“Aku mau main malam!” Bentakku, marah saat aku tidak diizinkan untuk main malam seperti mereka semua. “Tapi dunia malam itu tidak semenyenangkan yang kamu pikir, tidurlah!” Balas papaku seketika kemudian meninggalkanku dalam keadaan kesal.

Percakapan tersebut terjadi saat usiaku belum genap 17 tahun. Aku adalah anak pertama dari dua saudara. Aku benar-benar memiliki peraturan yang begitu kuat di rumah ini. Aku lahir di tengah keluarga sederhana. Aku sering menginginkan bebas seperti anak remaja lainnya. Aku ingin seperti itu karena aku belum paham kenapa Papa dan Mama sebegitu menjagaku. Aku belum paham sekejam itu dunia di luar sana.

Aku kini sudah duduk di bangku kuliah semester pertama. Aku paham sekarang kenapa papa begitu keras kepadaku. Aku pernah merasakan jatuh cinta dengan seorang laki-laki di luar sana. Tetapi laki-laki itu meninggalkan aku dan membuatku bersedih. Bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Saat aku duduk di bangku SMA dan aku pulang ke rumah setelah seharian sekolah di sana ada laki-laki yang dari kecil tak pernah meninggalkan aku, ternyata tak ada laki-laki yang bisa mengalahkan cintanya kepadaku. Kemarin, laki-laki itu juga yang mengantarku hingga sampai Yogya. Begitu kuat perjuangannya hingga aku bisa merasakan dunia perkuliahan, padahal aku tahu, untuk keseharian kita saja sekadar ‘cukup’.

Bagaimana aku tak mencintainya setelah mengetahu ini semua? Laki-laki yang kupanggil papa saat ini usianya sudah semakin menua tetapi masih bersemangat membiayai pendidikanku dan adikku. Saat papa sedih atau lelah, papa tak pernah menunjukkannya. Entah hatinya terbuat dari apa hingga setegar itu menghadapi dunia yang sekejam ini. Saat aku mendengar ada yang melakukan tidak adil ke Papa aku pun marah, karena yang sakit hatinya bukan hanya Papa. Aku pun merasakannya. Mungkin Papa hanya diam saat menghadapi ketidakadilan itu. Tapi aku, aku selalu mengoceh tentang sebuah keadilan di kamarku sendiri, sumpah serapah keluar begitu saja dari mulutku. Aku sangat marah melebihi kecewa dan marahnya papa yang sudah diperlakukan seperti itu. Saat ada yang meremehkan keluargaku, ku yakin papa merasakan amat sangat tertekan. Tapi percayalah aku akan membuktikan ke mereka, pa. Aku buktikan mereka akan menyesal telah memperlakukan kita sekejam ini.

Pah, anakmu kini sudah semakin dewasa, baik-baik ya pa di sana, sehat selalu. Lihat aku wisuda nanti ya, pa. Bersama mama dan adik juga. Aku buktikan mah, pah, ada gelar sarjana yang akan membuat mereka menyesal. Akan kubuktikan ke mereka ini semua tak melulu karena materi, tetapi ini semua karena cinta yang suci dari perjuangan dan keringat papa serta doa dari Mama. Pantas saja semua anak gadis selalu menganggap papanya cinta pertamanya, karena papalah sosok laki-laki yang sangat tulus memperjuangkan kebahagiaan untuk anak gadisnya. Hingga suatu hari ada seorang laki-laki yang diizinkan olehmu untuk mengambilku. Tapi itu takkan mengurasi rasa cinta dan sayangku ke papa. Kupastikan itu, pa.

Advertisement

“Terangnya hidup di dunia karena sinar kasihmu Papa. Biar duka menyelimuti kita kau selalu hadirkan bahagia. Apapun keadaan mu bagiku kau bagaikan raja. Pelindungku dari semua badai, siang malam kau hangatkan aku. Bila Tuhan izinkan aku bicara ku bersaksi tak akan pernah menyesal, punya dia yang terhebat hanyalah dia. Bila Tuhan izinkan aku meminta, hanya ada satu pintaku yang suci, ku bernafpas hanya untuk dia bahagia. Oh Papa” -Papa by Kikiegeten

Miss you, Pah.