Tak perlu banyak menunggu. Di pertemuan pertama kita, aku sudah yakin bahwa hati ini telah memilih kamu. Aku berharap, begitu juga denganmu. Kamu yang sebelumnya pernah memilih tapi disakiti dan aku yang pada hati sebelumnya pernah begitu percaya kemudian dikhianat. Semoga kita bisa saling melengkapi.

Sekalipun tawamu seakan ingin mempertegas pengakuan rasa bahagia, tapi tahukah kamu? Aku bisa merasakan pilumu saat mata kita saling bertemu. Sesekali tatapan sendumu menggetarkan ruang di hatiku. Jujur kuakui, aku ingin tetap di sini, berada dekatmu dan memastikan semuanya baik-baik saja.

Memang tak mudah untuk menarik, walau sedikit saja, perhatianmu. Tapi bukankah usaha dan doa berkemungkinan untuk berbanding lurus dengan hasilnya? Kumohon jangan terlalu keras menutup hati. Aku hanya ingin masuk dan coba membenahi.

Kulihat ada beberapa luka menganga di sana. Dan cerita kenangan yang dapat dengan jelas terbaca. Aku tak akan memaksamu membuang itu semua. Karena bagiku, pengalaman buruk itulah yang membuatmu bisa menawan bahkan saat di awal kita saling sapa. Tapi untuk lukanya, bolehkah aku coba mengobati dan berusaha menyeimbangkan semua yang terlanjur acak-acakan?

Tak perlu buru-buru berkata tidak. Percayalah, pada hatiku kamu akan temukan apa itu cinta. Aku memang tak sempurna, tapi kupastikan padamu gadis yang biasa saja ini pasti bisa membuatmu bahagia. Dan ku mohon jangan banyak tanya, aku mencintaimu dari kaki sampai ujung kepala.

Advertisement

Meski tak bisa berjanji selamanya bisa bersama, tapi selagi cerita ini masih tentang kita, selama itu juga aku akan bersedia jadi tempatmu pulang dan berteduh, saat perjalanan hidup tak melulu seperti yang kamu mau. Dalam pelukku, kamu akan tahu seperti apa itu nyaman dan kecocokan.

Jangan menghalauku. Aku hanya ingin menemanimu duduk bersama. Meski tak ada satupun kata yang terucap mewakili rasa. Sungguh! Aku hanya benar-benar ingin di sini. Bukankah menakutkan harus menghadapi pilu sendirian? Tak perlu ragu, bersandar di pundak kemudian bercerita tentang rapuhnya kamu saat jatuh dalam keterpurukan, tidak serta merta membuatmu tampak lemah. Aku benar-benar mengerti, kamu hanya manusia biasa.

Jangan juga kamu terlalu menyalahkan keadaan atau mempersalahkan mereka yang pergi sekalipun tanpa pamit yang sopan. Percaya saja, bahwa yang tak layak bersatu, pasti akan tetap dipisahkan Tuhan dengan cara yang kadang memang terasa kurang nyaman.

Bila kini waktu mempertemukan, aku yakin ini bukan karena kebetulan. Pasti ada rencana luar biasa di balik semua coretan pena Tuhan dalam hidup kita. Tetaplah di tempatmu. Aku tak ingin mengganggu. Hanya berusaha melengkapi, mungkin saja memang tulang rusukmulah yang dulu telah dipilih Sang Pencipta agar aku menemanimu menua bersama.

Jangan gusar, aku akan tetap sabar. Aku yakin jodoh tak akan pernah tertukar. Bila memang kelak kita hanya diijinkan untuk saling singgah. Darimu, aku banyak belajar tentang tabah. Tak perlu gelisah, cinta memang tak perlu tergesa-gesa. Entah kita akan jadi yang merasa beruntung karena saling menemukan atau yang nantinya akan mati-matian berusaha saling melupakan. Sungguh, perkara tentang nanti biar tetap jadi rahasia Tuhan

Jika waktu ini diberikan bagi kita, apa salahnya kalau kita sama-sama melepas tawa? Tak ada jaminan memang kamu dan aku akan selamanya bahagia bersama. Tapi kalau hari ini masih milik kita, bukankah tak ada yang lebih indah selain bisa sama-sama menulis cerita? Percaya sajalah, Sayang! Bila memang kita lahir untuk bersama, semesta juga tak akan bisa berbuat apa-apa.

Dari aku,

gadis yang mencintai segalamu.