Rasanya waktu tak sama sekali memburu, hingga aku lupa seberapa lama terpaku di masa lalu.

Hey, pagi telah gonta-ganti, angka pada kalender tak lagi sama ….

Kamu yang masih sabar pada satu hati, tidak perlu risau. Di luar sana, masih banyak perang yang melibatkan batin sendiri. Tahun boleh berubah, tetapi kamu yang perasaannya selalu padanya, jangan memaksa bertengkar lalu ingkar pada hatimu sendiri. Biarlah awal tahun barumu sesak kenangan lama, asal tak membawa orang lain masuk, padahal kapasitas hatimu belum sanggup menerimanya.

Jangan, jangan melukai seseorang dengan alasan menumpas habis seseorang yang masih singgah di hatimu. Kamu hanya menumpuk luka di atas luka.

Dia, dia, dan selalu dia yang mondar mandir menyita pikir. Rasanya, ingin memberondongi serbuan pertanyaan,

Advertisement

Sudah di penghujung tahun ya?

Bagaimana kabarmu sekarang?

Baik-baik saja kah?

Selepas pertemuan jadi kesulitan bagi kami, sudah ada selainku yang mampu menyentuh gengsimu belum?

Meski dalam keadaan limbung, aku kerap berbisik pada malaikat agar selalu jadi pelindung, Bagi jiwa-jiwa yang rapuh atas perpisahan, berharap diberi pertemuan beserta kesempatan lagi oleh Tuhan. Teruntuk raga yang setibanya malam kerap tak mampu terpejam, terjaga menunggu hari berganti, kemudian orang yang ditungguinya kembali.

Terakhir kali tatap kami bertabrakan, berbanding lurus ketika aku terakhir merasakan jatuh cinta. Ternyata, memaksa lupa padamu enggak pernah semudah mencoba mengganggumu kala hendak berkenalan padamu. Aku kini tahu betul, betapa perempuan sepintar apa pun, kemudian menjadi bodoh sejenak, tepat saat jantungnya berdegup untuk satu nama. Ah, itu kan untuk perempuan pintar, lantas aku yang jauh dari kata pintar, kemudian betul-betul ceroboh di hadapanmu.

Semenjak saat itu, kamu yang kerap salah tingkah menghadapiku. Ya, beginilah cinta. Kerap malu-malu, padahal sama-sama mau. Siklus kehidupan, kebaikan semesta, campur tangan Tuhan mendasari kisah kita. Bertemu, kerap tegur sapa, bersama dalam tempat yang tepat, timbul riak perasaan yang bingung untuk diucapkan, lalu tanpa sadar perpisahan melindas dua anak manusia yang tengah di mabuk asmara.

Katamu sebelum punggungmu serupa bayang, “Semoga sukses ….”

Aku yang belum siap, serta merta ditinggal olehmu dalam sekejap. Jalan menuju masa depan kian terjal tanpamu, mestinya ada seseorang yang mengkhawatirkanku kala bermunculan taburan bintang di langit petang, namun aku masih saja bergelut menuju pulang. Harusnya, kamu tetap di sisi, memberi senyuman dan menyemangati, sebelum aku memulai hari.

Sebenarnya, aku gamang. Antara menginginkanmu, atau sebatas belum mampu melupakan semua-semua yang terlanjur kita lalui dahulu. Heran, kenapa perempuan terlalu mudah jadi makhluk penuh kesetiaan? Bisa-bisanya punya kapasitas sebegitu besar untuk menampung kejadian-kejadian yang sungguh sebetulnya berhak dilupakan agar menjadi pintu bagi cinta yang baru.

Begitulah perempuan, rela hatinya tertawan demi seseorang yang belum tentu menjanjikan kebahagiaan.

Lamat-lamat aku coba mencarimu, membuka media sosialmu, sayang tak sama sekali ada jawaban darimu. Aku salah, akunmu sudah lama tanpa sapaanmu. Tebakanku, kita sama-sama menghindar, agar rindu tak menggebu dan menginginkan pertemuan melulu. Sesekali ku temui jejakmu memberi sebentuk hati pada beberapa foto media sosialku.

Adakah yang lebih penasaran dan menyakitkan, selain sedang jatuh cinta paling curam, kemudian ditinggal pergi dalam diam.

Kepada kamu, yang masih percaya bahwa senja akan tetap jingga. Aku memahami, resiko menunggumu. Kemungkinan besar, sesuatu pun seseorang yang pernah hilang, kemudian kembali datang, tak akan pernah sama lagi.

Tetapi, aku tetap menantimu, tidak pernah satu hari pun ku lewati tanpa merindumu.

Bisa jadi, jarak serupa jembatan yang mesti di seberangi demi bertemu pada sebelah tulang rusuk yang terserak. Mungkin, Tuhan sengaja menggariskan perpisahaan agar sewaktu kita dipertemukan, sudah lebih dewasa dan tak kekanakan memaknai kehidupan.

Salam dariku, perempuan yang punya kepala sekeras batu, yang meyakini bahwa tidak ada masa depan sebelum seseorang menyelesaikan petualangannya di masa lalu.