dengan itu aku bisa melupakan sejenak tentangmu.

Tak pernah mudah. Aku tahu. Kamu bukan musuh untukku. Kamu adalah cinta. Dan cinta, bagaimanapun, akan tetap menjadi cinta bagiku.

Aku bangkit dalam sebenar-benarnya bangkit dari kepatahhatian yang membuatku terpuruk bertahun-tahun. Apalagi saat tahu bahwa kamu terlihat sangat baik-baik saja, aku semakin dibuat rapuh. Kupikir kamu masihlah kamu, kamu yang selalu menjadi dirimu, yang mencintaiku dengan sebaik-baiknya kecintaan. Emosi dan egoku tersulut. Logikaku memaksaku untuk bangkit, cari lelaki yang lebih baik, tinggalkan lelaki bernama engkau dan tetap melangkah melanjutkan hidup. Masa-masa sulit itu membuatku berpikir keras, apakah pada akhirnya kita hanya akan berakhir seperti ini saja?

Aku bangkit dalam sebenar-benarnya bangkit. Tertatih. Kadang menuai ocehan orang-orang di sekitarku yang mengataiku perempuan lemah. Yang tergila-gila pada pesona lelaki yang kata mereka sama saja. Oh, tahukah kamu bagaimana perasaanku setiap saat? Aku tertekan. Aku merasa bodoh dalam segala hal tentangmu. Kata-kata mereka tak sepenuhnya benar, dan tak juga sepenuhnya salah. Pada akhirnya aku merasa kamu sama saja. Bukan lelaki berbeda seperti yang terpatri di otakku.

Sampai saat ini, aku masih tertatih melupakanmu. Tapi kuakui, hatiku mulai menerima. Tentang kamu yang sudah menjaga jarak, aku tak lagi meminta semesta mendekatkan. Tuhan sedang bersamaku sekarang, mengisi kekosongan tempat yang pernah dihuni olehmu. Tuhan sedang menyibukkan diriku untuk berbenah. Ia sedang menepuk bahuku sekarang, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Aku memang tidak mencari lelaki lagi untuk kusebut sebagai kekasih. Aku sedang lelah. Aku ingin sendiri tanpa menyimpan harapan pada lelaki manapun. Aku bangkit, dengan caraku sendiri.

Kini, kembali kusibukkan diri untuk sekadar #MemantaskanDiri. Mencintaimu, pada akhirnya tidak menimbulkan penyesalan apapun untukku. Karena pada akhirnya aku menyadari, caraku mencintaimulah yang salah. Seharusnya tak kubiarkan hatiku menggebu mengikuti nafsuku. Mencintaimu, biarlah menjadi cerita tersendiri bagi hatiku.

Aku bangkit. Terima kasih untuk pernah mencintaiku dengan selembut-lembutnya perlakuan, sebaik-baiknya kecintaan, dan sebenar-benarnya penjagaan.

Tuhan sedang membentangkan jarak atas kita dengan berbagai kemungkinan. Dibersamakan dalam penantian, atau dipisahkan dalam lambaian tangan. Apapun kemungkinan itu, kudoakan yang terbaik dalam kebahagiaanmu.

Selalulah bahagia, karena bagaimanapun kamu pernah menjadi kecintaanku.

Aku pergi, ya? Selamat tinggal. Mungkin suatu hari kamu akan menemukanku sebagai perempuan yang berbeda. Itulah kenapa hari ini aku harus terus berbenah, #MemantaskanDiri untuk menyiapkan pribadi yang lebih baik. Karena suatu hari aku akan dimiliki oleh seseorang yang akan mencintaiku dengan sehebat-hebatnya kecintaan.