Kamu..

Mengenalmu secara tidak sengaja, untuk kemudian hanya menganggapmu teman biasa. Lalu semua berjalan layaknya air yang mengalir dan bumi yang berputar, alami, terjadi karena harus terjadi. Aku menyayangimu, terjadi begitu saja. Dan kau pun menyayangiku dengan begitu hebatnya.

Statusku, statusmu tak membuat rasa sayang kita berkurang; malah menguatkannya. Bahkan walau kita memanggil Dia Sang Maha dengan sebutan yang berbeda, itu pun tak sedikit pun membuat langkah kita mundur atau terhenti.

Tak pernah ku rasakan cinta seluar biasa ini. Begitu mencintai dan sangat dicintai, begitu menyayangi dan sangat disayangi.

Aku menyayangimu, sangat; selalu ucapmu.

Dan selalu akan ku jawab: Tuhan tahu besaran cinta dan sayangku untukmu.

Sabar dan kuat ya, Sayang..

Advertisement

Begitu selalu penguatanmu saat langkahku mulai melemah diterpa rasa cemburu pada dia yang mendampingi hidupmu. Itu yang selalu kau ucapkan saat air mata ketidakberdayaan mengalir di pipiku. Ketidakberdayaan karena pada setiap mentari mulai bersinar menggantikan malam, kenyataan selalu saja datang menerpaku: kau begitu sulit untuk ku miliki. Dan aku begitu sulit untuk kau rengkuh.

Kadang hanya bisa melarikan diri ke sudut pantai, berteriak memanggil namamu di tengah debur ombak; hanya untuk menguatkanku lagi.

Tak bisa ku tahan bulir air mataku setiap kau ucapkan rindu dengan penuh sendu.

Tak bisa ku tahan isakku bila kau mulai menyakiti dirimu sendiri; saat kau merasa tidak sanggup dengan begitu banyaknya dinding penghalang di antara cinta kita.

Sepertinya benar katamu, kita hanya perlu bersabar dan saling menguatkan. Tidak ada yang salah dengan rasa cinta kita!

Pada waktunya mungkin akan bisa kau hadiahi aku gaun cantik berpita putih untuk ku kekanakan saat kau sematkan lingkaran indah di jari manisku.

Bersabarlah hatiku, dan hatimu, mungkin pada waktunya Tuhan akan berbaik hati mempersatukan.