Saat ini aku sedang termenung mengingat seseorang yang telah kembali ke masanya yang cerah, dia adalah Morris.

Saat ini aku berada di daerah terpencil di suatu desa di Samosir, dua bulan ini aku dapat tugas PKL dari kampus di tempat tersebut, tempatnya panas sekali di kala siang dan dingin sekali di kala malam, jauh dari kota bahkan air pun sulit diraih, tetapi aku sangat berbahagia di tempat yang serba kekurangan ini. Tiba-tiba khayalku terbang tinggi, mengingat masa kecil dan remajaku. Aku adalah anak ke-6 dari 8 bersaudara, dari kecil aku sudah menikmati apa itu rokok, bandar judi bahkan Narkoba.

Setiap uang yang ku dapat adalah dari kejahatan. Ketika aku SD aku sudah berteman dengan para pengangguran dan semua teman sebayaku pun seperti itu. Aku pernah tinggal kelas ketika SD dan nyaris tidak lulus waktu SMP dan tidak melanjut ke SMA. Tetapi karena Ayahku, aku akhirnya lulus dan melanjut ke SMA. Ya, dia adalah ayah yang baik, yang selalu menyayangiku. Ketika aku hilang dan tidak pulang ke rumah, dia mencariku dan membawa aku pulang. Ketika aku dipenjara karena kebandalanku, ia menebusku.

Sosok ayah yang begitu pengasih, tetapi aku sudah kehilangan dia selama 5 tahun yang lalu. Mengapa? Mengapa mesti dia yang begitu baik dan mengasihiku pergi meninggalkanku? Saat aku tahu itu, aku hanya bisa menjerit, seharusnya aku yang layak mati. Seraya aku menangis aku mengingat saat-saat dulu, aku dan teman-teman pernah merampok dan menelanjangi orang di sawit, aku mengisap ganja mulai dari kecil, aku menikmati sabu-sabu, kelahi bahkan pernah menjual diriku dengan waria.

Tetapi ketika aku sakit akibat narkoba dan kehilangan ayahku, di situlah aku sadar bahwa aku adalah manusia yang penuh cela. Sakit yang kurasakan bukan hanya jasmaniku, tetapi juga batin dan jiwaku. Aku pernah keteguran, kerasukan bahkan seperti ditakut-takuti dan dikejar-kejar roh-roh jahat. Namun, itu adalah masa laluku, kini aku telah meraih pagiku kembali.

Advertisement

Aku yang dulu begitu hancur dan merasa tak ada satu pun yang menyayangi dan memperhatikanku, kini aku telah mendapatkannya kembali, melalui seorang wanita yang hidupnya berbandung terbalik dengan hidupku. Ia selalu sabar dam begitu mengasihiku, kadang aku terjatuh dan terpuruk tetapi dia selalu mengangkatku. Berapa kali aku bermasalah dan kabur dari asrama, tetapi dia mencariku sampai malam, di daerah yang begitu sepi ini dan begitu dingin. Hal ini mengingatkanku pada ayahku dan aku begitu mengasihinya.

Aku tidak ingin kehilangan dia seperti kehilangan ayahku. Tetapi yang menjadi pertanyaanku, mengapa dia begitu menyayangiku, padahal aku dan dia begitu berbanding terbalik bahkan masa laluku semua juga telah ku ceritakan padanya. Awalnya aku takut menceritakannya karena aku takut kehilangannya. Namun ia ingin aku jujur, kejujuran itu pun ku ungkapankan, sebenarnya aku sudah was-was. Tetapi ia malah menangis dan tetap mencintaiku. Hal yang terhebat adalah aku bisa mengejar kembali pagiku dengan orang yang benar-benar mengasihiku.

Mari belajar untuk bersyukur… Selamat Moriss, pagimu telah kembali….