Mentari terbit dan tenggelam silih berganti menciptakan senja. Menjadikan siang dan malam yang seringkali ditangisi oleh anak-anak adam. Kadangkala harapan membumbung tinggi dan seringkali hilang di setiap perputaran waktu. Ada cerita berupa duka dan nestapa. Ada derai air mata yang bertengger di ambang senja. Disaat malam mulai menutup cerita. Kristal bening jatuh berderai seiring puing-puing kenangan yang berserakan dimasa depan. Mengikis asa yang kian tergerus waktu. Tergerus oleh narasi kehidupan yang "mungkin" salah. Lalu ? Berjuta pertanyaan tanpa jawaban seolah bertengger di ujung lamunan menatap mentari yang tak setia kepada siang.

Kian temeram, kian kelam. Tetapi rembulan seakan tak ingin membiarkanmu sendirian. Bintang seolah menatap sendu di riak wajah yang kaku. Percuma saja rembulan tak bulat, hanya seperempat. Ah tak sempurna. Bukankah kesempurnaan itu tidak pernah ada? tetapi mengapa anak-anak adam menganggapnya ada dan selalu mencarinya?

Hanya perlu tersenyum untuk menyembunyikan kerut kesedihan. Hanya perlu pura-pura bahagia. Sederhana. Bukankah anak-anak adam sekarang ini pandai berpura-pura? Ah aku benar-benar lupa bagaimana cara tersenyum yang mudah apalagi senyum yang indah.

Dingin. Angin berempus begitu keras tetapi tak bisa menghempaskan duka ke dasar lantai. Bisakah kau "angin" sedikit saja mengusai masaikan kenangan? Ah, aku rasa tidak. Karena kau tercipta hanya untuk membelai sampul kenangan. Lembaran – lembaran itu memuaikan huruf – huruf yang tersusun rapi di depan kelopak mata. Ah malam, peluk aku dalam sedu sedan cerita usang. Semesta terlalu pandai memadu cerita membuat sekeping hati yang kian menua.